Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan ‘Old School’ yang Justru Bikin Hidup Modern Lebih Tenang

5 Kebiasaan ‘Old School’ yang Justru Bikin Hidup Modern Lebih Tenang
Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/Alexey Demidov)
Share Article

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terbiasa ganti satu aplikasi ke aplikasi lain, mengecek notifikasi setiap saat, hingga mengandalkan teknologi untuk hampir semua kebutuhan. Ironisnya, semakin canggih kehidupan sehari-hari, semakin banyak pula orang yang mencari cara sederhana untuk mendapatkan kembali rasa tenang.

Tidak selalu harus lewat aplikasi meditasi atau perangkat pintar, beberapa kebiasaan lama justru bisa menjadi jawabannya. Bukan berarti teknologi harus ditinggalkan, tetapi ada kalanya cara lama justru membantu kita mengatur ritme hidup agar tidak terlalu penuh.

  1. 1. Menulis dengan tangan, bukan selalu mengetik

    Ilustrasi menulis (pixabay.com/IqbalStock)
    Ilustrasi menulis (pixabay.com/IqbalStock)

    Menulis daftar pekerjaan, mencatat ide, atau membuat catatan harian di buku mungkin terasa kurang praktis dibandingkan menggunakan aplikasi. Namun, kebiasaan ini dapat membuat seseorang lebih benar-benar memperhatikan apa yang sedang ditulis.

    Saat menulis menggunakan tangan, kita tidak bisa mengetik secepat ketika menggunakan keyboard sehingga ada proses memilih informasi yang dianggap penting. Penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science menemukan bahwa mahasiswa yang membuat catatan dengan tulisan tangan menunjukkan pemahaman konseptual yang lebih baik dibandingkan mereka yang mengetik.

    "Menulis tangan menghasilkan pembelajaran yang lebih cepat dan generalisasi yang lebih besar terhadap tugas-tugas yang tidak dilatih dibandingkan dengan apa yang dilaporkan sebelumnya," demikian laporan studi The Effects of Handwriting Experience on Literacy Learning PubMed.

    Dalam kehidupan sehari-hari, manfaatnya tidak harus selalu berkaitan dengan belajar. Kamu bisa menggunakan buku kecil untuk menulis tiga tugas terpenting hari ini, mencatat ide, membuat daftar belanja, atau sekadar menuliskan apa yang sedang dipikirkan.

  2. 2. Tidur dan bangun pada jam yang kurang lebih sama

    ilustrasi tidur (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi tidur (pexels.com/cottonbro studio)

    Kebiasaan bangun menggunakan alarm, tidur pada jam tertentu, lalu mengulanginya setiap hari terdengar sangat sederhana. Namun, pola seperti ini justru sering hilang dalam kehidupan modern karena adanya pekerjaan malam, hiburan digital, media sosial, hingga kebiasaan menonton satu episode tambahan sebelum tidur.

    "Menariknya, bangun pada jam yang sama setiap hari lebih penting daripada memiliki jam tidur malam yang konsisten. Hal ini karena tubuh kamu 'mencatat' jam berapa kamu bangun di pagi hari dan memulai 'menghitung waktu mundur' untuk menentukan kapan sebaiknya kamu tidur," kata Lynelle Schneeberg, PsyD, psikolog tidur dikutip dari Yale Medicine.

    Kebiasaan old school ini bisa diterapkan tanpa cara yang rumit. Cobalah menentukan jam bangun yang relatif konsisten, termasuk ketika tidak sedang bekerja atau kuliah. Setelah itu, buat ritual malam yang sederhana seperti membaca buku fisik, merapikan kamar, atau mematikan lampu lebih awal. Rutinitas yang berulang dapat membantu hari terasa lebih teratur tanpa harus bergantung pada banyak aplikasi produktivitas.

  3. 3. Jalan kaki untuk pergi di dekat rumah atau sekadar menenangkan pikiran

    Ilustrasi jalan kaki yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya luar biasa bagi otak (unsplash.com/Vasyl S)
    Ilustrasi jalan kaki yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya luar biasa bagi otak (unsplash.com/Vasyl S)

    Dulu, berjalan kaki merupakan bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Orang berjalan ke warung, ke rumah tetangga, ke sekolah, atau sekadar berkeliling kompleks. Sekarang, perjalanan beberapa ratus meter pun terkadang terasa lebih mudah dilakukan dengan kendaraan.

