Peduli terhadap lingkungan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, membawa botol minum sendiri, atau mengingatkan orang lain agar tidak membuang sampah sembarangan merupakan kebiasaan sederhana yang punya dampak positif. Namun, orang yang cukup vokal terhadap isu lingkungan justru kerap mendapat respons kurang menyenangkan. Ada yang dianggap sok idealis, terlalu serius, bahkan dicap berlebihan hanya karena berusaha menjaga lingkungan.
Kenapa Orang yang Peduli Lingkungan Sering Dianggap Lebay?

- Kebiasaan ramah lingkungan seperti memilah sampah dan mengurangi plastik kerap dianggap merepotkan karena menuntut usaha tambahan di tengah rutinitas serba praktis.
- Konsistensi menjalani gaya hidup ramah lingkungan dapat membuat orang lain merasa disindir atau dihakimi, sehingga kepedulian tersebut dicap sebagai pencitraan maupun sikap sok idealis.
- Akses, biaya, dan cara penyampaian memengaruhi penerimaan ajakan menjaga lingkungan; perubahan kecil melalui contoh nyata dinilai lebih inklusif daripada tuntutan menggurui.
Situasi ini cukup menarik karena hampir semua orang menginginkan lingkungan yang bersih dan nyaman. Sayangnya, ketika ada seseorang yang benar-benar berusaha mewujudkannya melalui kebiasaan sehari-hari, tidak semua orang bisa menerimanya. Lantas, kenapa orang yang peduli lingkungan sering dianggap lebay atau berlebihan?
1. Kebiasaan mereka dianggap merepotkan orang lain

ilustrasi botol stainless steel ramah lingkungan (unsplash.com/Bluewater Sweden) Salah satu alasannya adalah kebiasaan ramah lingkungan terkadang membutuhkan usaha tambahan. Misalnya, membawa tas belanja sendiri, memilah sampah sebelum dibuang, atau menolak sedotan plastik ketika membeli minuman. Bagi orang yang sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang praktis, kebiasaan tersebut mungkin terlihat merepotkan.
Masalahnya, tidak semua orang mau mengubah rutinitas hanya karena alasan lingkungan. Ketika seseorang mengajak orang lain melakukan hal serupa, ajakan itu bisa dianggap sebagai gangguan terhadap kenyamanan. Padahal, sedikit usaha tambahan sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.
2. Orang lain merasa sedang disindir

ilustrasi tas belanja ramah lingkungan (pexels.com/Laura James) Ketika seseorang konsisten menjalankan gaya hidup ramah lingkungan, orang di sekitarnya terkadang merasa ikut dihakimi. Contohnya, saat seseorang membawa wadah makan sendiri, teman-temannya mungkin merasa kebiasaan mereka yang masih menggunakan plastik sekali pakai sedang disindir. Akhirnya, kepedulian terhadap lingkungan justru dianggap sebagai bentuk pencitraan atau usaha untuk terlihat lebih baik.
3. Peduli lingkungan dianggap tidak realistis

ilustrasi wadah makanan ramah lingkungan (vecteezy.com/Ratri Viandhinie Gatta) Ada juga anggapan bahwa gaya hidup ramah lingkungan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi, beberapa pilihan yang lebih ramah lingkungan memang membutuhkan biaya atau akses yang tidak selalu tersedia bagi semua orang. Misalnya, membeli produk dengan kemasan ramah lingkungan, menggunakan transportasi umum, atau memilih barang yang bisa dipakai berulang kali. Tidak semua orang punya kesempatan melakukan hal tersebut.
Namun, anggapan bahwa kepedulian lingkungan harus dilakukan secara sempurna juga kurang tepat. Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Mengurangi sampah sedikit demi sedikit atau lebih bijak menggunakan listrik tetap merupakan bentuk kontribusi.
4. Kita sudah terlalu terbiasa dengan budaya serba praktis

ilustrasi sedotan plastik (unsplash.com/Thoa Ngo) Penggunaan plastik sekali pakai, kebiasaan membeli barang baru, hingga membuang makanan sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan modern. Semuanya terasa praktis dan sudah dilakukan sejak lama. Karena itu, orang yang mencoba mengubah kebiasaan tersebut bisa terlihat berbeda dari kebanyakan orang. Ketika sesuatu yang sudah dianggap normal dipertanyakan, respons yang muncul terkadang justru penolakan.
Padahal, sesuatu yang umum dilakukan belum tentu merupakan kebiasaan yang baik. Contohnya, kita mungkin sudah terbiasa menggunakan kantong plastik setiap kali berbelanja. Namun, kebiasaan tersebut tetap memiliki dampak terhadap lingkungan.
5. Cara menyampaikan kepedulian terkadang kurang tepat

ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan (pexels.com/cottonbro) Meski begitu, bukan berarti semua kritik terhadap aktivis atau orang yang peduli lingkungan tidak beralasan. Ada kalanya pesan yang sebenarnya baik disampaikan dengan cara yang terlalu menggurui. Misalnya, mempermalukan orang lain karena masih menggunakan plastik atau menganggap seseorang tidak peduli lingkungan hanya karena belum menerapkan gaya hidup minim sampah. Sikap seperti ini justru bisa membuat orang lain enggan terlibat.
Kepedulian terhadap lingkungan seharusnya bisa disampaikan melalui ajakan dan contoh nyata, bukan sekadar tuntutan. Setiap orang punya kondisi, kemampuan, dan kebiasaan yang berbeda. Memahami hal tersebut juga menjadi bagian dari kepedulian.
Orang yang peduli lingkungan sering dianggap lebay karena beberapa faktor. Padahal, orang yang peduli lingkungan tidak seharusnya dianggap berlebihan hanya karena memiliki kebiasaan berbeda. Kita tidak harus mengikuti semua cara mereka, tetapi menjaga lingkungan tetap menjadi tanggung jawab bersama. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang mungkin terlihat sepele, tetapi berdampak besar jika dilakukan banyak orang.

![[MADING] HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan](https://image.idntimes.com/post/20261103/38369_4d908ebb-0de1-4157-86d4-7af6e1f0d917.jpg)



![[MADING] B.E.B.A.S: Bersama Edukasi Berani Anti Sikap Perundungan](https://image.idntimes.com/post/20261103/32919_43e245c9-5fa0-4ad1-893c-69aaba530aa1.jpg)






![[MADING] Aksi Kreatif Siswa Suarakan Anti Perundungan Nusantara](https://image.idntimes.com/post/20261104/edukasi_20261031_084915_0000_ef2ee5f9-b926-4825-95b0-3c41d026fcf9.png)










