Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kata “Izin” dalam Komunikasi: Sopan atau Sekadar Kebiasaan?

4 min read
Kata “Izin” dalam Komunikasi: Sopan atau Sekadar Kebiasaan?
Ilustrasi diskusi (magnific.com/magnific)
  • Kata "izin" digunakan untuk membuka percakapan, meminta waktu, menyampaikan pendapat, meninggalkan ruangan, atau menghubungi seseorang, sekaligus menandai maksud dan batasan interaksi.
  • "Izin menginterupsi" dipakai untuk masuk ke pembicaraan yang berlangsung, sedangkan "izin bertanya" untuk meminta penjelasan; keduanya perlu mengikuti giliran dan alur diskusi.
  • Penggunaan "izin" bergantung pada konteks: cocok dalam forum formal untuk menjaga keteraturan, tetapi kesopanan tetap ditentukan oleh cara bicara dan penghargaan terhadap lawan bicara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

“Maaf, izin menginterupsi sebentar.” Kalimat ini mungkin terdengar familier saat kamu mengikuti rapat organisasi atau diskusi kelas. Ada juga ungkapan “izin bertanya” ketika ingin meminta penjelasan dari dosen atau pembicara. Meski sama-sama menggunakan kata "izin", keduanya punya tujuan berbeda: satu untuk masuk ke pembicaraan yang sedang berlangsung, sementara yang lain untuk mendapatkan kesempatan mengajukan pertanyaan.

Dalam keseharian, kata "izin" sering muncul di berbagai situasi, mulai dari meminta waktu, menyampaikan pendapat, meninggalkan ruangan, hingga menghubungi seseorang melalui pesan singkat. Penggunaannya bukan hanya berkaitan dengan tata krama, tetapi juga membantu menyampaikan maksud dan menunjukkan batasan dalam interaksi. Lalu, bagaimana kata "izin" digunakan dalam komunikasi sehari-hari, dan apa yang membedakan penggunaannya di setiap situasi?

  1. 1. Ketika “Izin” menjadi pembuka percakapan

    Ilustrasi diskusi
    Ilustrasi diskusi (magnific.com/tirachardz)

    Bayangkan, kamu sedang berada di grup kelas yang ramai. Kamu ingin bertanya tentang tugas, tetapi sebelum mengetik pertanyaannya, kamu lebih dulu menulis, “Izin bertanya, teman-teman.” Padahal, grup itu memang dibuat untuk berdiskusi. Namun, entah kenapa rasanya lebih nyaman membuka pesan dengan kata "izin" daripada langsung menuliskan pertanyaan.

    Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa cara kita memulai percakapan bisa memengaruhi bagaimana pesan diterima. Dalam buku Pragmatics of Human Communication (1967), Paul Watzlawick, Janet Beavin, dan Don Jackson menulis, “One cannot not communicate”. Artinya, kita gak bisa sepenuhnya lepas dari komunikasi, bahkan ketika memilih diam. Dalam konteks ini, pilihan kata seperti "izin" juga menjadi bagian dari cara kita menyampaikan maksud dan membangun interaksi dengan orang lain.

  2. 2. Izin menginterupsi dan izin bertanya, apa bedanya?

    ilustrasi diskusi
    ilustrasi diskusi (freepik.com/Freepik)

    Misalnya, kamu sedang mengikuti diskusi kelompok dan salah satu teman sedang menjelaskan pendapatnya. Tiba-tiba, kamu menyadari ada informasi yang perlu diluruskan. Kamu pun berkata, “Maaf, izin menginterupsi sebentar.” Ungkapan ini digunakan ketika kamu ingin masuk ke pembicaraan yang masih berlangsung. Sementara itu, “izin bertanya” biasanya digunakan ketika ingin meminta penjelasan, misalnya setelah dosen selesai menerangkan materi atau moderator membuka sesi tanya jawab.

    Perbedaan ini berkaitan dengan cara kita mengatur giliran bicara. Dalam buku The Presentation of Self in Everyday Life (1959), sosiolog Erving Goffman menjelaskan bagaimana orang mengelola kesan dirinya saat berinteraksi dengan orang lain. Dalam keseharian, penggunaan ungkapan seperti "izin" menginterupsi atau "izin" bertanya bisa menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita memahami situasi sosial dan posisi lawan bicara. Meski begitu, kata "izin" tetap perlu digunakan sesuai konteks: menginterupsi sebaiknya dilakukan ketika memang perlu, sedangkan bertanya perlu memperhatikan giliran dan alur diskusi.

  3. 3. Sopan karena kesadaran atau sekadar ikut kebiasaan?

    Ilustrasi diskusi
    Ilustrasi diskusi (magnific.com/magnific)

    Pernah gak kamu merasa ada yang kurang ketika langsung bertanya tanpa menulis “izin bertanya” terlebih dahulu? Bisa jadi, kamu sudah terbiasa melihat ungkapan itu digunakan di kelas, rapat, atau grup percakapan. Lama-kelamaan, kata izin menjadi bagian dari pola komunikasi sehari-hari, bahkan ketika berbicara dengan teman dekat dalam suasana santai.

    Kebiasaan ini gak selalu buruk. Dalam situasi formal, kata "izin" bisa membantu menjaga keteraturan dan menunjukkan rasa hormat. Namun, kesopanan gak hanya ditentukan oleh kata pembuka. Seseorang yang mengatakan “izin menginterupsi” tetapi terus memotong pembicaraan tentu tetap bisa dianggap kurang menghargai orang lain. Sebaliknya, pertanyaan yang disampaikan secara langsung dengan bahasa yang ramah juga bisa terasa sopan.

  4. 4. Perlukah selalu mengucapkan kata “Izin”?

    Ilustrasi diskusi
    Ilustrasi diskusi (magnific.com/wirestock)

    Jawabannya bergantung pada situasi. Ketika berbicara dengan dosen, atasan, atau dalam forum resmi, kata "izin" bisa menjadi pilihan yang sesuai. Namun, saat berbincang dengan teman dekat, kamu bisa menggunakan kalimat yang lebih santai, seperti “Aku mau tanya soal tugas tadi, boleh?” atau “Boleh aku menambahkan sedikit?” Maksudnya tetap tersampaikan tanpa harus selalu menggunakan kata "izin".

    Pada akhirnya, kata "izin" punya banyak fungsi dalam keseharian, mulai dari membuka percakapan, meminta giliran bicara, hingga mengajukan pertanyaan. Kita gak harus selalu menggunakannya dalam setiap situasi, tetapi juga gak perlu menghindarinya. Yang terpenting adalah memahami kapan ungkapan itu dibutuhkan dan bagaimana menyampaikan maksud dengan tetap menghargai orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More