    Padahal, berjalan kaki merupakan bentuk aktivitas fisik sederhana yang dapat memberikan manfaat bagi tubuh dan pikiran. Bahkan, berjalan kaki tidak harus dilakukan dalam satu sesi panjang karena langkah-langkah yang singkat tetap memberi manfaat.

    Jadi, kamu tidak harus langsung memiliki target olahraga yang berat. Cobalah berjalan kaki ketika pergi ke tempat yang dekat, berjalan setelah makan, atau melakukan mindful walk tanpa terus melihat ponsel. Lima belas hingga tiga puluh menit berjalan sambil memperhatikan lingkungan sekitar bisa menjadi jeda sederhana dari rutinitas digital yang padat.

  4. 4. Makan sambil ngobrol, bukan sambil scroll

    Ilustrasi makan bersama saat Natal (pexels.com/Photo by cottonbro studio)
    Ilustrasi makan bersama saat Natal (pexels.com/Photo by cottonbro studio)

    Makan bersama keluarga atau teman tanpa televisi dan ponsel mungkin merupakan kebiasaan yang semakin jarang dilakukan. Padahal, dulu meja makan sering menjadi tempat orang bertukar cerita tentang kegiatan hari itu, membahas masalah, atau sekadar bercanda.

    Kebiasaan ini sebenarnya bukan hanya soal etika makan. Interaksi sosial memiliki hubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan. American Psychological Association mencatat bahwa hubungan sosial yang baik berperan penting terhadap kesejahteraan, sementara rasa terputus dari orang lain dapat berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan dan psikologis.

    "Hal yang sesungguhnya menciptakan rasa senang adalah keterlibatan dalam interaksi. Merasa didengarkan, saling merespons, dan menemukan detail tak terduga tentang kehidupan seseorang dapat membuat topik yang biasa saja menjadi bermakna," kata Elizabeth Trinh, MA, mahasiswa doktoral University of Michigan sekaligus penulis penelitian Journal of Personality and Social Psychology dalam American Psychological Association.

  5. 5. Menulis jurnal sebelum tidur

    Ilustrasi menulis (pexels.com/Photo by Photo By: Kaboompics.com)
    Ilustrasi menulis (pexels.com/Photo by Photo By: Kaboompics.com)

    Sebelum smartphone menjadi bagian dari rutinitas malam, buku harian sering menjadi tempat seseorang mencurahkan isi kepala. Tidak ada notifikasi, tombol like, atau algoritma yang menentukan apa yang harus dipikirkan selanjutnya. Hanya ada seseorang, kertas, dan pikirannya sendiri.

    Kebiasaan menulis jurnal masih relevan hingga sekarang karena dapat menjadi cara untuk memproses pengalaman. Menulis bukan berarti semua masalah langsung selesai, tetapi aktivitas tersebut dapat membantu seseorang menyusun pikiran yang sebelumnya terasa berantakan.

    "Menulis jurnal adalah cara yang sangat baik untuk membantu mengatasi stres, mewujudkan tujuan terkait perilaku, serta membantu memproses emosi atas berbagai peristiwa kehidupan," ujar Jeffrey Leichter, Ph.D., psikolog klinis berlisensi dikutip dari Sanford Health News.

    "Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini dapat membantu memperbaiki suasana hati dan bahkan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Sebuah studi mengungkapkan bahwa sekadar mencatat tiga hal baik yang terjadi sepanjang hari selama 14 hari dapat mengurangi gejala depresi dengan tingkat efektivitas yang setara dengan penggunaan obat antidepresan pada individu yang mengalami depresi ringan hingga sedang," tambahnya.

    Kamu tidak perlu membuat jurnal panjang setiap malam. Cukup tuliskan apa yang paling mengganggu pikiran hari ini, hal yang ingin diselesaikan, atau tiga hal kecil yang membuatmu bersyukur. Jika dilakukan secara rutin, kebiasaan tersebut bisa menjadi semacam ruang pribadi untuk berhenti sejenak sebelum kembali menghadapi kesibukan.

    Pada akhirnya, kebiasaan ‘old school’ bukan berarti menolak kemajuan teknologi atau kembali menjalani kehidupan seperti puluhan tahun lalu. Justru, beberapa kebiasaan lama bisa dipadukan dengan kehidupan modern untuk menciptakan ritme yang lebih seimbang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More