"Jadi, kadang kita agak salah mengatribusikan perasaan kita. Kadang jadinya kita merasa Lebaran yang menyebabkan kita tertekan atau tidak nyaman. Padahal sebenarnya bukan itu intinya. Hal yang membuat kita merasa tertekan sering kali adalah kondisi sosial tadi, misalnya adanya social comparison. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain, lalu muncul pikiran bahwa diri kita belum ideal. Misalnya teman-teman sudah menikah, sudah punya pekerjaan tertentu, atau sudah mencapai sesuatu. Akhirnya kita merasa tertinggal," ucap Faza.
Tekanan Sosial saat Lebaran: Ditanya Kapan Nikah sampai Nominal Gaji

- Faza Maulida, Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa tekanan sosial dan perbandingan diri sering membuat pertanyaan personal saat Lebaran terasa emosional bagi generasi muda di fase quarter life.
- Ia menyarankan untuk memahami niat penanya sebelum merespons, menjawab seperlunya dengan santai, serta tidak memaksakan diri agar tetap hemat energi selama momen silaturahmi.
- Saat mulai merasa lelah atau tersinggung, penting untuk mengakui emosi, mengambil micro break sejenak, dan mengingat bahwa momen Lebaran bersifat sementara serta bukan tolok ukur nilai diri.
Baju baru sudah digantung sejak malam, ketupat sudah tersaji di meja, dan senyum sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tapi ada satu hal lain yang diam-diam ikut dipersiapkan banyak orang menjelang kumpul keluarga saat Lebaran, mental untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sudah bisa ditebak sebelum acara dimulai. 'Kapan nikah?', 'Kerja di mana sekarang?', 'Gajinya berapa di kerjaan sekarang?' Deretan pertanyaan itu hadir begitu konsisten, seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi silaturahmi itu sendiri.
Hal yang membuatnya semakin berat, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak datang dari orang asing. Melainkan dari wajah-wajah familiar yang kita temui setahun sekali, om, tante, atau kerabat jauh yang mungkin memang berniat baik, tapi tanpa sadar menyentuh hal-hal yang sedang kita perjuangkan dalam diam. Di situlah letak sesungguhnya dari rasa draining yang sering dirasakan banyak orang usai acara keluarga.
Menanggapi fenomena yang begitu lekat dengan budaya Lebaran di Indonesia ini, IDN Times menggelar sesi live bertajuk Survival Guide Lebaran: Hadapi Pertanyaan Keluarga Tanpa Draining bersama Faza Maulida, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis, pada Selasa (10/3/2026). Dalam sesi tersebut, Faza membagikan berbagai tips dan perspektif agar kita tetap bisa merespons pertanyaan keluarga dengan santai, tanpa merasa tertekan atau kelelahan secara emosional. Lalu, apa saja yang perlu kita ketahui?
1. Kenapa Lebaran jadi momen paling menegangkan dan draining?

Lebaran kerap menjadi momen yang draining secara emosional, terutama bagi mereka yang berada di usia 20-an. Hal ini bukan tanpa alasan. Fase ini dikenal sebagai quarter life, sebuah periode di mana seseorang tengah menghadapi banyak lapisan tantangan sekaligus. Mulai dari merintis karier, menjalani pendidikan, hingga membangun relasi dan hubungan baru, semuanya hadir bersamaan dalam satu waktu.
Di sisi lain, tekanan sosial turut menambah beban yang dirasakan. Ada ekspektasi tak tertulis dari masyarakat bahwa di usia 20-an seseorang seharusnya sudah menikah, mapan, atau mencapai tonggak-tonggak tertentu dalam hidupnya. Ketika realita tidak selalu sejalan dengan ekspektasi tersebut, pertemuan keluarga besar seperti Lebaran pun bisa terasa berat untuk dihadapi. Bukan karena Lebarannya itu sendiri, melainkan karena momen ini mempertemukan kita langsung dengan segala hal yang belum berhasil kita capai.
2. Fenomena pertanyaan klasik saat Lebaran

