Ilustrasi abu vulkanik (magnific.com/magnific.com)
Ketika bencana terjadi, bukan hanya rasa takut yang muncul, tetapi juga berbagai kesulitan yang harus dihadapi. Untuk kondisi seperti ini, dalam Al-Adzkar terdapat doa yang memohon rahmat, ampunan, keselamatan, serta agar kesusahan diberikan jalan keluar.
Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaanallaahi rabbil ‘arsyil ‘azhiim, alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. As’aluka muujibaati rahmatika, wa ‘azaa-ima maghfiratika, wal-ghaniimata min kulli birrin, was-salaamata min kulli itsmin. Laa tada’ lii dzanban illaa ghafartahu, wa laa hamman illaa farrajtahu, wa laa haajatan hiya laka ridhan illaa qadhaitahaa yaa arhamar-raahimiin.
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemurah. Maha Suci Allah, Tuhan Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang mendatangkan rahmat-Mu, segala sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, memperoleh segala kebajikan dan keselamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa bagiku kecuali Engkau mengampuninya, tidak pula kesusahan kecuali Engkau melapangkannya, dan tidak pula suatu kebutuhan yang Engkau ridai kecuali Engkau memenuhinya, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Doa ini berisi permohonan yang cukup lengkap, mulai dari ampunan hingga kelapangan atas kesusahan yang sedang dihadapi. Jadi ketika keadaan terasa berat, doa bisa menjadi salah satu cara untuk menenangkan hati sekaligus menguatkan diri untuk melewati situasi tersebut.
Pada akhirnya, berdoa saat menghadapi bencana bukan berarti mengabaikan usaha untuk menyelamatkan diri. Tetap ikuti informasi resmi, patuhi arahan petugas, dan utamakan keselamatan sambil memohon perlindungan kepada Allah SWT.