Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Lulus Kuliah Lama Bikin Stres? Tak Selamanya Salahmu

4 min read
Kenapa Lulus Kuliah Lama Bikin Stres? Tak Selamanya Salahmu
ilustrasi mahasiswa stres (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Kelulusan kuliah yang tertunda dapat memicu stres karena mahasiswa terus menghadapi pertanyaan “kapan lulus”, sementara hambatan seperti sulitnya menemui pembimbing dan revisi berulang tidak sepenuhnya berada dalam kendali mereka.
  • Status mahasiswa akhir membuat pekerjaan sulit dijalani dengan tenang, memunculkan julukan “mahasiswa abadi”, serta memperkuat rasa tertinggal saat melihat teman sudah lulus, bekerja, atau menikah.
  • Perpanjangan studi menambah biaya kuliah dan hidup, terasa membuang waktu akibat menunggu bimbingan, serta dapat memengaruhi hubungan asmara; mahasiswa diimbau mengelola stres tanpa menyalahkan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu sudah semester berapa sekarang? Kalau kuliahmu terbilang molor, wajar apabila dirimu merasa stres. Sekalipun gak semua orang di sekitarmu bisa memahaminya. Mungkin malah tak sedikit orang yang meremehkan sumber stresmu.

Kata mereka, persoalan dirimu belum juga lulus bukan hal besar. Kamu dianggap terlalu lemah. Masih banyak masalah lain dalam hidup yang jauh lebih pantas bikin pusing. Apalagi di dunia kerja yang menurut mereka jauh lebih kompleks ketimbang kampus.

Pada akhirnya ini bukan tentang siapa atau apa yang paling pantas bikin stres. Setiap orang berada di fase hidupnya masing-masing. Kamu yang masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir juga wajar merasa stres kalau tak kunjung menyandang gelar akademik dan masih harus terus merevisi skripsi, disertasi, bahkan mungkin tesis. Ini penyebab lulus kuliah lama bikin stres.

  1. 1. Terus berhadapan dengan pertanyaan kapan lulus?

    mahasiswa stres
    ilustrasi mahasiswa stres (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Pertanyaan seperti ini bikin seakan-akan kamu yang gak mau segera meninggalkan dunia kampus dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dengan bekerja. Padahal, soal kelulusan tidak sepenuhnya di tanganmu. Meski dirimu sudah rajin mengikuti bimbingan skripsi dan lulus semua mata kuliah, ada hal-hal lain yang menghambat.

    Seperti pembimbing skripsi yang sangat sulit untuk ditemui, kasih revisi bolak-balik dan gak sekalian, serta berbagai faktor lain. Kamu tentu masih tahan ditanyai seperti di atas jika hanya sesekali. Akan tetapi, makin sering itu terlontar, makin gede juga beban mentalmu.

  2. 2. Gak bisa leluasa bekerja

    mahasiswa stres
    ilustrasi mahasiswa stres (pexels.com/Yan Krukau)

    Sekarang memang banyak pekerjaan dapat dilakukan dari mana saja. Kamu tidak harus bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Namun, selama kuliah belum benar-benar tuntas, pastinya dirimu gak bisa bekerja dengan tenang.

    Kamu masih kudu bolak-balik ke kampus kapan pun dosen pembimbing datang. Pikiran terpecah antara pekerjaan dan tugas akhir yang tak kunjung kelar. Bebanmu menjadi ganda. Di sisi lain, dirimu juga sudah tidak betah cuma di kampus tanpa menghasilkan uang di usia yang makin bertambah.

  3. 3. Julukan mahasiswa abadi

    mahasiswa dalam ruangan
    ilustrasi mahasiswa dalam ruangan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Julukan ini sangat populer di dunia kampus. Semua mahasiswa yang tak kunjung lulus otomatis disebut mahasiswa abadi. Sesuatu yang awalnya terasa sebagai lelucon belaka akhirnya terasa menyakiti perasaanmu.

    Terutama setelah dirimu berada di posisi tersebut. Kata abadi seperti kutukan yang tidak jarang membuatmu ketakutan. Jangan-jangan benar kamu gak bakal bisa keluar dari kampus itu. Dirimu menua di dalamnya dan masa depan cerah yang diimpikan tak pernah tercapai.

