Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Emily Brontë, Novelis dengan Karya Tunggal Fenomenal 'Wuthering Height

Emily Brontë, Novelis dengan Karya Tunggal Fenomenal 'Wuthering Height
Ilustrasi Emily Brontë (poetryfoundation.org)
Intinya Sih
  • Emily Brontë berasal dari keluarga penulis terkenal abad ke-19 di Inggris, bersama Charlotte dan Anne Brontë yang juga menghasilkan karya sastra klasik.
  • Masa kecil Emily penuh kehilangan dan pengalaman pahit di sekolah, yang kemudian memengaruhi nuansa gelap dalam karyanya, terutama Wuthering Heights.
  • Wuthering Heights diterbitkan tahun 1847 dengan nama pena Ellis Bell, awalnya dikritik keras namun kini diakui sebagai salah satu novel klasik terbaik bahasa Inggris.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Merupakan suatu kejadian yang amat langka, ketika ada seorang novelis yang hanya menelurkan satu karya novel, tapi namanya tetap dikenang hingga sekarang. Dialah Emily Brontë, sosok penulis misterius di balik karya 'Wuthering Heights' yang kembali jadi perbincangan.

Di tahun 2026 ini, karyanya mulai mencuat kembali melalui adaptasi film dan serial, membuat sosok novelis di belakangnya ikut dikulik. Siapakah sebenarnya Emily Brontë dan bagaimana asal-usul serta kehidupannya semasa hidup dahulu? Berikut, IDN Times telah merangkumnya dari berbagai sumber.

1. Keluarga Brontë adalah keluarga yang melahirkan beberapa penulis besar pada abad ke-19 di Inggris

Lukisan bersaudara Brontë karya Branwell Brontë
Lukisan bersaudara Brontë karya Branwell Brontë (britannica.com)

Emily Jane Brontë lahir di Thornton, Yokshire, Inggris, pada tanggal 30 Juli 1818. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Patrick Brontë, seorang pendeta Anglikan asal Irlandia yang kemudian bekerja di Inggris. Ia dikenal sangat menghargai pendidikan dan mendorong anak-anaknya untuk belajar membaca dan menulis. Ibunya bernama Maria Branwell Brontë, berasal dari keluarga pedagang di Cronwall. Malangnya, pada tahun 1821, ia meninggal dunia akibat kanker. Saat itu, Emily Brontë baru berusia 3 tahun.

Emily memiliki lima suadara kandung, di mana beberapa di antara mereka juga menjadi penulis besar di abad ke-19 dan memberi warna baru bagi dunia sastra Inggris saat itu. Sebut saja, Charlotte Brontë penulis terkenal Jane Eyre, Anna Brontë penulis The Tenant of Wildfell Hall, dan Branwell Brontë, satu-satunya suadara laki-laki Emily yang berbakat melukis dan menulis, namun hidupnya bermasalah dengan alkohol dan opium.

Sedangkan kedua kakak perempuan tertua Emily yang lain, Maria Brontë dan Elizabeth Brontë meninggal ketika masih remaja, akibat wabah yang terjadi di asrama sekolah mereka. Sementara, Emily Brontë sendiri merupakan penulis dari novel Wuthering Heights, yang merupakan satu-satunya karya novel ciptaannya.
Bisa dibilang keluarga Brontë adalah keluarga yang melahirkan beberapa nama penulis besar di Inggris pada abad ke-19. Hal ini tentu tak terjadi dalam semalam. Sejak kecil, Emily dan kedua saudarinya menghabiskan masa kecil mereka dengan membaca, menulis puisi, dan membuat cerita karangan.

Dikutip dari Biography, di tahun 1846, saat usianya 28 tahun, Emily bersama dengan Charlotte dan Anna Brontë sempat menerbitkan buku kumpulan puisi mereka yang diberi judul 'Poems of Currer, Ellis, and Acton Bell'. Nama-nama tersebut merupakan nama samaran dari ketiga bersaudara ini. Mereka memilih nama maskulin agar karya mereka tidak dicurigai dan diteliti berdasarkan gender pada masa itu. Sayangnya, buku tersebut hanya terjual sebanyak dua eksemplar.

