Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Bikin Hidup 2016 Terasa Lebih Sederhana Dibanding 2026

5 min read
5 Hal yang Bikin Hidup 2016 Terasa Lebih Sederhana Dibanding 2026
Ilustrasi merenung (unsplash.com/Photo by Vitaliy Shevchenko)
Share Article

Ada masa ketika hidup terasa berjalan dengan ritme yang lebih pelan. Sekitar 2016, banyak orang masih mengingat kebiasaan seperti mengunduh lagu untuk didengarkan berulang kali, atau pergi ke suatu tempat tanpa harus terus membagikan aktivitas di media sosial. Bukan berarti masa itu benar-benar bebas masalah, tetapi beberapa kebiasaan sehari-hari memang terasa lebih sederhana jika dibandingkan dengan kehidupan digital yang lebih terasa seperti sekarang.

Sekarang teknologi menawarkan banyak kemudahan, mulai dari belanja instan hingga kecerdasan buatan yang membantu pekerjaan. Lima perubahan berikut bisa menjadi bahan refleksi mengapa kehidupan 2016 sering terasa lebih 'ringan' bagi sebagian orang, tanpa harus menganggap masa lalu selalu lebih baik.

  1. 1. Dulu notifikasi belum seramai sekarang

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

    Salah satu hal yang membuat kehidupan 2016 terasa lebih sederhana adalah intensitas notifikasi yang belum seperti sekarang. Ponsel pintar memang sudah digunakan untuk berkomunikasi, tetapi belum semua aktivitas terasa harus segera direspons. Pesan masuk, email, dan media sosial belum tentu menjadi gangguan yang hadir sepanjang hari.

    Pada 2026, satu orang bisa menerima notifikasi dari berbagai aplikasi, mulai dari percakapan pribadi, grup kerja, marketplace, media sosial, hingga platform hiburan. Akibatnya, waktu istirahat pun kadang terasa seperti waktu siaga. Perbedaannya bukan sekadar jumlah aplikasi, tetapi juga ekspektasi untuk selalu tersedia.

  2. 2. Hiburan dulu terasa lebih terbatas

    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

    Sekitar 2016, pilihan hiburan digital sebenarnya sudah berkembang pesat. YouTube, Instagram, Netflix, dan berbagai platform musik telah digunakan banyak orang. Namun, pengalaman menikmati konten sering kali masih terasa lebih terbatas karena belum semua platform mengandalkan aliran video pendek (short) seperti yang umum dijumpai sekarang.

    Ketika hiburan memiliki batas yang lebih jelas, seseorang lebih mudah menyadari kapan waktunya berhenti. Menonton satu episode, mendengarkan album, atau menunggu acara favorit tayang memberikan titik akhir yang lebih nyata. Sebaliknya, fitur autoplay dan infinite scroll dapat membuat aktivitas yang awalnya hanya lima menit berubah menjadi satu jam.

    "Sebagai contoh, fitur "infinite scroll" (guliran tak terbatas) dan pemutaran video otomatis pada platform media sosial, di mana konten terus dimuat saat pengguna menggulir layar ke bawah-mendorong aktivitas menjelajah tanpa henti dan dapat menyebabkan beban perhatian yang berlebihan," dikutip dalam tinjauan ilmiah The impact of digital technology, social media, and artificial intelligence on cognitive functions: a review dikutip dari Frontiers.

    Pernyataan ini berasal dari tinjauan penelitian mengenai teknologi digital dan fungsi kognitif, bukan klaim bahwa semua hiburan modern pasti buruk. Intinya, desain platform dapat memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian dan waktu.

  3. 3. Informasi yang masuk tidak sebanyak dan sekompleks sekarang

    Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
    Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Pada 2016, mencari informasi memang sudah mudah melalui mesin pencari dan media sosial. Namun, dalam keseharian, seseorang mungkin belum menghadapi arus konten yang sama padatnya seperti sekarang. Saat ini, satu topik bisa muncul dalam bentuk berita, video pendek, komentar, utas, podcast, iklan, dan opini yang saling bertumpuk.

