Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Cara Menjaga Lisan saat Sedang Kesal kepada Orang Lain
ilustrasi seseorang menjaga lisan (pexels.com/Kindel Media)
  • Saat kesal, beri jeda dengan diam atau menjauh sejenak agar emosi mereda sebelum merespons, sehingga ucapan tidak memperbesar konflik atau meninggalkan penyesalan.
  • Pilih kata yang fokus pada masalah dan perasaan, bukan menyerang pribadi; pertimbangkan dampak ucapan serta hindari menyebarkan keburukan orang lain saat mencari solusi.
  • Tetap akui kemungkinan kesalahan diri, sampaikan keberatan secara tegas tanpa merendahkan, serta perbanyak istighfar dan memohon pertolongan Allah untuk mengendalikan emosi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rasa kesal kepada orang lain adalah hal yang manusiawi. Ada kalanya ucapan seseorang terasa menyinggung, sikapnya bikin kecewa, atau perlakuannya membuat kamu sulit menahan emosi. Masalahnya, ketika sedang marah, mulut kadang bergerak lebih cepat daripada pikiran. Kalimat yang keluar dalam hitungan detik bisa meninggalkan luka yang butuh waktu lama untuk sembuh. Karena itu, belajar menjaga lisan saat emosi sedang tinggi menjadi salah satu cara agar masalah gak semakin melebar.

Menahan diri bukan berarti kamu harus memendam semua perasaan atau berpura-pura baik-baik saja. Kamu tetap boleh merasa marah, kecewa, dan menyampaikan keberatan ketika memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Hanya saja, cara menyampaikannya perlu diperhatikan agar rasa kesal gak berubah menjadi perkataan yang menyakiti. Dalam ajaran Islam, menjaga lisan juga menjadi bagian penting dari akhlak seorang muslim. Nah, kalau kamu sedang kesal kepada seseorang, beberapa cara berikut bisa dicoba supaya ucapan tetap terjaga.

1. Diam sebentar sampai emosi mulai mereda

ilustrasi seseorang diam (pexels.com/cottonbro)

Ketika sedang marah, rasanya ada dorongan kuat untuk langsung membalas perkataan orang lain. Kamu mungkin ingin menjelaskan panjang lebar atau mengeluarkan semua hal yang selama ini dipendam. Namun, memberi jeda beberapa saat bisa membantu kamu berpikir lebih jernih sebelum mengatakan sesuatu. Gak perlu memaksakan percakapan ketika emosi masih berada di titik tertinggi. Kalau memang perlu, kamu bisa memilih diam atau pergi sebentar dari situasi tersebut.

Diam bukan berarti kalah atau membiarkan orang lain seenaknya terhadap kamu. Ada kalanya diam justru menjadi cara untuk mencegah satu masalah berkembang menjadi pertengkaran yang lebih besar. Setelah perasaan mulai tenang, kamu bisa kembali membicarakan persoalannya secara lebih masuk akal. Coba tanyakan kepada diri sendiri apakah kalimat yang ingin kamu ucapkan benar-benar perlu disampaikan. Kalau jawabannya tidak, mungkin lebih baik kalimat tersebut disimpan daripada menjadi penyesalan.

2. Pikirkan dampak sebelum mengucapkan sesuatu

ilustrasi seseorang berbicara (pexels.com/fauxels)

Saat kesal, kamu mungkin merasa ingin mengatakan hal yang paling bisa membuat orang lain merasa sakit hati. Apalagi kalau kamu merasa sudah lebih dulu disakiti. Namun, membalas luka menggunakan perkataan kasar biasanya gak benar-benar menyelesaikan masalah. Sebelum bicara, coba pikirkan apakah ucapan tersebut akan membantu menyelesaikan persoalan atau justru membuat keadaan semakin rumit. Jeda beberapa detik bisa membuat kamu punya kesempatan untuk memilih kata yang lebih tepat.

Kamu juga perlu mengingat bahwa perkataan yang sudah keluar gak bisa ditarik kembali. Permintaan maaf memang bisa dilakukan, tetapi bekas dari ucapan tersebut mungkin masih tersimpan dalam ingatan orang lain. Karena itu, jangan biarkan emosi sesaat menentukan sesuatu yang dampaknya bisa panjang. Kalau kamu belum mampu berbicara secara tenang, gak ada salahnya menunda percakapan. Menunggu sampai kepala lebih dingin jauh lebih baik daripada berbicara dalam keadaan penuh amarah.

3. Hindari membicarakan keburukan orang lain

Ilustrasi seseorang menggosip (pexels.com/Yan Krukau)

Rasa kesal kadang membuat seseorang ingin mencari teman untuk meluapkan emosi. Kamu mungkin tergoda menceritakan semua kesalahan orang tersebut kepada teman atau keluarga. Padahal, kalau pembicaraan sudah berubah menjadi membicarakan aib dan keburukan seseorang, masalahnya bisa menjadi lebih panjang. Sebelum bercerita, coba bedakan apakah kamu sedang mencari solusi atau hanya ingin melampiaskan kemarahan. Kalau hanya ingin melampiaskan emosi, pilih cara lain yang gak membuat nama baik orang lain ikut terseret.

Kalau memang membutuhkan saran, kamu bisa menyampaikan masalah kepada orang yang dipercaya tanpa melebih-lebihkan cerita. Fokuskan pembicaraan pada situasi yang sedang kamu hadapi dan solusi yang mungkin dilakukan. Gak semua orang perlu tahu tentang konflik yang sedang kamu alami. Menjaga cerita juga merupakan bagian dari menjaga lisan, terutama ketika orang yang bersangkutan gak ada di hadapan kamu. Ingat, rasa kesal bisa berlalu, tetapi cerita yang sudah tersebar belum tentu mudah dihentikan.

