Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dua Perempuan Satu Misi, Dampak Lokal Pasca Eisenhower Fellowship

Dua Perempuan Satu Misi, Dampak Lokal Pasca Eisenhower Fellowship
Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)

Jakarta, IDN Times - 70 tahun sejak berdirinya, Eisenhower Fellowships (EF) terus menghadirkan pengalaman kepemimpinan internasional yang unik. Program ini menawarkan perjalanan eksplorasi selama empat hingga enam minggu yang dirancang khusus sesuai minat dan keahlian setiap Fellow, memberikan mereka peluang untuk menjadi pemimpin di bidangnya.

Dengan jaringan global yang berisi lebih dari 1.600 pembawa perubahan aktif, EF menghubungkan para Fellow dengan pemimpin pemikiran, pembuat kebijakan, dan praktisi di seluruh dunia untuk berbagi praktik terbaik dan memperkuat dampak keterlibatan sosial mereka.

Dua perempuan inspiratif, Desy Bachir dan Hanna Keraf, baru saja kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan fellowship ini. Dengan pengalaman dan wawasan baru yang mereka peroleh, Desy dan Hanna siap memperluas kontribusi mereka terkait dengan keterlibatan perempuan di ranah ekonomi kreatif. Yuk, simak perjalanan keduanya dan apa misi yang mereka bawa ke Indonesia!

1. Mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang penting sembari menjalin jejaring

Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)
Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)

Hal pertama dan utama yang ditekankan oleh Hanna dan Desy adalah benefit program yang bisa mempertemukan mereka dengan tokoh-tokoh terkemuka dan impactful. Sebagai seorang profesional di ranah ekonomi kreatif, Desy mengungkapkan bahwa ia bersyukur bisa bertemu dengan founder dari South by Southwest, sebuah konglomerasi tahunan film paralel, media interaktif, festival serta konferensi musik.

"Kalau aku sih yang paling menarik banget ditemuin ya founder-nya South by Southwest, karena selama ini hanya ada di angan-angan aja. Aku juga sempat ke Boise, Ibu Kota Idaho. Uniknya, Boise ini merupakan kota yang progresif di state yang konservatif. Boise adalah city pertama yang punya cultural planner yang ada bagian dari government. 

Itu adalah pertama kalinya kota di Amerika tuh ada yang seperti itu. Aku ketemu dengan salah satu city planner-nya, Matilda Bubb, dan disambut dengan antusias karena dia tahu bahwa Indonesia itu merupakan negara ketiga dengan ekonomi kreatif yang paling maju," tutur Desy, Co-chairperson Ideafest saat memaparkan mengenai pengalamannya selama mengikuti Eisenhower Fellowship di HQ Makna Coffee, Rabu (04/12/2024) 

Menurutnya, di Boise, dampak ekonomi kreatif menjadi perhatian besar, hingga melibatkan universitas dalam riset mengenai pengaruhnya terhadap ekonomi. Salah satu hal yang dipelajarinya adalah pentingnya membuat laporan dampak (impact report) untuk menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang bagaimana kreativitas bisa membentuk roda ekonomi. 

Sementara itu, Hanna juga menyampaikan bahwa dirinya berkesempatan bertemu dengan Joe Guinan, Executive Director dari Democracy Collaborative, sebuah pusat penelitian nirlaba tentang ekonomi politik. Dalam pertemuannya, ia pun saling membagikan dan berdiskusi mengenai pentingnya memanfaatkan sektor ekonomi di lingkup lokal. 

"Movement ini awalnya mulai di Detroit, waktu kota itu lagi jaya-jayanya sama industri pabrik. Tapi, begitu pabrik-pabrik itu cabut, tiba-tiba banyak banget pekerja yang jadi nganggur. Nah, salah satu solusi dari movement ini adalah bisnis-bisnis yang ada itu dibangun dengan fokus memastikan semua sumber daya dan pekerjaannya datang dari lokal.

Menurutku, ini menarik banget karena Indonesia itu kan kepulauan, dan masing-masing daerah sebenarnya bisa mandiri. Tapi sering banget daerah harus bergantung ke Jakarta, yang bikin semuanya jadi mahal banget. Misalnya di NTT, terutama di Labuan Bajo. Kenapa gak produk-produk di sana lebih fokus ke potensi lokal? Bahan bakunya dari sana, pekerjanya juga dari lokal. Intinya, gimana caranya uang yang masuk itu tetap muter di daerah itu aja. Makanya waktu ngobrol sama Joe, semuanya tuh nyambung banget," ungkap Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi saat menceritakan pengalamannya.  