2. Masa kecil yang penuh kehilangan

Emily Brontë
Emily Brontë (britannica.com)

Dilansir discoverbritain, keluarga Brontë sempat berpindah tinggal ke desa Haworth tempat ayah mereka, Patrick, yang bekerja sebagai pendeta tetap. Emily harus kehilangan sang ibu di usia tiga tahun akibat penyakit kanker. Setelah itu, Emily dan saudari-saudarinya dikirim ke sekolah khusus bagi anak perempuan pendeta, Clergy Daughters' School, di Cowan Bridge, Lancashire, namun sayangnya di sana mereka justru mengalami pelecehan.

Kedua kakak perempuan Emily, Maria dan Elizabeth meninggal tak lama setelah wabah tifus menyerang sekolah mereka pada tahun 1824. Serangkaian peristiwa kehilangan ini sering dianggap memengaruhi suasana melankolis dan gelap pada diri Emily Brontë, yang kemudian muncul dalam karya Wuthering Heights. Pengalaman pahit ini juga diduga menginspirasi Charlotte Brontë saat menulis novel Jane Eyre, terutama tentang gambaran sekolah keras bernama Lowood School.

3. Sempat mencoba peruntungan sebagai pengajar

Lukisan Emily karya Branwell Brontë
Lukisan Emily karya Branwell Brontë (britannica.com)

Setelah kematian kedua saudari tertuanya, Emily melanjutkan studi non formal bersama kedua saudara perempuannya, Charlotte dan Anna, serta saudara laki-laki mereka, Branwell. Meskipun tak lagi mengenyam pendidikan di sekolah formal, namun Brontë bersaudara ini mendapatkan akses penuh ke perpustakaan ayah mereka. Dari sinilah mereka banyak membaca dan menulis, hingga menghasilkan majalah keluarga yang menampilkan cerita dan puisi mereka.

Pada tahun 1837, Emily menjadi guru di Sekolah Law Hill. Sayangnya, karena tekanan kerja dan kondisi kesehatan yang terus menurun, Emily memilih untuk meninggalkan pekerjaan itu. Setelah mengajar bahasa asing dalam waktu singkat di Pension Héger, Brussels, pada tahun 1842 ia kembali menetap di Haworth.

Alasan Emily menjadi guru karena ingin membantu perekonomian keluarga dan mengikuti langkah saudaranya yang juga terjun sebagai pengajar. Namun ternyata, profesi dengan aturan ketat yang baku tidak cocok dengan kepribadian Emily Brontë yang mencintai kebebasan.

4. Karier kepenulisan Emily Brontë

Lukisan karya Branwell Brontë
Lukisan karya Branwell Brontë (biography.com)

Awal mula Emily dan kedua saudarinya, Charlotte dan Anna Brontë menerbitkan buku kumpulan puisi mereka merupakan kisah yang menarik tentang keberanian tiga penulis perempuan di abad ke-19. Di mana pada masa itu, banyak stigma negatif pada perempuan yang berkarya melalui tulisan.

Sejak kecil, Emily, Charlotte, dan Anna Brontë memang gemar menulis cerita dan puisi. Mereka tumbuh dengan banyak buku bacaan di sekitarnya. Bahkan dikutip dari Britannica, saat kecil, bersama Anna, Emily menciptakan kerjaaan khayalan bernama Gondal dan mereka menulis prosa serta puisi tentang kerajaan tersebut. Kebiasaan ini secara perlahan mengasah kemampuan mereka dalam menulis karya sastra.

Pada tahun 1845, tanpa sengaja, Charlotte menemukan buku catatan yang berisi kumpulan puisi milik Emily. Ia membacanya dan langsung terkesan dengan kekuatan serta ketajaman puisi-puisi tersebut. Awalnya Emily tidak suka tulisannya dibaca tanpa izin, tapi pada akhirnya Charlotte bisa meyakinkannya kalau karya ini layak untuk dipublikasikan.

