ilustrasi stres (unsplash.com/Rifki Kurniawan)
Meski bisa membantu membangun hubungan, dorongan untuk membalas kebaikan juga punya sisi lain. Masalah bisa muncul ketika seseorang memberikan sesuatu dengan harapan mendapatkan balasan tertentu, lalu membuat penerimanya merasa wajib memenuhi harapan tersebut. Dalam situasi seperti ini, hubungan yang awalnya terasa saling membantu bisa berubah menjadi hubungan yang terasa transaksional. Kamu akhirnya melakukan sesuatu bukan karena ingin membantu, tapi karena merasa gak enak jika menolak.
Konsep reciprocity sendiri perlu dibedakan dari anggapan bahwa setiap pemberian pasti harus menghasilkan balasan tertentu. Gouldner membahas reciprocity sebagai norma sosial, tapi konsep tersebut gak berarti semua hubungan harus berjalan dengan perhitungan yang sama persis. Karena itu, penting untuk tetap melihat konteks, niat, dan batasan dalam sebuah hubungan agar dorongan membalas kebaikan gak berubah menjadi tekanan.
Timbal balik ternyata punya peran cukup besar dalam cara kamu membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Dorongan untuk membalas kebaikan bisa muncul karena norma sosial, tapi penelitian juga menunjukkan bahwa rasa berutang dan rasa syukur memiliki fungsi psikologis yang berbeda.
Memahami perbedaannya bisa membantumu menyadari kenapa kamu merasa ingin membalas bantuan seseorang atau justru ingin semakin dekat dengannya. Pada akhirnya, hubungan yang sehat gak harus selalu dihitung berdasarkan siapa memberi dan siapa membalas, tapi tetap membutuhkan rasa saling menghargai dan batasan yang wajar.