Lebaran memang identik dengan kehangatan dan kebersamaan. Namun, bagi sebagian orang, momen ini juga membawa tradisi tersendiri yang tak kalah akrab, yakni pertanyaan-pertanyaan klasik yang datang dari berbagai anggota keluarga besar. Mulai dari 'kapan nikah?', 'kerja di mana sekarang?', 'kapan wisuda?', 'kapan nambah momongan?', hingga pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang gaji, jenjang karier, dan relasi. Deretan pertanyaan ini seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda silaturahmi keluarga besar di Indonesia.
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar kebiasaan, melainkan cerminan dari kuatnya pengaruh social timeline dalam budaya kita. Sebuah ekspektasi kolektif tentang pencapaian hidup yang dianggap ideal pada usia tertentu. Ketika seseorang belum memenuhi tonggak-tonggak tersebut, pertanyaan yang muncul pun kerap terasa seperti pengingat yang tidak selalu mudah untuk dihadapi. Inilah yang membuat momen Lebaran, yang seharusnya menjadi perayaan, justru terasa melelahkan bagi sebagian orang.
3. Kenapa pertanyaan semacam ini bisa membuat stres?

Pada dasarnya, tingkat stres yang dirasakan seseorang ketika menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu sama. Seseorang yang memang sedang bergulat dengan pertanyaan yang sama dalam dirinya sendiri, misalnya soal pernikahan atau karier, cenderung akan merasakan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang sudah merasa damai dengan kondisinya saat ini. Dengan kata lain, pertanyaan dari luar hanya menjadi pemicu, sementara beban sesungguhnya sudah lebih dulu ada di dalam. Hal inilah yang menurut Faza menjadi inti dari mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa begitu mudah memicu tekanan.
"Kalau orang yang ditanya memang punya concern terhadap hal yang ditanyakan, maka itu akan menjadi lebih sensitif. Misalnya, seseorang yang sudah 25 tahun ke atas, di dalam dirinya sendiri juga ada keinginan untuk menikah atau menjalin relasi, tapi kebetulan belum ada, maka pertanyaan itu tentu akan jadi hal yang menyentuh bagi dia."
4. Perbedaan generasi tua vs. generasi sekarang

Salah satu hal yang membuat dinamika ini semakin kompleks adalah adanya perbedaan cara pandang antar generasi. Bagi generasi yang lebih tua, pertanyaan semacam itu sejatinya bukan dimaksudkan sebagai serangan. Melainkan sebagai bentuk perhatian dan kedekatan. Dalam budaya mereka, menanyakan hal-hal personal adalah cara untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dan ingin terlibat dalam kehidupan orang-orang yang mereka sayangi.
Namun bagi generasi yang lebih muda, pertanyaan yang sama justru kerap terasa seperti tekanan. Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks dan kesadaran yang semakin tinggi akan pentingnya batasan personal, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lagi terasa sebagai ungkapan kasih sayang. Melainkan sebagai pengingat atas ekspektasi yang belum terpenuhi. Perbedaan perspektif inilah yang seringkali menciptakan ketegangan tak kasat mata di meja makan keluarga, meski sebenarnya kedua belah pihak sama-sama hadir dengan niat yang baik.
5. Bagaimana cara meresponsnya?

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan terlebih dahulu membaca tujuan si penanya. Apakah pertanyaan itu datang dari rasa ingin tahu yang tulus atau sekadar basa-basi semata? Dengan memahami tendensi tersebut, kita bisa menentukan seberapa dalam respons yang perlu diberikan.
Jika pertanyaan memang diajukan dengan niat yang tulus, menjawab secara jujur adalah pilihan yang paling tepat. Tidak perlu berlebihan, cukup sampaikan apa adanya. Misalnya dengan mengatakan bahwa memang belum ada, sembari meminta doa agar segera dipertemukan dengan yang terbaik.
"Kalau ternyata itu hanya basa-basi, kita juga bisa menjawab dengan cara yang santai saja, misalnya tetap minta didoakan. Setelah itu kita bisa mengalihkan pembicaraan atau berpindah dari situasi tersebut. Karena sebenarnya saat Lebaran kita boleh berada dalam kondisi hemat energi. Kita tidak harus terus-menerus merasa tertekan dengan pertanyaan seperti itu," tambah Faza.
6. Ambil micro break kalau sudah mulai draining

