Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Gen Z Lawan Kesepian lewat Tren Community-Maxxing

5 Cara Gen Z Lawan Kesepian lewat Tren Community-Maxxing
ilustrasi kumpul bareng teman, anak muda, Gen Z, hangout (magnific.com/magnific)
  • Tren community-maxxing mendorong Gen Z melawan kesepian dengan membangun koneksi langsung melalui komunitas dan aktivitas bersama, bukan hanya interaksi di media sosial.
  • Bergabung dalam klub sesuai minat, mencoba hobi kolektif, serta mengurangi doomscrolling dapat menciptakan pertemuan rutin yang membuat hubungan berkembang lebih alami.
  • Keterlibatan di lingkungan, kegiatan relawan, dan interaksi lintas usia membangun rasa memiliki; konsistensi kehadiran dinilai lebih penting daripada mengejar pertemanan intens.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu mungkin pernah merasa punya banyak teman di media sosial, tapi tetap kesepian ketika sedang sendirian di dunia nyata. Kebiasaan menghabiskan waktu dengan scrolling juga gak selalu membuat kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain benar-benar terpenuhi. Karena itu, muncul tren community-maxxing yang mendorong Gen Z untuk kembali mencari koneksi secara langsung di lingkungan sekitar.

Sederhananya, kamu diajak untuk lebih sering bertemu orang, melakukan aktivitas bersama, dan membangun rasa memiliki terhadap komunitas tempat kamu berada. Lantas, apa sebenarnya community-maxxing dan bagaimana tren ini bisa membantumu melawan kesepian?

  1. 1. Gabung komunitas sesuai minat

    ilustrasi hiking
    ilustrasi hiking (pexels.com/Nans 82)

    Community-maxxing pada dasarnya adalah usaha untuk membangun koneksi dengan orang-orang di sekitar melalui minat atau aktivitas yang sama. Menurut VICE, bentuknya bisa berupa bergabung dengan klub buku, kelompok hiking, komunitas merajut, atau berbagai aktivitas lain yang memungkinkan kamu bertemu orang secara langsung. Jadi, kamu gak perlu punya alasan yang terlalu rumit untuk mulai bersosialisasi. Cukup cari kegiatan yang memang kamu sukai dan temukan orang lain yang punya ketertarikan serupa.

    Hobi yang selama ini dianggap kuno juga ternyata bisa menjadi jalan untuk bertemu orang baru, lho. VICE mencatat bahwa aktivitas seperti merajut dan merenda kini kembali diminati orang-orang berusia 20-an dan 30-an, sementara membaca juga bisa menjadi kegiatan yang dilakukan lintas usia. Kalau kamu suka aktivitas yang lebih santai, kamu bisa mencoba klub buku atau kelompok kerajinan. Dengan begitu, kamu gak harus memaksakan diri mencari teman lewat situasi yang terasa canggung.

  2. 2. Kurangi doomscrolling dan cari interaksi langsung

    ilustrasi kumpul bareng teman
    ilustrasi kumpul bareng teman (magnific.com/lookstudio)

    Salah satu alasan community-maxxing terasa relevan adalah karena kamu bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda dari sekadar berinteraksi lewat layar. VICE menggambarkan tren ini sebagai respons terhadap kebiasaan terlalu lama berada di dunia online dan mencari kesenangan serta dukungan dari media sosial. Padahal, koneksi dengan orang lain juga membutuhkan kehadiran secara langsung dan kesempatan untuk benar-benar menghabiskan waktu bersama. Karena itu, meletakkan ponsel dan keluar rumah bisa menjadi langkah sederhana untuk membangun hubungan sosial.

    Kamu tidak harus langsung mengikuti acara besar atau datang ke tempat yang penuh orang. Menurut terapis Stephanie Lewis, seperti dilansir VICE, lebih baik membangun konsistensi terlebih dahulu sebelum mengejar hubungan yang intens. Artinya, kamu bisa rutin datang ke satu komunitas, ikut ngopi setelah kelas, menghadiri kegiatan sukarela, atau berjalan-jalan di lingkungan sekitar. Semakin sering kamu muncul di tempat yang sama, semakin besar peluang orang lain mengenalmu dan hubungan pun bisa terbentuk secara alami.

  3. 3. Coba hobi yang bikin kamu berkumpul

    ilustrasi baking bareng teman
    ilustrasi baking bareng teman (magnific.com/pressfoto)

    Kamu mungkin mengira community-maxxing harus selalu dilakukan dengan mengikuti komunitas formal. Padahal, aktivitas sederhana, seperti membuat kerajinan, membaca, memanggang kue, atau membuat sesuatu bersama, juga bisa menjadi awal yang bagus, lho.

    Tren grandma hobbies menunjukkan bahwa aktivitas yang nyaman dan sederhana justru kembali menarik perhatian anak muda. Selain mengisi waktu, hobi tersebut bisa menjadi alasan untuk mengajak orang lain melakukan sesuatu bersama.

