ilustrasi berpikir, merenung, tenang, kalem, memakai headphone, mendengarkan musik (magnific.com/magnific)
Tetap tenang bukan berarti kamu harus memendam emosi atau selalu bersikap seolah-olah gak terjadi apa-apa, ya. Justru, orang dengan EQ tinggi tetap mengakui perasaannya, tapi berusaha memilih cara yang paling efektif untuk menyampaikannya. Kalau kamu kecewa kepada seseorang, misalnya, kamu tetap boleh mengatakan bahwa tindakan tersebut membuatmu kecewa tanpa harus melancarkan serangan pribadi. Cara menyampaikan emosi juga menjadi bagian penting dari kemampuan mengelola emosi.
Penelitian dalam Affective Science menemukan bahwa monitoring metakognitif dapat mendukung proses memilih respons yang lebih efektif dalam situasi emosional, meski peneliti juga menegaskan bahwa penelitian tersebut mengukur pengetahuan tentang pengelolaan emosi melalui situasi hipotetis, bukan kemampuan mengendalikan emosi secara langsung dalam kehidupan nyata. Artinya, temuan ini bisa menjadi panduan sederhana, bukan jaminan bahwa kamu otomatis selalu mampu mengendalikan emosi. Namun, membiasakan diri berhenti, mengecek perasaan, menilai pilihan, lalu bertindak dengan sadar bisa menjadi langkah kecil untuk membangun EQ yang lebih baik.
Memiliki EQ tinggi bukan berarti kamu harus selalu tenang dalam setiap situasi, lho. Kamu tetap bisa marah, kecewa, sedih, atau tersinggung karena semua emosi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Bedanya, kamu belajar memberikan ruang antara emosi yang muncul dan tindakan yang akan dilakukan.
Penelitian terbaru dalam Affective Science menunjukkan bahwa kebiasaan monitoring atau metakognisi dapat berperan dalam membantu seseorang memilih respons emosional yang lebih efektif. Jadi, ketika emosimu mulai memuncak, gak ada salahnya berhenti sejenak dan bertanya, "Apakah aku sudah yakin ini respons terbaik?"