2. Sebut masih kurang rekognisi, fellowship ini dimanfaatkan untuk mengekspos Indonesia di mata dunia melalui second track diplomacy

Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)
Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)

Salah satu hal penting yang dirasakan selama Eisenhower Fellowship adalah pengalaman praktik langsung, seperti bertemu dengan konsulat jenderal di San Francisco dan New York. Dalam diskusi-diskusi tersebut, muncul pandangan bahwa Indonesia sebenarnya perlu lebih banyak "disuarakan" di tingkat internasional. Hal ini cukup ironis, karena Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menarik perhatian dunia, tetapi sering kali kurang terekspos.

"Salah satu alasannya adalah budaya masyarakat Indonesia yang cenderung enggan membahas hal-hal kecil atau bersikap terlalu "menonjol" dalam konteks tertentu, karena dianggap kurang sopan atau tidak elok," ucap Desy kepada awak media. 

Padahal, menurut Desy, menampilkan kelebihan yang dimiliki bukanlah masalah. Justru, hal inilah yang ingin ia tekankan lebih kuat ketika dirinya mengikuti Fellowship untuk memperkenalkan Indonesia dengan lebih luas. 

"Di minggu kedua, aku ketemu seseorang yang nanya, “Oh, kamu masih kerja bareng Netflix?” Aku cuma jawab santai, “Excuse me, aku udah sering banget kerja sama Netflix Indonesia.” Aku juga cerita kalau salah satu produksi film kami, Gadis Kretek, baru aja diproduksi untuk Netflix dan menang di ajang festival film internasional. Mereka kaget banget, kayak gak nyangka Indonesia udah sampai di level pengakuan internasional seperti itu.

Menurutku , ini bukti bahwa kemampuan bercerita soal pencapaian kita itu penting banget. Ini bisa jadi salah satu bentuk second track diplomacy, di mana kita ngenalin Indonesia ke dunia lewat karya-karya kita, termasuk film yang juga terhubung dengan negara-negara lain," ungkapnya. 

3. Dengan berfokus pada ekonomi kreatif, mereka tahu bagaimana Indonesia sebenarnya dipandang

Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi  saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)
Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)

Mengikuti fellowship ini bukan hanya memberikan rekognisi internasional, tetapi juga membuka mata Hanna dan Desy tentang bagaimana dunia memandang Indonesia. Mereka menyadari bahwa masih banyak yang belum tahu kalau Indonesia adalah negara dengan ekonomi kreatif terbesar ketiga di dunia.

“Mereka kaget banget saat tahu seberapa besar Indonesia sebenarnya. Banyak yang gak nyangka kalau Indonesia itu bukan cuma Jakarta, tapi negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia. Dari situ, aku sadar bahwa kita, sebagai warga Indonesia, punya peran besar dalam diplomasi, terutama karena apa yang bisa dilakukan pemerintah itu terbatas,” jelas Hanna.

Desy menambahkan bahwa dalam setiap pertemuan, ia selalu memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari Indonesia yang memiliki kekuatan besar di sektor ekonomi kreatif. Namun, baginya, ini bukan sekadar soal memperkenalkan Indonesia ke dunia, tetapi juga tentang mengedukasi masyarakat Indonesia sendiri soal kurangnya rekognisi ini. Menurut Desy, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi pemain global.

“Setiap kali memperkenalkan diri, aku selalu bilang bahwa aku datang dari negara yang menjadi ekonomi kreatif terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Reaksinya biasa saja soal AS dan Korea Selatan, tapi begitu mendengar Indonesia ada di daftar itu, mereka langsung tertarik. Bahkan, beberapa mulai bertanya lebih jauh, misalnya, ‘Kalau aku mau booking project ini, apa Indonesia juga cocok?’” cerita Desy.

“Jawabannya, sebenarnya iya, Indonesia punya potensi besar. Tapi masalahnya bukan cuma soal uang, melainkan soal akses. Saat ini, kekuatan kita terletak pada bagaimana membuka akses itu. Tanpa akses yang memadai, potensi sebesar apa pun tetap sulit untuk dimanfaatkan maksimal,” pungkasnya.

4. Dampak dan kontribusi yang dibawa diharapkan dapat mendorong peran perempuan di ekonomi kreatif

Jabaran misi dan program yang akan dibawakan oleh Desy Bachir dan Hanna Keraf setelah mengikuti Eisenhower Fellowship di Amerika Serikat. 4 Desember 2024. (IDN TImes/Hani Safanja)
Jabaran misi dan program yang akan dibawakan oleh Desy Bachir dan Hanna Keraf setelah mengikuti Eisenhower Fellowship di Amerika Serikat. 4 Desember 2024. (IDN TImes/Hani Safanja)

Baik Hanna maupun Desy, keduanya memiliki fokus dan minat untuk mengembangkan peran perempuan di ranah ekonomi kreatif. Namun, mereka memiliki isu yang berbeda untuk diangkat. Hanna Keraf misalnya, perempuan berdarah Indonesia Timur ini memiliki misi untuk mengembangkan bisnis anak-anak perempuan di NTT.

