ilustrasi perempuan bersantai sambil membaca majalah (pexels.com/ArtHouse Studio)
Biasanya, kamu membaca berita di internet hanya karena judulnya muncul di beranda. Kamu membuka artikelnya, membaca beberapa paragraf, lalu beralih ke berita lain. Kamu merasa selalu ada informasi baru yang menunggu untuk dilihat. Di sisi lain, kamu merasa majalah menawarkan pengalaman membaca dengan ritme yang berbeda. Kamu menemukan salah satu artikel tentang sebuah kota yang belum pernah dikunjungi. Tulisan itu kemudian membawamu menyusuri jalan-jalannya, mengenal kebiasaan penduduk setempat, sampai memahami hal-hal kecil yang membuat tempat tersebut istimewa.
Kamu bisa berhenti pada satu foto, membaca ulang sebuah paragraf, atau menandai halaman untuk dibuka kembali nanti. Gak ada keharusan untuk menyelesaikannya saat itu juga. Bahkan, artikel yang sama bisa terasa berbeda ketika kamu membacanya beberapa bulan kemudian.
Lindsey Tramuta, jurnalis di Paris, menggambarkan majalah sebagai, “Objek yang menarik untuk dikoleksi, memiliki sudut pandang tersendiri, sekaligus mencerminkan status pemiliknya,” dikutip dari The Guardian.
Di sinilah kamu menemukan daya tariknya. Sebuah majalah gak harus selalu mengikuti kecepatan informasi di internet. Kamu bisa membacanya sesuai dengan suasana hati, menyimpannya, lalu kembali menemukan sesuatu yang sebelumnya mungkin sempat terlewat.
Malam itu, ponselmu kembali tergeletak di samping tempat tidur. Bedanya, kali ini tanganmu justru meraih majalah yang sampulnya sudah sedikit terlipat. Kamu membuka satu halaman, berhenti pada sebuah foto, lalu membaca cerita di baliknya sampai selesai. Tanpa sadar, waktu berlalu dan kamu masih berada di halaman yang sama. Kali ini, gak ada keinginan untuk buru-buru beralih ke hal lain. Kamu cuma ingin tahu bagaimana cerita di artikel majalah itu berakhir.