Akhirnya, di tahun 1846, ketiganya sepakat menerbitkan buku kumpulan pusisi mereka. Mereka sadar, bahwa pada masa itu penulis perempuan terlalu diawasi ketat, sehingga mereka memilih menggunakan nama pena laki-laki. Buku mereka yang berjudul "Poems of Currer, Ellis, and Acton Bell' dicetak dengan biaya pribadi melalui sebuah penerbit di London.

Ide menerbitkan karya puisi bersama ini dianggap sebagai titik awal munculnya rasa percaya diri pada diri ketiga bersaudara Brontë. Meskipun buku pertama mereka tidak sukses di pasaran, karena cuma terjual dua dari sekitar 1000 eksemplar. Setelahnya, Emily, Charlotte, dan Anna Brontë, melahirkan karya sastra mereka masing-masing dan menerbitkannya, hingga dikenal sebagai karya sastra Inggris yang berkualitas.

Charlotte Brontë menulis empat judul buku, yakni Jane Eyre (1847), Shirley (1849), Villette (1853), dan The Professor (1857). Anna Brontë menulis dua judul buku, yakni Agnes Grey (1847) dan The Tenant of Wildfell Hall (1848). Sementara Wuthering Heights (1847) menjadi satu-satunya novel yang ditulis Emily Brontë, yang kemudian menjadi salah satu karya klasik paling terkenal dalam dunia sastra Inggris.

5. Proses lahirnya Wuthering Heights dan kematian sang Novelis

Museum Brontë Parsonage yang terletak di Haworth, Inggris
Museum Brontë Parsonage yang terletak di Haworth, Inggris (biography.com)

Emily Brontë menulis Wuthering Heights sekitar tahun 1845-1846, ketika dirinya tinggal di rumah keluarganya di Haworth, Yorkshire. Pada masa itu, Emily lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis puisi.

Kemudian pada tahun 1847, Wuthering Heights diterbitkan dengan mencantumkan nama pena Ellis Bell, karena pada masa itu penulis perempuan kerap dipandang sebelah mata dan terlalu diawasi. Terbitnya Wuthering Heights  bersamaan dengan karya saudari perempuannya, Anna Brontë, yakni Agnes Grey.

Dilansir Britannica, Wuthering Heights saat diterbitkan pada Desember 1847 tidak berjalan dengan baik. Para kritikus bersikap negatif, menyebutnya terlalu brutal, terlalu seperti binatang, dan canggung dalam kontruksinya. Baru kemudian novel ini dianggap sebagai salah satu novel terbaik dalam bahasa Inggris dan contoh luar biasa dari fiksi Gotic.

Sayang, tak berselang lama setelah novelnya diterbitkan, kesehatan Emily mulai turun drastis. Ia meninggal pada 19 Desember 1848 di rumah keluarganya di Haworth, Yorksire, Inggris, di usia 30 tahun, sekitar satu tahun setelah novel tunggalnya diterbitkan.

Penyebab kematian Emily Brontë dipercaya diakibatkan oleh penyakit tuberkulosis yang memang banyak merenggut nyawa di Inggris pada abad ke-19. Ia kemudian dimakamkan di gereja St. Michael and All Angels di Haworth, tempat di mana sang ayah mengabdi sebagai pendeta. Kematian Emily Brontë di usia yang terbilang muda sering dianggap sebagai akhir tragis dari kehidupan seorang penulis berbakat.

Perjalanan hidup Emily Brontë tak pernah bisa dilepaskan dari keluarga, terutama kedua saudarinya. Bersama, mereka belajar, bertumbuh, dan berkarya di dunia sastra. Hingga akhir hayatnya, karya Emily Brontë tetap dikenang hingga sekarang. Itu dia sekelumit profil penulis Inggris, Emily Brontë. Semoga kita bisa mengambil pelajaran baik dari kisah hidupnya, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us