Namun, bagaimana jika kita sudah terlanjur tersinggung sebelum sempat menyiapkan respons yang tepat? Wajar saja jika muncul rasa lelah atau kesal, terutama ketika pertanyaan serupa terus berulang dari satu orang ke orang lain sepanjang acara berlangsung.
Hal pertama yang perlu dilakukan dalam situasi ini adalah menyadari dan mengakui emosi yang muncul. Cukup akui dalam diri sendiri bahwa pertanyaan itu tidak nyaman, bahwa kita tidak suka ditanyakan hal tersebut. Sebab secara psikologis, mengakui emosi adalah langkah awal yang penting untuk menurunkan intensitasnya.
Sebaliknya, menyangkal perasaan tersebut, dengan pikiran seperti 'ah, ngapain tersinggung, lebay banget' atau 'kayaknya aku yang terlalu sensitif deh', justru akan membuat emosi itu bertahan lebih lama. Mode denial tidak menghilangkan perasaan, melainkan hanya menahannya di permukaan. Maka, langkah yang jauh lebih sehat adalah dengan validasi sederhana.
"Setelah validasi, coba lakukan micro break, istilahnya semacam kabur sebentar, tapi dengan cara yang elegan. Mundur dulu dari situasi itu. Misalnya: 'Oh itu, Tante, sepertinya kucingnya mau makan deh.' Dan itu okay. Boleh banget kita melakukan itu. Ambil napas dulu, keluar sebentar dari situasi itu," lanjut Faza.
7. Jangan jadikan momen ini sebagai penilaian dirimu sepenuhnya

Di tengah ramainya pertanyaan yang datang silih berganti, ada satu hal yang perlu selalu diingat, momen ini bersifat sementara. Acara kumpul keluarga hanya berlangsung beberapa jam dan setelahnya kita akan kembali menjalani kehidupan masing-masing. Bahkan, pertanyaan yang terasa menyudutkan hari ini kemungkinan besar sudah terlupakan oleh si penanya sebelum acara benar-benar selesai. Jadi, tidak perlu terlalu banyak menginvestasikan energi untuk hal-hal yang sifatnya sesaat.
Hal yang jauh lebih penting adalah belajar menghargai diri sendiri. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum tercapai, hingga lupa melihat seberapa jauh kita sudah melangkah. Padahal, progres sekecil apa pun tetaplah sebuah pencapaian yang layak untuk diapresiasi. Ketika kita sudah memiliki rasa harga diri yang kuat, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan lagi terasa sebagai serangan. Karena kita sudah tahu bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh timeline orang lain.
"Momen ini adalah momen yang sementara. Acara keluarga ini biasanya cuma beberapa jam. Jadi sebenarnya kalau kita keluar dari situ pun, kita akan hidup dengan kehidupan kita masing-masing lagi," pungkas Faza.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan atau hal yang terjadi saat kumpul keluarga di momen Lebaran bukan merupakan parameter kita untuk mengukur diri sendiri. Tetap aware dan jaga kesehatan mental diri sendiri, ya!






![[QUIZ] Pilih Cikgu Favorit di Upin Ipin, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega!](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_aba6f1cccbe5359e8509f4c843e1a9e5_1d8619da-514e-4525-9c5b-15d9796b41a5.png)





![[QUIZ] Ini Keberuntunganmu di Bulan Mei, Cek Zodiakmu Sekarang!](https://image.idntimes.com/post/20260418/1000016409_e6bbeda9-3d14-46f1-8e0c-ac83c4e1f86d.jpg)
![[QUIZ] Cek Zodiak di Bulan Mei: Hoki atau Sial, Penasaran?](https://image.idntimes.com/post/20260129/pexels-tima-miroshnichenko-7567565_c14cb80a-79ae-4809-b02f-de4b20267d0b.jpg)
![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kamu Dog Person atau Cat Person?](https://image.idntimes.com/post/20260219/upload_6c0915d1b21e570b374b70f2000e098f_d2cc5b96-6f0c-4380-b67e-c891af1c1d7f.jpg)
![[QUIZ] Seberapa Pintar Kamu Kalau Ada di Geng Upin & Ipin?](https://image.idntimes.com/post/20260227/whatsapp-image-2026-02-27-at-07_511e43a3-c969-41d1-a29a-12bbed4ec74f.jpeg)

![[QUIZ] Prediksi Mood dari Stiker WA, Cobain Deh!](https://image.idntimes.com/post/20251120/upload_2cd4c7e494392012a755befd39fc4b99_a05446ff-c8f1-469b-bee0-420e8fff1768.jpg)
![[QUIZ] Tebak Karakter dari Wallpaper Handphone](https://image.idntimes.com/post/20260328/1000213328_b41eec6c-f289-4931-aae8-66998307005c.jpg)