"Minggu lalu, aku ketemu dengan ITC yang berada di bawah UN dan dari ITC sendiri tuh mereka punya movement dengan nama SheTrades. SheTrades itu biasanya membantu usaha-usaha pemerintah di seluruh dunia untuk bisa export. Nah, ITC kemudian mau membuat inisiatif baru untuk indigenous people atau masyarakat adat.

Nah, tiba-tiba aku diajak ketemu partner dan kemudian salah satu yang dibahas bersama dengan mereka adalah gimana kita bisa fokus ke anak-anak muda, terutama perempuan yang berasal dari misalnya suku-suku di NTT. Salah satunya yang bakal di follow-up itu adalah anak-anak muda perempuan NTT yang sudah bisa kita escalate bisnisnya atau yang baru mau mulai ya," ucap Hanna. 

Di sisi lain, Desy juga memiliki semangat yang sama terkait dengan perkembangan ekonomi kreatif. Sebagai Co-chair Ideafest, ia pun menekankan pentingnya kolaborasi yang terjalin, terutama bagi para perempuan. 

"Berangkat dari ketidaknyamanan yang bersanding dengan laki-laki di level managerial, jadi aku sedang mencari orang-orang sebagai kelompok kerja untuk women empowerment. Jadi lagi nyari-nyari dan mengumpulkan yang punya like-minded vision, like-minded goals gitu. Rencananya sih semoga tahun depan sudah ke-establish kelompok kerjanya," ujar Desy. 

Namun, ia juga menekankan meskipun misinya bertujuan sebagai women empowerment, ia tidak ingin meluputkan peran laki-laki. Untuk itu, Desy berharap bahwa ia juga dapat menumbuhkan kelompok kerja dengan konsep male allyship, atau lingkungan ketika laki-laki dari kelompok yang diuntungkan bekerja sama dengan perempuan untuk menantang ketidaksetaraan gender dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. 

"Ya fellowship ini juga menurutku pribadi sesuatu yang sangat bagus sih. Kayanya akses dan interaksi itu sangat penting, jadi mau pengen bikin fellowship untuk perempuan-perempuan yang sekarang sudah menjadi leader di program ekonomi kreatif dan mungkin di lingkungan kecil mereka. Intinya, aku pengen kasih mereka akses ke bidang-bidang yang udah lebih mumpuni lah di bidangnya supaya mereka juga bisa expand," tambahnya. 

5. Terakhir, keduanya berpesan pentingnya berkontribusi dan mencoba Eisenhower Fellowship

Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)
Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)

Hanna dan Desy sepakat bahwa pengalaman mengikuti Eisenhower Fellowship bukan hanya membuka pintu kesempatan, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana berkontribusi untuk Indonesia di level global. Menurut mereka, program ini bukan sekadar ajang networking atau menambah pengalaman, tetapi benar-benar membantu setiap individu menemukan cara untuk memperbesar dampak dari apa yang mereka lakukan.

"Eisenhower Fellowship sebenarnya mencari kandidat yang merasa masih ada hal yang belum diselesaikan dalam diri mereka. Program ini lebih fokus pada mereka yang sudah memiliki konsistensi dalam karier dan pengalaman, namun tetap memiliki keinginan untuk terus belajar dan berkembang. Salah satu prinsip penting dari fellowship ini adalah mindset bahwa "setiap orang pasti tahu sesuatu yang kita tidak tahu." Walaupun pengetahuan atau pengalaman tersebut mungkin terlihat kecil, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari orang lain. Inilah yang membuat penting untuk selalu terbuka dan siap belajar dari perspektif orang lain," ungkap Hanna. 

Selain itu, Desy juga menyampaikan bahwa program ini membuka peluang baru bagi setiap orang untuk berkontribusi pada kemajuan negara, baik di komunitas maupun di lingkungan kerja mereka, melalui keterlibatan aktif. 

"Menurut aku, tanggung jawab dalam layanan publik itu penting banget dan perlu terus dikembangkan. Layanan publik gak cuma tentang peran presiden atau pemerintah, tapi juga bisa dilakukan dalam komunitas kita sendiri, di lingkungan kerja, atau dalam interaksi sehari-hari. Ini adalah bentuk keterlibatan yang bisa terus kita lakukan demi kemajuan negara, mulai dari hal-hal kecil. Aku pribadi merasa sangat bangga dengan Indonesia, terutama ketika berada di luar negeri. Bisa mewakili Indonesia dan memberikan perspektif baru tentang negara kita, bukan cuma ke orang-orang di Amerika, tapi juga ke fellow-fellow dari negara lain, itu sesuatu yang luar biasa," tutup Desy. 

Share
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
Hani Safanja
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us