“Saya menggunakan aplikasi rutinitas (Routinery) untuk membantu mendorong saya berpindah dari satu tugas ke tugas berikutnya setiap pagi dan malam. Tujuannya sederhana, yaitu agar saya tetap sadar bahwa waktu terus berjalan,” jelas Adva Shaviv, PhD, adalah seorang PhD filsafat dan penulis, dikutip dari Verywell Mind.
7 Cara Memanfaatkan Time Personalities agar Hidup Lebih Teratur

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam memandang waktu. Ada yang merasa waktu selalu kurang, ada yang terlalu santai, dan ada pula yang cemas jika jadwal sedikit saja berubah. Perbedaan ini dikenal sebagai time personalities atau kepribadian waktu.
Masalahnya, banyak orang mencoba mengatur hidup dengan cara yang tidak sesuai dengan kecenderungan alaminya. Akibatnya, mudah merasa kewalahan, merasa bersalah, atau justru terus-menerus terlambat. Padahal, saat kamu memahami kepribadian waktumu, hidup bisa terasa jauh lebih teratur dan ringan. Yuk simak cara memanfaatkan time personalities berikut ini!
1. Kenali apakah kamu monokronik atau polikronik

Orang dengan kecenderungan monokronik biasanya memandang waktu secara runtut, teratur, dan sangat menghargai ketepatan. Sebaliknya, orang polikronik lebih lentur, terbiasa melakukan beberapa hal sekaligus, dan sering menempatkan hubungan di atas jadwal yang kaku. Memahami kecenderungan ini membantumu menentukan cara mengatur waktu yang lebih realistis dan sesuai diri sendiri.
Dawna Ballard, seorang peneliti, dikutip dari CBC, menggambarkan perbedaan ini melalui ilustrasi yang sederhana. Bayangkan kamu sedang dalam percakapan yang sangat bermakna, tetapi kamu memiliki janji dokter setelahnya. Jika kamu bisa dengan mudah pergi, kemungkinan kamu monokronik. Jika tidak, kemungkinan kamu polikronik.
2. Gunakan aplikasi untuk membantu ritme waktu

Bagi kamu yang sering tidak sadar waktu berlalu, mengandalkan ingatan saja bukanlah solusi yang efektif. Aplikasi rutinitas dan pengingat bisa menjadi alat bantu yang sangat membantu untuk menjaga alur kegiatan tetap berjalan. Cara ini membuatmu tidak perlu terus-menerus mengingat apa yang harus dilakukan berikutnya.
3. Tambahkan waktu persiapan sebelum agenda

Jika kamu sering merasa sudah bersiap tepat waktu tetapi tetap terlambat, kemungkinan kamu meremehkan waktu persiapan. Menambahkan 30–60 menit sebelum jadwal penting bisa menjadi ruang aman agar tidak terburu-buru. Cara ini sangat membantu bagi time optimist yang cenderung terlalu yakin semua bisa selesai cepat.
Namun, tambahan waktu ini tetap perlu dikontrol. Terlalu banyak waktu luang justru bisa membuatmu terdistraksi oleh hal lain dan kembali kehilangan waktu.
4. Sisipkan waktu fleksibel dalam jadwal

Menyisipkan waktu fleksibel dalam jadwal membantu kamu bernapas di tengah rutinitas yang padat. Kamu tidak perlu lagi merasa panik saat ada agenda yang sedikit molor atau rencana yang berubah mendadak. Ruang jeda ini membuat harimu tetap terkendali tanpa terasa kaku.
Cobalah mulai dari hal kecil, seperti memberi tambahan 10–15 menit di antara dua kegiatan. Waktu singkat ini bisa dipakai untuk transisi, istirahat, atau mengantisipasi hal tak terduga. Dengan cara ini, kamu tetap teratur tanpa harus melawan ritme alammu sendiri.
5. Sisakan satu hari tanpa jadwal

Tidak semua hari harus diisi dengan daftar tugas yang padat. Menyisakan satu hari tanpa jadwal membantu pikiran beristirahat dari tekanan waktu. Kamu bisa menjalani hari dengan ritme yang terasa nyaman tanpa target tertentu.
Kebiasaan ini membuatmu kembali terhubung dengan kebutuhan diri sendiri. Aktivitas terasa lebih alami karena tidak dibatasi tenggat. Justru, hari tanpa jadwal sering membuatmu kembali lebih siap menghadapi minggu berikutnya.
6. Tambahkan buffer time di antara kegiatan

Jika kamu termasuk time optimist yang sering merasa semua hal bisa selesai lebih cepat dari kenyataan, kamu perlu strategi ini. Tambahkan jeda waktu di antara dua kegiatan agar tidak saling bertabrakan. Waktu jeda ini menjadi penyelamat saat ada hal tak terduga.
“Saat suasana hati saya sedang rendah, saya cenderung merasa bersalah dan stres karena sering terlambat. Hal ini memicu banyak menyalahkan diri sendiri,” jelas Emily Mendez, seorang mantan terapis, dikutip dari Verywell Mind.
7. Komunikasikan kebutuhan waktumu kepada orang terdekat

Kepribadian waktu tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga hubungan dengan orang lain. Menjelaskan mengapa kamu sangat menjaga waktu atau justru membutuhkan fleksibilitas membantu orang lain memahami kebiasaanmu. Dukungan dari lingkungan sekitar membuatmu lebih mudah menjaga keteraturan.
Ketika orang lain memahami caramu memandang waktu, konflik kecil bisa dihindari. Kamu pun tidak perlu merasa bersalah karena dianggap terlalu kaku atau terlalu santai. Hidup terasa lebih seimbang karena kamu bekerja selaras dengan kecenderungan alammu sendiri.
Memahami time personalities membantumu mengatur waktu dengan cara yang lebih selaras dengan dirimu sendiri. Saat ritme harian terasa pas, hidup pun berjalan lebih teratur tanpa terasa dipaksakan.