Manusia sangatlah beragam. Salah satunya adalah tipe orang yang baru merasa perlu kenalan ketika sedang butuh sesuatu. Begitu urusannya selesai, nama orang tersebut kembali hilang tanpa pernah disapa lagi. Hal seperti ini mungkin terlihat biasa, tetapi lama-lama membuat hubungan dengan orang lain terasa seperti transaksi.
5 Alasan Jangan Melihat Networking Berdasarkan Untung Rugi

- Menilai networking dari keuntungan berisiko membuat seseorang melewatkan kenalan menarik dan membatasi kesempatan memahami beragam pengalaman serta sudut pandang.
- Hubungan akan terasa canggung dan transaksional jika komunikasi hanya muncul saat membutuhkan bantuan; interaksi rutin membuat permintaan terasa lebih natural.
- Manfaat networking tidak selalu langsung terlihat, sehingga relasi profesional tetap perlu dibangun secara manusiawi tanpa mengabaikan kebutuhan karier.
Padahal, gak semua perkenalan harus langsung menghasilkan pekerjaan, uang, atau bantuan tertentu, lho! Kadang, manfaat dari mengenal seseorang baru terasa setelah waktu yang cukup lama, bahkan dalam bentuk yang gak pernah kita rencanakan. Jika selama ini menghitung hubungan dari apa yang bisa didapat, mulai sekarang jangan melihat networking berdasarkan untung rugi. Coba lihat lagi lebih dalam, ya!
1. Bisa melewatkan orang yang sebenarnya menarik untuk dikenal

ilustrasi networking (unsplash.com/CoWomen) Saat networking, perhatian biasanya langsung tertuju pada orang yang dianggap punya posisi, koneksi, atau pekerjaan yang menguntungkan. Orang yang belum terlihat punya sesuatu untuk ditawarkan mungkin justru dilewati begitu saja. Padahal, perkenalan yang menyenangkan gak selalu dimulai dari pertanyaan tentang jabatan atau perusahaan tempat seseorang bekerja. Bisa saja kamu justru menemukan teman ngobrol yang nyambung atau orang dengan cerita hidup yang membuka wawasan baru.
Selain itu, kehidupan seseorang bisa berubah jauh dari kondisi saat pertama kali bertemu. Teman yang sekarang masih merintis usaha mungkin beberapa tahun lagi punya proyek besar, tetapi hubungan yang baik tentu gak seharusnya dibangun sambil menunggu perubahan tersebut. Kalau sejak awal kamu hanya tertarik pada orang yang terlihat menguntungkan, kesempatan mengenal banyak tipe orang jadi semakin sempit. Networking pun berubah menjadi semacam proses memilih siapa yang pantas mendapatkan perhatianmu.
2. Hubungan terasa canggung ketika kamu hanya muncul saat butuh

ilustrasi networking (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions) Bayangkan ada seseorang yang selama berbulan-bulan gak pernah menghubungimu, lalu tiba-tiba mengirim pesan karena sedang mencari lowongan kerja di perusahaanmu. Wajar kalau kamu langsung merasa ada maksud tertentu di balik pesan tersebut. Bukan karena meminta bantuan itu salah, tetapi kemunculannya terasa berbeda ketika selama ini gak pernah ada percakapan lain.
Hubungan yang dibangun tanpa terus menghitung manfaat membuat komunikasi seperti ini terasa lebih natural. Kamu bisa sesekali menyapa, bertukar cerita, atau sekadar mengucapkan selamat ketika teman mendapat kabar baik tanpa menunggu ada keperluan. Dari situ, ketika suatu hari memang butuh bantuan, permintaan tersebut gak terasa seperti datang dari orang asing. Ada hubungan yang sudah terbentuk sebelum kebutuhan itu muncul.
3. Kamu jadi terlalu sibuk memikirkan apa yang bisa diberikan orang lain

