Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jangan Mengucap Syukur saat Orang Lain Berduka, Empati, yuk!

Jangan Mengucap Syukur saat Orang Lain Berduka, Empati, yuk!
ilustrasi bersyukur saat orang lain berduka (unsplash.com/Dottie Di Liddo)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti kebiasaan warganet yang mengucap syukur di kolom komentar berita duka, yang tanpa sadar bisa menyakiti keluarga korban.
  • Rasa syukur sebaiknya disampaikan secara pribadi, bukan diumumkan di ruang publik saat orang lain sedang berduka agar tidak terkesan mencari pengakuan.
  • Empati perlu dilatih dengan memahami konteks dan menahan diri untuk tidak menjadikan momen kehilangan orang lain sebagai ajang bercerita tentang diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap kali ada berita kecelakaan besar, kolom komentar selalu ramai dengan satu pola yang sama. Bukan ungkapan belasungkawa, tapi cerita tentang diri sendiri yang kebetulan selamat karena satu hal atau lainnya. Niatnya mungkin bersyukur, tapi konteksnya sering kali tidak tepat.

Bersyukur itu baik dan perlu. Tapi ada bedanya antara syukur yang tulus dan syukur yang tanpa sadar menyakiti orang lain. Kalau kamu pernah atau sering melihat ini di media sosial, artikel ini layak dibaca sampai selesai untuk menjadi bahan renungan agar jangan mengucap syukur saat orang lain berduka.

1. Kolom komentar bukan tempat untuk cerita tentang dirimu sendiri

ilustrasi berkomentar
ilustrasi berkomentar (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Ketika berita kecelakaan muncul dan ratusan orang berkomentar, keluarga korban tidak jarang ikut membaca. Mereka mencari informasi, mencari kabar, atau sekadar ingin tahu bagaimana publik merespons kehilangan mereka. Lalu mereka menemukan komentar seperti "alhamdulillah tadi aku batal naik" atau "untung aku telat, jadi gak jadi berangkat."

Komentar itu mungkin tidak dimaksudkan untuk menyakiti siapa pun. Tapi bagi keluarga yang sedang menunggu kabar atau baru saja kehilangan anggota keluarganya, membaca kalimat seperti itu terasa seperti tamparan. Kolom komentar di berita duka bukan panggung untuk berbagi pengalaman pribadi, seberapapun relevannya menurutmu.

2. Syukur adalah urusan antara kamu dan Tuhan, bukan konsumsi publik

ilustrasi bersyukur
ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Masjid MABA)

Tidak ada yang salah dengan rasa syukur karena selamat dari sesuatu, entah itu musibah atau apa pun. Tuhan memang layak disyukuri atas setiap kesempatan hidup yang diberikan kepada kamu. Masalahnya bukan pada rasa syukurnya, tapi pada pilihan untuk mengumumkannya di momen yang salah dan di tempat yang salah.

Syukur yang tulus tidak butuh penonton. Kalau kamu benar-benar bersyukur, cukup sampaikan dalam doa atau ceritakan kepada orang terdekat secara pribadi. Mempostingnya di media sosial tepat saat orang lain sedang berduka itu bukan hal yang bijak, tapi malah seperti kebutuhan untuk diakui yang muncul di waktu yang tidak tepat.

3. Tanpa sadar, kamu sedang membandingkan nasib

ilustrasi bersyukur
ilustrasi bersyukur (unsplash.com/Ben White)

Kalimat "Alhamdulillah aku gak jadi naik" secara tidak langsung menyiratkan bahwa kamu lebih beruntung daripada korban. Padahal korban bukan orang yang tidak bersyukur atau kurang berdoa. Mereka hanya ada di tempat dan waktu yang berbeda, dan keluarga yang mereka tinggalkan tidak butuh pengingat soal itu.

Perbandingan nasib seperti ini terasa menyakitkan meski tidak disebut secara eksplisit. Orang yang berduka sudah cukup bergulat dengan pertanyaan "kenapa harus dia, kenapa bukan aku saja?" tanpa perlu membaca komentar yang semakin mempertegas pertanyaan itu. Empati dimulai dari kesadaran bahwa tidak semua yang kamu rasakan perlu dibagikan ke publik.

4. Momen duka itu bukan soal kamu

ilustrasi berduka
ilustrasi berduka (unsplash.com/The Good Funeral Guide)

Ada kecenderungan untuk mengaitkan peristiwa besar dengan pengalaman pribadi. Otak manusia memang bekerja seperti itu, mencari koneksi antara apa yang terjadi di luar dengan apa yang pernah dialami sendiri. Tapi mengungkapkannya di ruang publik saat orang lain sedang berduka adalah pilihan yang perlu dipertimbangkan ulang.

Momen duka itu milik mereka yang kehilangan. Momen seperti itu seharusnya diisi dengan doa, ucapan belasungkawa, atau bahkan keheningan. Bukan malah kamu isi dengan cerita tentang betapa beruntungnya kamu hari itu karena tak bernasib nahas.

5. Empati merupakan skill yang bisa dilatih

ilustrasi empati
ilustrasi empati (unsplash.com/Marcos Paulo Prado)

Tidak semua orang mahir atau bahkan memiliki kemampuan membaca situasi secara otomatis. Banyak yang memposting komentar seperti itu bukan karena tidak peduli, tapi karena memang belum terbiasa berpikir dari sudut pandang orang lain sebelum berbicara. Kabar baiknya, mindset egosentris dan serba “aku-aku-aku” semacam itu bisa berubah kalau mau dilatih.

Sebelum mengetik sesuatu di kolom komentar berita duka, coba tanya ke diri sendiri dulu, "Komentar ini untuk siapa?" Kalau jawabannya untuk dirimu sendiri, lebih baik tidak usah ditulis di sana. Empati bukan soal diam saja, tapi soal tahu kapan giliran kamu untuk bicara dan kapan giliran kamu untuk memberikan ruang bagi orang lain yang tengah bersedih karena kehilangan.

Bersyukur dan berempati itu bukan dua hal yang saling bertentangan. Kamu tetap bisa merasa lega dan bersyukur tanpa harus mengatakannya di tempat yang salah. Tahu kapan harus diam juga merupakan salah satu bentuk kepedulian yang ternyata tak semua orang miliki di era serba digital ini. Mulai dari sekarang, jangan mengucap syukur saat orang lain berduka, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More