    Kondisi tersebut membuat aktivitas sederhana seperti ingin mengetahui satu berita atau mencari rekomendasi barang bisa berkembang menjadi proses membandingkan banyak sumber. Belum lagi munculnya dorongan untuk mengikuti tren, memeriksa pembaruan, dan memastikan tidak ketinggalan percakapan. Bukan berarti informasi dulu selalu lebih akurat, melainkan jumlah dan kecepatannya terasa berbeda.

  4. 4. Batas antara waktu pribadi dan waktu kerja

    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena)
    Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena)

    Pada 2016, pekerjaan tentu sudah bisa dilakukan melalui laptop, email, dan ponsel. Namun, bagi sebagian orang, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mungkin masih terasa lebih jelas karena belum semua komunikasi berlangsung melalui banyak kanal secara bersamaan. Setelah pulang, seseorang bisa lebih mudah merasa bahwa urusan kantor memang sudah selesai, meskipun hal ini sangat bergantung pada jenis pekerjaan dan kebiasaan masing-masing.

    Pada 2026, bekerja dari mana saja menjadi lebih mudah berkat aplikasi kolaborasi, pesan instan, konferensi video, dan berbagai alat berbasis AI. Kemudahan ini membantu produktivitas, tetapi juga bisa membuat pekerjaan terasa 'selalu dekat'.

    Pesan yang masuk malam hari, permintaan revisi mendadak, atau notifikasi grup kerja dapat mengganggu waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. 'Konektivitas' ini dapat mengubah pengalaman fokus dan interaksi sehari-hari.

    "Rentang perhatian saya menjadi lebih pendek. Sulit untuk berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Interaksi tatap muka di rumah pun berkurang. Ini tidak baik,” kata Gabriel Kahn, profesor jurnalisme di University of Southern California dikutip dari Pew Research Center.

  5. 5. Kehidupan sosial terasa lebih banyak berlangsung di satu ruang

    Ilustrasi pasangan ngobrol (unsplash.com/Photo by Aleksey Cherenkevich)
    Ilustrasi pasangan ngobrol (unsplash.com/Photo by Aleksey Cherenkevich)

    Ada kesan bahwa pertemanan pada 2016 lebih sering berpusat pada pertemuan langsung, percakapan telepon, atau grup chat yang belum seramai ekosistem digital sekarang. Ketika berkumpul, orang mungkin lebih fokus pada orang-orang yang berada di hadapannya karena pilihan untuk terus berpindah ke konten lain belum sebesar saat ini.

    Pada 2026, hubungan sosial bisa berlangsung di banyak tempat sekaligus. Seseorang dapat mengikuti kabar teman melalui Instagram, TikTok, WhatsApp, Threads, dan berbagai platform lainnya. Kemudahan ini jelas membantu menjaga hubungan jarak jauh, tetapi juga bisa membuat seseorang merasa harus terus mengikuti kehidupan orang lain, membalas interaksi, atau menampilkan versi terbaik dirinya dan mungkin cukup melelahkan.

    "Terus-menerus terhubung secara daring terasa melelahkan dan mengganggu konsentrasi. Rasanya seolah-olah saya sedang tampil di hadapan para pembuat platform tersebut, alih-alih melakukan percakapan yang sesungguhnya. Ada terlalu banyak saluran yang berjalan secara bersamaan, dan sulit sekali untuk mengikutinya. Saya merasa terus-menerus kehilangan fokus," kata Dana Chisnell, co-director Center for Civic Design, dalam laporan Pew Research Center yang sama.

    Hidup 2016 mungkin bisa terasa lebih sederhana bagi sebagian orang dibanding 2026. Bukan karena masa lalu sepenuhnya bebas masalah, melainkan karena sebagian aktivitas belum sepadat, secepat, dan sesaling-terhubung sekarang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More