Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tanpa Stres, Ini Cara Waras Hadapi Pertanyaan Personal Saat Lebaran

Tanpa Stres, Ini Cara Waras Hadapi Pertanyaan Personal Saat Lebaran
ilustrasi lebaran (unsplash.com/Oktavia Ningrum)
Intinya Sih
  • Faza Maulida, Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa tekanan sosial dan perbandingan diri sering membuat pertanyaan personal saat Lebaran terasa emosional bagi generasi muda di fase quarter life.
  • Ia menyarankan untuk memahami niat penanya sebelum merespons, menjawab seperlunya dengan santai, serta tidak memaksakan diri agar tetap hemat energi selama momen silaturahmi.
  • Saat mulai merasa lelah atau tersinggung, penting untuk mengakui emosi, mengambil micro break sejenak, dan mengingat bahwa momen Lebaran bersifat sementara serta bukan tolok ukur nilai diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Momen Idul Fitri sering kali identik dengan kumpul keluarga, saling bersilaturahmi, serta menikmati hidangan khas Lebaran bersama. Namun di balik suasana hangat tersebut, tidak sedikit orang yang merasa sedikit 'deg-degan' menghadapi berbagai pertanyaan personal dari kerabat. Mulai dari soal pekerjaan, pasangan, hingga rencana masa depan.

Menanggapi hal ini, IDN Times menggelar sesi Live bertajuk Survival Guide Lebaran: Hadapi Pertanyaan Keluarga Tanpa Draining bersama Faza Maulida, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis, pada Selasa (10/3/2026). Dalam sesi tersebut, Faza membagikan berbagai tips dan perspektif agar kita tetap bisa merespons pertanyaan keluarga dengan santai, tanpa merasa tertekan atau kelelahan secara emosional. Apa saja yang harus diketahui?

1. Apa yang membuat pertanyaan personal saat Lebaran sering membuat draining?

Lebaran
ilustrasi Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Lebaran kerap menjadi momen yang draining secara emosional, terutama bagi mereka yang berada di usia 20-an. Hal ini bukan tanpa alasan. Fase ini dikenal sebagai quarter life, sebuah periode di mana seseorang tengah menghadapi banyak lapisan tantangan sekaligus. Mulai dari merintis karier, menjalani pendidikan, hingga membangun relasi dan hubungan baru, semuanya hadir bersamaan dalam satu waktu.

Di sisi lain, tekanan sosial turut menambah beban yang dirasakan. Ada ekspektasi tak tertulis dari masyarakat bahwa di usia 20-an seseorang seharusnya sudah menikah, mapan, atau mencapai tonggak-tonggak tertentu dalam hidupnya. Ketika realita tidak selalu sejalan dengan ekspektasi tersebut, pertemuan keluarga besar seperti Lebaran pun bisa terasa berat untuk dihadapi.

Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa Lebaran itu sendiri bukanlah sumber masalahnya. Lebaran hanya menjadi momen di mana lapisan-lapisan permasalahan yang sudah ada sebelumnya itu muncul ke permukaan dan terasa lebih nyata dari biasanya.

"Jadi, kadang kita agak salah mengatribusikan perasaan kita. Kadang jadinya kita merasa Lebaran yang menyebabkan kita tertekan atau tidak nyaman. Padahal sebenarnya bukan itu intinya. Hal yang membuat kita merasa tertekan sering kali adalah kondisi sosial tadi, misalnya adanya social comparison. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain, lalu muncul pikiran bahwa diri kita belum ideal. Misalnya teman-teman sudah menikah, sudah punya pekerjaan tertentu, atau sudah mencapai sesuatu. Akhirnya kita merasa tertinggal," ucap Faza.

2. Bagaimana cara meresponsnya?

ilustrasi lebaran
ilustrasi lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan terlebih dahulu membaca tujuan si penanya. Apakah pertanyaan itu datang dari rasa ingin tahu yang tulus atau sekadar basa-basi semata? Dengan memahami tendensi tersebut, kita bisa menentukan seberapa dalam respons yang perlu diberikan.

