Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Social Masking: Alasan Autisme Perempuan Telat Terdeteksi

Mengenal Social Masking: Alasan Autisme Perempuan Telat Terdeteksi
ilustrasi perempuan sedang membaca buku (openverse.com/tranmautritam)
Intinya Sih
  • Fenomena social masking membuat banyak perempuan autistik meniru perilaku sosial agar terlihat normal, namun hal ini menguras energi mental dan sering berujung pada burnout.
  • Kriteria diagnosis autisme yang berbasis perilaku laki-laki menyebabkan gejala khas perempuan sering terabaikan, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat dewasa.
  • Bias gender dalam sistem kesehatan memperparah keterlambatan diagnosis autisme pada perempuan, menegaskan pentingnya advokasi medis yang lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan perempuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menyambut Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April, salah satu isu yang mendesak untuk dibahas adalah ketimpangan diagnosis. Selama puluhan tahun, autisme dianggap sebagai kondisi yang dominan pada laki-laki, padahal kenyataannya banyak perempuan yang hidup dengan spektrum ini tanpa menyadarinya hingga dewasa.

Salah satu penyebab utamanya adalah fenomena yang disebut sebagai social masking. Yuk simak penjelasan mengapa diagnosis pada perempuan sering terlambat.

1. Mengenal fenomena social masking atau camouflaging

ilustrasi perempuan (unsplash.com/@silverkblack)
ilustrasi perempuan (unsplash.com/@silverkblack)

Melansir National Autistic Society, social masking adalah strategi kompensasi di mana individu autistik meniru perilaku sosial orang di sekitar mereka agar terlihat "normal".

Perempuan autistik cenderung lebih mahir dalam menghafal naskah percakapan, memaksakan kontak mata, hingga meniru ekspresi wajah teman sebayanya. Tujuannya adalah untuk menghindari perundungan atau stigma sosial. Namun, aktivitas "akting" yang terus-menerus ini sangat menguras energi mental dan sering berakhir pada burnout yang parah.

2. Kriteria diagnosis yang masih berbasis pada perilaku laki-laki

ilustrasi perempuan (unsplash.com/@elsatkw)
ilustrasi perempuan (unsplash.com/@elsatkw)

Melansir Scientific American, sejarah kriteria diagnosis autisme sebagian besar didasarkan pada observasi terhadap anak laki-laki. Hal ini menciptakan bias dalam dunia medis.

Gejala pada perempuan sering kali tampil berbeda. Jika anak laki-laki menunjukkan minat obsesif pada benda mati seperti mesin, anak perempuan mungkin menunjukkan hyperfocus pada topik yang dianggap "wajar" secara sosial, seperti hewan, buku, atau selebriti. Karena terlihat umum, guru dan orang tua sering kali luput melihat intensitas yang tidak biasa di balik minat tersebut.

3. Ekspektasi sosial terhadap perempuan yang lebih tinggi

ilustrasi perempuan (unsplash.com/@emilianovittoriosi)
ilustrasi perempuan (unsplash.com/@emilianovittoriosi)

Melansir The Lancet Child & Adolescent Health, masyarakat cenderung menuntut perempuan untuk lebih peka secara emosional dan pandai bersosialisasi. Tekanan ini memaksa anak perempuan autistik untuk belajar menekan ciri khas spektrum mereka sejak dini.

Lingkungan sering kali melabeli mereka hanya sebagai anak yang "pemalu" atau "pendiam". Padahal, di balik ketenangan itu, mereka sedang berjuang keras memproses informasi sensorik yang berlebihan dan mencoba memahami aturan sosial yang tidak tertulis.

4. Risiko salah diagnosis dengan gangguan mental lain

ilustrasi perempuan (unsplash.com/@lexoge)
ilustrasi perempuan (unsplash.com/@lexoge)

Melansir Journal of Autism and Developmental Disorders, karena gejalanya tertutup oleh masking, banyak perempuan autistik yang justru didiagnosis mengalami gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga gangguan makan (eating disorders).

Masalah emosional tersebut sebenarnya adalah dampak sekunder dari hidup di dunia yang tidak ramah terhadap cara kerja otak mereka. Tanpa diagnosis autisme yang tepat, akar masalahnya tidak pernah terselesaikan, sehingga terapi yang dijalani sering kali terasa kurang efektif.

5. Mengapa advokasi kesehatan perempuan tanpa diskriminasi itu krusial

ilustrasi perempuan (unsplash.com/@priscilladupreez)
ilustrasi perempuan (unsplash.com/@priscilladupreez)

Melansir UN Women, isu kesehatan perempuan secara global masih menghadapi tantangan besar karena adanya bias gender dalam penelitian dan layanan medis. Kasus keterlambatan diagnosis autisme ini hanyalah puncak gunung es dari sistem kesehatan yang sering kali mengabaikan keunikan biologis dan psikologis perempuan.

Sangat penting bagi kita untuk terus mengadvokasi kebutuhan kesehatan perempuan tanpa diskriminasi. Memberikan ruang bagi suara perempuan untuk didengar dalam ruang konsultasi medis bukan hanya soal keadilan sosial, tapi juga upaya memastikan kesejahteraan mental jutaan individu yang selama ini terpinggirkan oleh standar medis yang tidak inklusif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us