Pernah gak kamu berbicara dengan seseorang yang selalu merasa dirinya paling dirugikan dalam setiap masalah? Ketika terjadi konflik, orang tersebut seolah punya alasan untuk menjelaskan bahwa kesalahan sebenarnya bukan berasal darinya. Bahkan, ketika ada orang lain yang mencoba menyampaikan kritik, respons yang muncul justru membuat dirinya terlihat sebagai pihak yang paling tersakiti.
Pola seperti ini kadang membuat orang di sekitarnya merasa serba salah saat ingin menyampaikan pendapat. Situasi tersebut dapat menjadi lebih rumit ketika pola menyalahkan keadaan terus berulang dalam berbagai persoalan. Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan perilaku tersebut adalah playing victim.
Playing victim bukan sekadar merasa sedih atau mengakui bahwa dirinya pernah diperlakukan tidak adil. Seseorang yang sedang mengalami masalah memang wajar merasa kecewa, marah, atau membutuhkan dukungan dari orang lain. Namun, pola playing victim biasanya terlihat ketika seseorang terus menempatkan dirinya sebagai korban sambil menghindari tanggung jawab atas bagian dirinya dalam sebuah masalah.
Kalimat yang digunakan pun terkadang terdengar sederhana, tetapi dapat membuat lawan bicara merasa bersalah. Jika kamu mengenali pola tersebut, bukan berarti kamu harus langsung memberi label kepada orang tersebut. Lantas, kalimat seperti apa yang biasanya muncul dari seseorang yang cenderung playing victim?
