Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Capek Jadi Anak Pertama yang Harus Kuat Terus, Diam-diam Juga Lelah

Capek Jadi Anak Pertama yang Harus Kuat Terus, Diam-diam Juga Lelah
Ilustrasi kakak beradik (pexels.com/olia danilevich)
Intinya Sih
  • Anak pertama sering mengalami parentification, yaitu kondisi ketika mereka harus berperan seperti orangtua sejak kecil sehingga kehilangan masa kanak-kanak dan menanggung tekanan emosional lebih awal.
  • Tuntutan untuk selalu kuat dan menjadi panutan membuat banyak anak sulung tumbuh dengan rasa takut gagal, sulit menolak permintaan, serta cenderung menjadi people pleaser tanpa sadar.
  • Saat dewasa, anak pertama kerap menjadi tulang punggung keluarga hingga masuk dalam generasi sandwich, memikul tanggung jawab finansial dan emosional yang berat sehingga rentan stres dan kelelahan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Menjadi anak pertama sering kali terasa seperti mendapat ‘jabatan’ tanpa pernah mendaftar. Dari kecil sudah dibiasakan mengalah, menjaga adik, membantu orangtua, sampai menjadi contoh yang baik. Ketika dewasa, bebannya sering bertambah: membantu biaya keluarga, menahan ego sendiri, dan merasa harus kuat meski terkadang juga lelah.

Di tengah budaya keluarga yang sangat menjunjung tanggung jawab anak kepada orangtua, banyak anak sulung akhirnya tumbuh menjadi generasi sandwich. Mereka bukan hanya memikirkan hidup sendiri, tetapi juga masa depan keluarga.

1. Anak pertama sering 'tumbuh lebih cepat' dari umurnya

Ilustrasi kakak beradik saling memandang (freepik.com/teksomolika)
Ilustrasi kakak beradik saling memandang (freepik.com/teksomolika)

Dalam banyak keluarga, anak pertama sering mendapat tanggung jawab lebih besar dibanding adik-adiknya. Mereka diminta membantu menjaga rumah, mengurus adik, bahkan menjadi penengah ketika orangtua bertengkar. Tanpa sadar, mereka belajar menjadi 'dewasa' lebih cepat dari usia seharusnya.

Fenomena ini dikenal sebagai parentification, yaitu kondisi ketika anak menjalankan peran seperti orangtua di dalam keluarga. Anak yang mengalami kondisi ini sering 'dipaksa tumbuh dewasa' sebelum waktunya dan mengesampingkan kebutuhan emosionalnya sendiri.

"Parentification terjadi ketika seorang anak mengambil alih perawatan emosional atau fisik orangtuanya. Anak-anak yang memberikan dukungan emosional, melakukan tugas-tugas orang dewasa. Hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan hilangnya masa kanak-kanak bagi anak," jelas Very Well Mind yang telah ditinjau psikolog berlisensi Rachel Goldman, PhD FTOS,.

2. “Kamu kan kakak” adalah kalimat yang diam-diam bisa menjadi beban

Ilustrasi kakak beradik (pexels.com/Jessica West)
Ilustrasi kakak beradik (pexels.com/Jessica West)

Banyak anak pertama tumbuh dengan kalimat seperti, “Kamu kan kakak, harus ngalah,” atau “Jangan bikin orangtua susah.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika diulang terus-menerus sejak kecil, bisa membentuk keyakinan bahwa kebutuhan diri sendiri tidak sepenting orang lain.

Anak sulung sering merasa takut gagal karena terbiasa diberi tanggung jawab besar sejak kecil. Mereka akhirnya merasa tidak boleh terlihat lemah dan terus memendam tekanan emosional. Bahkan mereka bisa merasa cemas hingga stres.

"Jika orangtua terlalu bergantung pada anak mereka untuk memenuhi kebutuhan, anak tersebut mungkin menunjukkan tanda-tanda seperti keraguan diri, keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain, kesulitan dalam menegaskan diri, rasa bersalah dan depresi, stres dan kecemasan, kesulitan di sekolah, kehilangan masa kanak-kanak," jelas psikolog klinis dan Profesor di Universitas Yeshiva Sabrina Romanoff, PsyD, dalam Very Well Mind.

"Dalam hubungan orangtua-anak yang sehat, orangtua memberikan dukungan nyata dan emosional kepada anak mereka," lanjutnya.

