Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menghadapi Quarter-Life Crisis yang Datang Terlambat
ilustrasi quarter life crisis (pexels.com/Liza Summer)
  • Rasa bingung yang datang belakangan seperti ini sering membuat seseorang merasa semakin tertinggal.

  • Salah satu hal yang paling melelahkan saat mengalami quarter-life crisis adalah keinginan untuk menemukan jawaban secepat mungkin.

  • Quarter-life crisis yang datang belakangan memang bikin bingung, namun bukan berarti ada yang salah dengan hidupmu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua orang mulai mempertanyakan hidupnya di usia 25. Ada yang justru baru merasa gelisah ketika usianya mendekati 30, bahkan setelah melewati kepala tiga. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah kepikiran, seperti apakah pekerjaan yang dijalani memang sudah tepat, kenapa hidup terasa jalan di tempat, atau mengapa orang lain terlihat sudah tahu arah hidupnya sementara diri sendiri masih terus mencari.

Rasa bingung yang datang belakangan seperti ini sering membuat seseorang merasa semakin tertinggal. Padahal, benarkah quarter-life crisis selalu harus datang di usia 20-an? Kalau ternyata fase itu baru kamu rasakan sekarang, ada beberapa cara menghadapi quarter-life crisis yang datang terlambat tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

1. Jangan sibuk memikirkan kenapa krisis ini baru datang sekarang

ilustrasi overthinking (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Banyak orang mengira quarter-life crisis pasti muncul di usia 25 karena istilahnya memang sering dikaitkan dengan pertengahan usia 20-an. Akibatnya, ketika rasa bingung itu justru muncul di usia 28, 29, atau bahkan setelah 30, yang pertama kali dipertanyakan bukan hidupnya, melainkan waktunya. Rasanya seperti terlambat mengalami sesuatu yang seharusnya sudah selesai beberapa tahun lalu.

Padahal, hidup setiap orang tidak berubah di waktu yang sama. Ada yang baru mulai mempertanyakan pekerjaannya setelah lima tahun menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Ada yang baru merasa kehilangan arah setelah target yang selama ini dikejar ternyata berhasil dicapai, tetapi tidak membawa rasa puas seperti yang dibayangkan. Ada juga yang baru mulai gelisah karena melihat teman-temannya satu per satu memasuki fase hidup yang berbeda. Jadi, jangan terlalu sibuk memikirkan kenapa krisis ini datang sekarang, karena yang lebih penting adalah apa yang ingin kamu lakukan setelah menyadarinya.

2. Berhenti memaksa diri mengejar target yang sebenarnya sudah tidak kamu inginkan

ilustrasi target (pexels.com/Ahmed )

Pernah tidak merasa bersalah hanya karena target lama belum tercapai? Padahal, kalau dipikir lagi, bisa jadi kamu sendiri sudah tidak terlalu menginginkannya. Dulu mungkin kamu ingin bekerja di perusahaan besar karena menganggap itulah tanda kesuksesan. Sekarang, setelah benar-benar merasakan dunia kerja, kamu justru lebih tertarik mencari pekerjaan yang membuat hidup lebih seimbang daripada sekadar mengejar jabatan.

Hal yang sama juga sering terjadi pada target menikah, membeli rumah, atau pindah ke kota tertentu. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki, semakin banyak pula cara pandang yang ikut berubah. Jadi, sebelum menyalahkan diri sendiri karena belum mencapai target lama, coba tanyakan lagi apakah itu masih benar-benar menjadi tujuanmu atau hanya daftar impian yang dibuat oleh versi dirimu beberapa tahun lalu.

3. Jangan jadikan hidup orang lain sebagai patokan kapan kamu harus berhasil

ilustrasi hidup orang lain (pexels.com/Plann)

Lucunya, banyak orang baru merasa hidupnya berantakan setelah membuka media sosial. Awalnya hanya ingin melihat kabar teman, tetapi beberapa menit kemudian malah mulai membandingkan diri sendiri. Ada yang mengunggah foto rumah baru, promosi jabatan, wisuda S2, sampai foto pernikahan. Tanpa sadar, semua itu berubah menjadi ukuran baru tentang seperti apa hidup "seharusnya" berjalan.

Padahal, kamu tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di balik foto atau unggahan tersebut. Kamu tidak tahu berapa kali mereka gagal sebelum akhirnya berhasil, tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi, dan tidak tahu pengorbanan apa yang harus mereka lakukan untuk sampai di titik itu. Kalau setiap hari terus mengukur hidup dengan pencapaian orang lain, quarter-life crisis akan terasa jauh lebih berat daripada yang sebenarnya.

4. Mulai bergerak meski belum tahu tujuan akhirnya

ilustrasi relasi (pexels.com/fauxels)

Salah satu hal yang paling melelahkan saat mengalami quarter-life crisis adalah keinginan untuk menemukan jawaban secepat mungkin. Rasanya ingin sekali tahu pekerjaan yang paling cocok, jalan hidup yang paling benar, atau keputusan mana yang tidak akan disesali di masa depan. Padahal, jawaban seperti itu sering kali baru ditemukan setelah seseorang berani mencoba banyak hal.

Daripada menunggu sampai semuanya terasa pasti, lebih baik mulai dari langkah yang memang bisa dilakukan sekarang. Belajar keterampilan baru, mengikuti pelatihan, memperluas relasi, atau sekadar mencoba pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya sering kali membuka kesempatan yang tidak pernah direncanakan. Banyak orang menemukan arah hidupnya bukan karena terlalu lama berpikir, tetapi karena akhirnya berani bergerak meski belum tahu hasil akhirnya akan seperti apa.

5. Sadari kalau hidup tidak berubah hanya karena umurmu bertambah satu tahun

ilustrasi lulus kuliah (pexels.com/Davis Sánchez)

Waktu masih sekolah, umur 30 terlihat seperti usia ketika semua orang sudah selesai dengan hidupnya. Rasanya mereka pasti sudah mapan, kariernya stabil, keluarganya lengkap, dan tidak lagi bingung menentukan masa depan. Kenyataannya, setelah benar-benar bertemu orang-orang di usia tersebut, gambaran itu tidak selalu benar.

Masih banyak orang yang baru pindah karier di usia 32, memulai usaha pertama di usia 35, melanjutkan kuliah setelah bertahun-tahun bekerja, atau baru menemukan pasangan hidup ketika usianya jauh dari target yang dulu pernah dibuat. Hidup ternyata tidak berhenti hanya karena angka usia bertambah. Selama masih mau belajar dan mencoba, selalu ada ruang untuk memulai sesuatu yang baru, bahkan ketika kamu merasa sudah terlambat.

Quarter-life crisis yang datang belakangan memang bisa terasa membingungkan karena tidak sesuai dengan bayangan yang selama ini sering dibicarakan. Meski begitu, bukan berarti ada yang salah dengan hidupmu hanya karena fase itu muncul lebih lambat dibanding orang lain. Bisa jadi, kamu baru sampai di titik mempertanyakan banyak hal setelah memiliki pengalaman yang cukup untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Jadi, kalau belakangan ini kamu merasa sedang kehilangan arah, cara menghadapi quarter-life crisis yang datang terlambat bisa kamu terapkan. Selain itu, sadari bahwa mungkin yang berubah bukan kesempatanmu, melainkan cara kamu memandang perjalanan hidupmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article