4. Gunakan kalimat yang membahas masalah, bukan menyerang orangnya

ilustrasi seseorang kecewa (freepik.com/peoplecreations)

Ketika sedang kecewa, perbedaan antara mengkritik perilaku dan menyerang pribadi seseorang sangat penting. Kalimat seperti 'Aku kecewa karena perkataanmu tadi' tentu memiliki makna yang berbeda dari 'Kamu memang selalu bikin masalah.' Kalimat pertama menjelaskan perasaan dan situasi yang membuat kamu terganggu. Sementara itu, kalimat kedua cenderung menyerang karakter sehingga orang yang mendengarnya lebih mudah merasa disudutkan. Cara berbicara seperti ini bisa membantu kamu menyampaikan keberatan tanpa memperbesar konflik.

Kamu juga bisa menghindari kata-kata seperti 'selalu', 'gak pernah', atau 'memang dasar' ketika sedang emosi. Kata-kata tersebut biasanya membuat pembicaraan bergeser dari satu masalah menjadi daftar kesalahan masa lalu. Fokus saja pada kejadian yang sedang dibahas agar percakapan tetap memiliki arah. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tegur, sampaikan secara spesifik dan seperlunya. Kamu tetap bisa tegas tanpa harus menggunakan kata-kata yang merendahkan.

5. Ingat bahwa kamu juga bisa melakukan kesalahan

ilustrasi seseorang melakukan kesalahan (freepik.com/garakta_studio)

Ketika sedang marah, melihat kesalahan orang lain biasanya terasa jauh lebih mudah daripada melihat kekurangan diri sendiri. Kamu mungkin merasa bahwa posisi kamu sepenuhnya benar dan orang tersebut sepenuhnya salah. Padahal, konflik sering kali memiliki sisi yang lebih rumit daripada yang terlihat pada awalnya. Coba beri ruang untuk bertanya apakah ada ucapan atau tindakan kamu yang ikut memperkeruh keadaan. Sikap ini bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi membantu kamu tetap rendah hati ketika menghadapi konflik.

Mengingat kemungkinan bahwa diri sendiri juga pernah berbuat salah bisa membuat hati sedikit lebih lunak. Kamu bisa tetap menyampaikan keberatan tanpa merasa perlu menjatuhkan orang yang sedang membuat kamu kesal. Kalau ternyata kamu memang melakukan kesalahan, berani mengakuinya juga merupakan bentuk menjaga hubungan. Sementara kalau kamu berada di pihak yang dirugikan, kamu tetap bisa memilih respons yang baik tanpa harus membalas secara berlebihan. Gak semua pertengkaran harus dimenangkan lewat kata-kata yang paling tajam.

6. Perbanyak istighfar dan minta pertolongan Allah

ilustrasi seseorang beristigfar (freepik.com/freepik)

Saat emosi sulit dikendalikan, mengambil waktu untuk mengingat Allah bisa menjadi cara sederhana untuk menenangkan diri. Kamu bisa memperbanyak istigfar atau membaca doa yang membuat hati lebih tenang. Alih-alih langsung mengetik pesan panjang kepada orang yang membuat kamu marah, coba berhenti sebentar dan gunakan waktu tersebut untuk berzikir. Beberapa menit mungkin cukup untuk membuat perasaan yang tadinya meledak-ledak menjadi sedikit lebih terkendali. Setelah hati lebih tenang, kamu bisa menentukan apakah masalah tersebut memang perlu dibicarakan sekarang atau bisa menunggu.

Mendekat kepada Allah juga mengingatkan kamu bahwa menjaga lisan bukan hanya soal hubungan dengan manusia. Ada tanggung jawab spiritual di balik setiap perkataan yang disampaikan. Karena itu, ketika sedang kesal, cobalah meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kemampuan untuk mengendalikan ucapan dan emosi. Kamu gak harus langsung menjadi orang yang selalu tenang dalam setiap situasi. Namun, setiap kali berhasil menahan satu ucapan yang buruk, kamu sudah belajar menjadi pribadi yang lebih mampu mengendalikan diri.

Kesal, kecewa, dan marah tetap menjadi bagian dari perasaan manusia yang wajar. Kamu gak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja hanya demi terlihat sabar di depan orang lain. Menjaga lisan berarti belajar menyampaikan perasaan tanpa mengubahnya menjadi hinaan, fitnah, atau perkataan yang sengaja melukai. Kamu tetap boleh mengatakan bahwa suatu perlakuan membuat kamu gak nyaman. Hanya saja, pilih waktu dan kata-kata yang tepat agar pesan tersebut bisa disampaikan secara lebih baik.

Kalau hari ini kamu sedang menghadapi seseorang yang membuat emosi naik turun, coba beri dirimu sendiri sedikit ruang sebelum merespons. Tarik napas, diam sejenak, ingat Allah, lalu pikirkan apakah ucapan yang ingin kamu keluarkan benar-benar perlu. Bisa jadi, satu kalimat yang berhasil kamu tahan hari ini justru menyelamatkan hubungan dari pertengkaran yang lebih besar. Kesabaran memang gak selalu mudah, tetapi bisa dilatih melalui hal-hal kecil setiap hari. Jadi, ketika rasa kesal datang lagi, yuk belajar memilih kata yang baik tanpa harus mengabaikan apa yang kamu rasakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article