3. Saat anak pertama menjadi tulang punggung keluarga

ilustrasi bekerja (pexels.com/LinkedIn Sales Navigator)
ilustrasi bekerja (pexels.com/LinkedIn Sales Navigator)

Beban anak pertama sering tidak berhenti ketika mereka mulai bekerja. Banyak yang akhirnya ikut membiayai sekolah adik, membantu cicilan rumah, membayar kebutuhan orangtua, sampai menunda mimpi pribadi demi keluarga. Di sinilah, banyak anak sulung masuk dalam posisi sandwich generation.

Menurut survei American Psychological Association (APA), para ibu dalam generasi sandwich, usia 35-54 tahun, merasakan lebih banyak stres daripada kelompok usia lainnya. Mereka menyeimbangkan tuntutan dan tugas-tugas rumit dalam merawat anak-anak yang sedang tumbuh dan orangtua mereka yang semakin tua.

“Tidak mengherankan jika begitu banyak orang dalam kelompok usia tersebut, mengalami stres. Kekhawatiran akan kesehatan orangtua dan kesejahteraan anak-anak serta kekhawatiran finansial untuk membiayai pendidikan anak-anak di perguruan tinggi dan menabung untuk masa pensiun kamu sendiri, adalah beban yang berat untuk ditanggung,” psikolog Katherine Nordal, PhD, menambahkan.

4. Anak sulung sering jadi people pleaser tanpa sadar

ilustrasi kakak beradik (pexels.com/Yogendra Singh)
ilustrasi kakak beradik (pexels.com/Yogendra Singh)

Karena terbiasa menjaga perasaan keluarga, banyak anak pertama tumbuh menjadi people pleaser. Mereka sulit menolak permintaan orang lain, takut mengecewakan keluarga, dan merasa bersalah jika memilih diri sendiri.

Anak sulung sering memiliki empati tinggi dan selalu ingin membantu orang lain atau disebut eldest daughter syndrome. Namun jika tidak memiliki batasan yang sehat, mereka bisa terus mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain.

"Eldest daughter syndrome sering merasa tertekan untuk memikul tanggung jawab tambahan karena peran mereka dalam keluarga. Hal ini telah terbukti memiliki dampak pada perkembangan perilaku dan kepribadian," kata Michele Leno, Ph.D., psikolog berlisensi dikutip dari Psychology Today.

Dalam banyak kasus, anak pertama akhirnya kesulitan mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Mereka terlalu lama fokus menjadi orang kuat sampai lupa bahwa dirinya juga butuh ditenangkan, didengar, dan dibantu. Akibatnya, banyak anak sulung yang tampak mandiri di luar, tetapi sebenarnya kelelahan secara emosional.

5. Kenapa anak pertama sulit minta tolong?

Ilustrasi kakak beradik (pexels.com/olia danilevich)
Ilustrasi kakak beradik (pexels.com/olia danilevich)

Salah satu hal yang paling sering dirasakan anak pertama adalah sulit meminta bantuan. Mereka terbiasa menjadi tempat bersandar orang lain sehingga merasa aneh ketika harus bergantung pada orang lain.

Anak sulung sering tumbuh dengan harapan tinggi dan keyakinan bahwa mereka harus selalu bisa sendiri. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa membuat mereka merasa kesepian dan tertekan.

“Saya mendefinisikan oldest child syndrome sebagai tekanan yang dirasakan oleh anak tertua untuk memenuhi harapan tinggi yang dibebankan kepadanya, serta stres karena merasa harus menjadi panutan yang sempurna bagi saudara-saudaranya yang lain,” kata Nicholette Leanza, LPCC-S, konselor dan terapis klinis profesional dikutip dari Very Well Mind.

Padahal, terus-menerus memendam tekanan bisa berdampak pada kesehatan mental. Sandwich generation menunjukkan bahwa tekanan jangka panjang dapat memicu stres kronis dan kelelahan emosional, terutama ketika seseorang merasa harus menanggung semuanya sendirian.

 

Banyak anak pertama tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat adalah kewajiban. Mereka belajar memendam sedih, mengalah lebih dulu, dan terus berjalan meski lelah. Anak pertama juga berhak punya mimpi, istirahat, dan meminta tolong.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari

Related Articles

See More