  4. 4. Perasaan tertinggal dari teman-teman

    mahasiswa melamun
    ilustrasi mahasiswa melamun (pexels.com/Monstera Production)

    Manusia sangat sulit untuk sama sekali tidak membandingkan dirinya dengan siapa pun. Apalagi ada banyak teman yang bisa menjadi lawanmu dalam perbandingan tersebut. Si A sudah lulus tahun kemarin.

    Si B malah telah diangkat menjadi pegawai tetap. Si C habis kuliah langsung menikah dan sebagainya. Kehidupan mereka semua seolah-olah berada di rel yang tepat sehingga perjalanannya lancar. Kemajuan dalam kehidupannya jelas terlihat.

    Sementara itu, kamu masih terseok-seok di persoalan skripsi. Perasaan tertinggal dari teman sebaya sangat tidak menyenangkan. Ada rasa malu, gagal, payah, dan kalah yang bercampur menjadi satu.

  5. 5. Juga wasting time

    merevisi skripsi
    ilustrasi merevisi skripsi (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Ketika kamu masih duduk di semester awal sampai pertengahan, berada di kampus terasa sepenuhnya menyenangkan. Jadwal perkuliahan masih padat. Dirimu mungkin juga sibuk berorganisasi. Bahkan sekadar kamu mengobrol dengan teman di kantin pun terasa penting.

    Namun, seiring waktu, keberadaanmu di sana lebih terasa sebagai pemborosan waktu. Dirimu masih punya banyak keperluan untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Namun, kamu sudah menunggunya sejak pagi sampai sore, dan juga belum tentu ia datang. Bahkan sekalipun sebelumnya kalian sudah janjian. Hal seperti ini terus terjadi.

  6. 6. Biaya terus berjalan

    mahasiswa membaca
    ilustrasi mahasiswa membaca (pexels.com/Mario Spencer)

    Kuliah gak murah. Dalam setiap perpanjangan semester ada biaya yang harus dibayar. Meski terjadi, itu bukan karena kamu malas dan sengaja menunda kelulusan. Baik biaya kuliahmu masih ditanggung orangtua atau dirimu telah bekerja lepas, tetap saja rasanya sangat sayang uangnya.

    Uang sebesar itu seharusnya dapat digunakan untuk berbagai hal seandainya kuliahmu bisa lebih cepat selesai. Biaya ekstra yang dikeluarkan bukan sekadar untuk kuliah, tapi juga biaya hidup buatmu yang indekos. Dirimu kerap sampai gak enak minta uang ke orangtua. Namun, kamu juga capek cari uang sendiri buat membiayai kuliah yang tak kunjung memberimu gelar.

  7. 7. Berpengaruh juga ke percintaan

    mahasiswa stres
    ilustrasi mahasiswa stres (pexels.com/Manuel Camacho-Navarro)

    Selain lulus kuliah lama bikin stres, tak lulus-lulus juga bisa berujung pada nasib apes dalam asmara. Kamu bisa tambah sulit mendapatkan cinta gebetan jika tugas akhir saja gak beres-beres. Apalagi dia sudah lulus duluan. Pastinya sainganmu tambah berat.

    Gebetan yang telah bekerja biasanya lebih tertarik dengan sesama pekerja. Walaupun kamu dan gebetan sepantar, status mahasiswa yang awet disandang seakan-akan membuatmu kalah dewasa darinya. Untukmu yang sudah punya pacar dan ingin segera menikah pun bisa terganjal restu orangtuanya akibat dirimu belum juga diwisuda.

    Saat lulus cepat masih sebatas impian, kamu tak hanya perlu lebih fokus mengerjakan tugas akhir. Dirimu mesti mengelola stres sebaik mungkin. Kalau kamu sudah konsisten berusaha supaya bisa segera menyelesaikan studi, jangan menyalahkan diri. Tidak semua hasil dapat ditentukan olehmu. Tetaplah menjalani prosesnya sampai nanti selesai dengan indah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More