ilustrasi networking (unsplash.com/Amy Hirschi) Networking dengan hitung-hitungan untung-rugi bisa membuat setiap perkenalan terasa seperti screening. Setelah ngobrol dengan seseorang, kamu mungkin langsung berpikir, “Orang ini bisa bantu apa, ya?” atau “Kenal dia bakal berguna gak, ya, buat karierku?” Pikiran seperti itu bikin kamu sulit benar-benar mendengarkan cerita orang lain karena perhatian sudah sibuk mencari keuntungan di balik obrolan.
Padahal, ngobrol dengan orang dari bidang berbeda juga bisa memperluas cara kamu melihat pekerjaan dan kehidupan. Seorang desainer mungkin punya cara berpikir yang berbeda dari akuntan, sementara pemilik usaha kecil bisa punya pengalaman yang gak pernah kamu dapatkan di kantor. Gak semua percakapan harus menghasilkan kontak baru atau peluang kerja. Ada kalanya sebuah obrolan cukup menjadi pengalaman yang membuat kamu pulang membawa sudut pandang baru.
4. Terlihat terlalu transaksional di mata orang lain

ilustrasi networking (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions) Orang biasanya bisa merasakan ketika seseorang mendekat hanya karena sedang membutuhkan sesuatu. Misalnya, baru berkenalan sebentar tetapi langsung meminta diperkenalkan kepada atasan, meminta nomor kontak penting, atau menanyakan peluang kerja. Cara seperti ini mungkin gak selalu dimaksudkan untuk memanfaatkan orang lain, tetapi tetap bisa membuat hubungan terasa janggal.
Sebaliknya, hubungan profesional juga membutuhkan waktu untuk berkembang. Kamu gak harus menunggu bertahun-tahun untuk meminta bantuan, tetapi gak ada salahnya membangun komunikasi terlebih dahulu sebelum datang membawa keperluan. Ketika hubungan gak terus-menerus dibebani pertanyaan tentang “apa manfaatnya buat saya”, obrolan juga terasa lebih nyaman bagi kedua pihak. Orang pun lebih mudah mengenalmu sebagai pribadi, bukan hanya sebagai seseorang yang sedang mencari sesuatu.
5. Gak semua manfaat networking bisa langsung kelihatan

ilustrasi networking (unsplash.com/TienDat Nguyen) Ada perkenalan yang hasilnya baru terasa ketika kamu sudah lupa kapan pertama kali bertemu orang tersebut. Bisa jadi seseorang pernah merekomendasikan satu judul buku yang kemudian mengubah cara kamu bekerja, mengenalkan bidang yang sebelumnya gak kamu kenal, atau sekadar memberi cerita yang membuatmu berani mencoba hal baru. Manfaat seperti ini tentu sulit dimasukkan ke dalam perhitungan untung rugi.
Networking juga bukan berarti harus berteman dengan semua orang yang kamu temui. Kamu tetap boleh memilih hubungan mana yang ingin dilanjutkan dan menjaga jarak dari orang yang memang gak cocok denganmu. Bedanya, kamu gak menilai seseorang hanya dari seberapa cepat dia bisa membuka pintu karier untukmu. Kadang, hubungan yang awalnya terasa biasa saja justru menjadi bagian penting dari perjalananmu beberapa tahun kemudian.
Cara melihat networking seperti ini bukan berarti kamu harus mengabaikan kepentingan profesional. Kamu tetap boleh memperkenalkan pekerjaan, bertanya soal peluang, atau meminta bantuan ketika memang diperlukan. Hanya saja, jangan melihat networking berdasarkan untung rugi. Ini dikarenakan hubungan dengan orang lain akan terasa jauh lebih manusiawi ketika pada setiap perkenalan tidak langsung dihitung berdasarkan apa yang bisa didapatkan. Semoga setelah ini kamu bisa melihat networking bukan cuma sebagai cara mencari koneksi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk benar-benar mengenal orang.






