    Misalnya, daripada merajut sendirian di kamar, kamu bisa mencari kelas merajut atau kelompok yang rutin berkumpul. Kalau kamu suka membaca, kamu bisa mengajak beberapa orang untuk membuat klub buku kecil dan bertemu secara berkala. Polanya sederhana, yaitu aktivitas menjadi alasan untuk berkumpul, lalu pertemuan yang berulang memberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain. Jadi, kamu gak perlu menjadi orang paling supel untuk punya koneksi sosial.

  4. 4. Aktif di lingkungan tempat kamu tinggal

    ilustrasi aktivitas outdoor, kumpul bareng, tetangga, komunitas, bersepeda, keluarga
    ilustrasi aktivitas outdoor, kumpul bareng, tetangga, komunitas, bersepeda, keluarga (magnific.com/magnific)

    Community-maxxing gak selalu berarti mencari teman baru yang berusia sama atau memiliki gaya hidup sama denganmu, lho. Intinya justru lebih luas, yaitu membangun rasa bahwa kamu merupakan bagian dari lingkungan tempat tinggalmu. Salah satu contohnya bisa dilakukan dengan menjadi relawan, mengikuti kegiatan lokal, berjalan-jalan bersama tetangga, atau sekadar rutin hadir dalam acara di sekitar tempat tinggal. Menurut Lewis, aktivitas yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menciptakan rasa familier, rasa yang dapat diandalkan, dan rasa terbuka secara emosional.

    Contoh lainnya terlihat dari berkembangnya komunitas berbasis aktivitas sehari-hari, termasuk repair cafe. Dalam laporan The Guardian, tempat-tempat seperti ini mempertemukan orang yang ingin memperbaiki barang dengan orang yang memiliki keterampilan untuk membantu memperbaikinya. Salah satu tempat yang diberitakan bahkan mempertemukan relawan muda dengan relawan yang sudah pensiun untuk memperbaiki berbagai peralatan rumah tangga. Aktivitas seperti ini menunjukkan bahwa interaksi sosial bisa muncul secara natural ketika kamu melakukan sesuatu yang bermanfaat bersama orang lain.

  5. 5. Terbuka dengan orang yang berbeda

    ilustrasi aktivitas outdoor
    ilustrasi aktivitas outdoor (magnific.com/magnific)

    Bagian penting dari community-maxxing adalah memberi kesempatan kepada orang lain untuk masuk ke lingkaran sosialmu. Kamu tidak harus selalu mencari orang yang memiliki umur, pekerjaan, atau latar belakang yang sama. Justru, komunitas bisa terasa lebih bermakna ketika kamu berinteraksi dengan orang yang berbeda dan belajar dari pengalaman mereka.

    Hal ini terlihat dalam komunitas lintas generasi di Belong Chester, Inggris. Tempat tersebut menggabungkan penghuni lansia dengan anak-anak dari sebuah taman kanak-kanak, sehingga mereka dapat berinteraksi setiap hari. Salah satu penghuni bahkan merasa memiliki lebih banyak teman setelah tinggal di komunitas tersebut, sementara anak-anak juga mendapat kesempatan belajar dari orang yang berbeda usia.

    Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa koneksi sosial gak harus selalu berbentuk persahabatan dekat. Kamu bisa mendapatkan rasa memiliki dari obrolan rutin, kegiatan bersama, atau sekadar mengenal orang-orang yang sering kamu temui. Bahkan menurut Lewis, hubungan dalam komunitas terbentuk melalui familiaritas, konsistensi, dan ketersediaan emosional yang dibangun lewat interaksi berulang. Jadi, jangan terlalu fokus mencari banyak teman sekaligus, ya, tapi coba hadir secara rutin dan beri kesempatan hubungan berkembang dengan sendirinya.

    Pada akhirnya, community-maxxing bukan berarti kamu harus berhenti menikmati waktu sendirian. Tren ini lebih mengajak kamu untuk menyeimbangkan waktu sendiri dengan interaksi sosial yang terjadi secara langsung. Kamu bisa memulainya dari hal kecil, seperti bergabung dengan klub buku, mencoba hobi baru, ikut kegiatan lingkungan, atau sekadar menyapa orang yang sering kamu temui.

    Hal terpenting, jangan merasa harus langsung punya banyak teman setelah mencoba community-maxxing. Menurut Lewis, konsistensi justru lebih penting daripada mengejar hubungan yang langsung intens. Dengan rutin hadir di tempat dan aktivitas yang sama, orang akan mulai mengenalmu dan kamu pun perlahan punya lingkungan yang terasa lebih akrab. Jadi, kalau selama ini kamu merasa terlalu lama doomscrolling, mungkin sekarang waktunya untuk keluar sebentar dan menemukan komunitasmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More