Jika pertanyaan memang diajukan dengan niat yang tulus, menjawab secara jujur adalah pilihan yang paling tepat. Tidak perlu berlebihan, cukup sampaikan apa adanya. Misalnya dengan mengatakan bahwa memang belum ada, sembari meminta doa agar segera dipertemukan dengan yang terbaik.

"Kalau ternyata itu hanya basa-basi, kita juga bisa menjawab dengan cara yang santai saja, misalnya tetap minta didoakan. Setelah itu kita bisa mengalihkan pembicaraan atau berpindah dari situasi tersebut. Karena sebenarnya saat Lebaran kita boleh berada dalam kondisi hemat energi. Kita tidak harus terus-menerus merasa tertekan dengan pertanyaan seperti itu," tambah Faza.

3. Ambil micro break kalau sudah mulai draining

ilustrasi lebaran
ilustrasi lebaran (unsplash.com/Clique Images)

Namun, bagaimana jika kita sudah terlanjur tersinggung sebelum sempat menyiapkan respons yang tepat? Wajar saja jika muncul rasa lelah atau kesal, terutama ketika pertanyaan serupa terus berulang dari satu orang ke orang lain sepanjang acara berlangsung.

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam situasi ini adalah menyadari dan mengakui emosi yang muncul. Cukup akui dalam diri sendiri bahwa pertanyaan itu tidak nyaman, bahwa kita tidak suka ditanyakan hal tersebut. Sebab secara psikologis, mengakui emosi adalah langkah awal yang penting untuk menurunkan intensitasnya.

Sebaliknya, menyangkal perasaan tersebut, dengan pikiran seperti 'ah, ngapain tersinggung, lebay banget' atau 'kayaknya aku yang terlalu sensitif deh', justru akan membuat emosi itu bertahan lebih lama. Mode denial tidak menghilangkan perasaan, melainkan hanya menahannya di permukaan. Maka, langkah yang jauh lebih sehat adalah dengan validasi sederhana.

"Setelah validasi, coba lakukan micro break, istilahnya semacam kabur sebentar, tapi dengan cara yang elegan. Mundur dulu dari situasi itu. Misalnya: 'Oh itu, Tante, sepertinya kucingnya mau makan deh.' Dan itu okay. Boleh banget kita melakukan itu. Ambil napas dulu, keluar sebentar dari situasi itu," lanjut Faza.

4. Jangan jadikan momen ini sebagai penilaian dirimu sepenuhnya

ilustrasi Lebaran Idul Fitri
ilustrasi Lebaran Idul Fitri (pexels.com/RDNE Stock project)

Di tengah ramainya pertanyaan yang datang silih berganti, ada satu hal yang perlu selalu diingat, momen ini bersifat sementara. Acara kumpul keluarga hanya berlangsung beberapa jam dan setelahnya kita akan kembali menjalani kehidupan masing-masing. Bahkan, pertanyaan yang terasa menyudutkan hari ini kemungkinan besar sudah terlupakan oleh si penanya sebelum acara benar-benar selesai. Jadi, tidak perlu terlalu banyak menginvestasikan energi untuk hal-hal yang sifatnya sesaat.

Hal yang jauh lebih penting adalah belajar menghargai diri sendiri. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum tercapai, hingga lupa melihat seberapa jauh kita sudah melangkah. Padahal, progres sekecil apa pun tetaplah sebuah pencapaian yang layak untuk diapresiasi. Ketika kita sudah memiliki rasa harga diri yang kuat, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan lagi terasa sebagai serangan. Karena kita sudah tahu bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh timeline orang lain.

"Momen ini adalah momen yang sementara. Acara keluarga ini biasanya cuma beberapa jam. Jadi sebenarnya kalau kita keluar dari situ pun, kita akan hidup dengan kehidupan kita masing-masing lagi," pungkas Faza.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan atau hal yang terjadi saat kumpul keluarga di momen Lebaran bukan merupakan parameter kita untuk mengukur diri sendiri. Tetap aware dan jaga kesehatan mental diri sendiri, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us