Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kamu Capek dan Hampa? 5 Kebiasaan Kecil Ini Bisa Pulihkan Mentalmu
ilustrasi kebiasaan mundane yang bikin kesehatan mental terjaga (pexels.com/George Pak)
  • Artikel menyoroti pentingnya kebiasaan kecil seperti mencuci piring, merapikan tempat tidur, dan menyiram tanaman sebagai cara sederhana menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas padat.
  • Setiap aktivitas dilakukan dengan kesadaran penuh agar pikiran lebih tenang, membantu mengurangi stres, serta menumbuhkan rasa syukur dan koneksi dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
  • Menulis jurnal manual dan berjalan tanpa ponsel disebut efektif untuk melepas emosi negatif, meningkatkan fokus, serta memberi ruang bagi otak untuk beristirahat dari tekanan digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu merasa jika setiap hari rasanya cuma seperti melakukan kewajiban otomatis, mulai dari bangun tidur, kerja, sampai akhirnya scrolling media sosial di malam hari. Padahal, melakukan kebiasaan mundane atau hal-hal sepele yang dianggap membosankan sebenarnya punya kekuatan besar untuk menenangkan pikiranmu, lho. Fokus pada hal kecil sering membantumu merasa lebih membumi di tengah dunia yang serba cepat ini.

Kalau kamu terus-terusan mengabaikan perasaan lelah dan menganggap remeh waktu istirahat, kesehatan mentalmu bisa benar-benar ambruk, lho. Kamu akan merasa makin kosong, kehilangan motivasi, bahkan sulit untuk sekadar merasa bahagia dengan hal-hal yang dulu kamu sukai. Mumpung masih berada di momen Mental Awareness Month, yuk mulai lebih peduli pada diri sendiri dengan cara yang paling sederhana. Jangan sampai kamu menunggu jatuh sakit dulu baru sadar kalau pikiranmu butuh jeda yang berkualitas, ya.

1. Mencuci piring dengan penuh kesadaran

ilustrasi mencuci piring (pexels.com/MART PRODUCTION)

Mencuci piring sering kali dianggap sebagai beban rumah tangga yang paling malas untuk dilakukan karena kesannya kotor dan melelahkan. Namun, aktivitas ini sebenarnya bisa menjadi sarana mindfulness yang sangat efektif untuk meredakan kecemasan setelah seharian bekerja. Saat kamu fokus pada suhu air di tangan, aroma sabun yang segar, hingga bunyi gesekan piring, otakmu diajak untuk benar-benar hadir di saat ini. Kesehatan mental kamu akan terbantu karena pikiran gak lagi melayang ke masa lalu yang pahit atau masa depan yang bikin cemas.

Guys, gak perlu buru-buru menyelesaikannya hanya karena ingin cepat santai di depan TV, coba nikmati saja prosesnya perlahan-lahan. Anggap saja setiap kotoran yang luruh bersama air adalah beban pikiran yang ikut terbuang ke saluran pembuangan. Kalau tumpukan piring sudah bersih, biasanya akan muncul perasaan puas yang kecil tapi nyata karena kamu berhasil menyelesaikannya.

2. Merapikan tempat tidur segera setelah bangun

ilustrasi merapikan tempat tidur (pexels.com)

Kebiasaan kecil ini sering dianggap sepele oleh kaum rebahan, padahal manfaatnya ampuh untuk membangun disiplin diri sejak pagi. Dengan merapikan kasur, kamu secara gak langsung sudah meraih kemenangan pertama di hari itu sebelum melakukan aktivitas berat lainnya. Lingkungan yang rapi juga terbukti secara psikologis bisa menurunkan kadar hormon kortisol alias hormon stres dalam tubuh, lho.

Bayangkan betapa nyamannya saat kamu pulang kerja dalam keadaan capek, lalu disambut oleh kasur yang rapi dan bantal yang tertata. Kamu seolah-olah memberikan kado untuk dirimu sendiri di masa depan agar bisa istirahat dengan lebih tenang tanpa gangguan visual yang berantakan. Gak perlu sampai estetis ala kamar hotel, yang penting rapi sudah lebih dari cukup, kok.


3. Menyiram tanaman di pagi atau sore hari

ilustrasi menyiram tanaman di pagi hari (pexels.com/Kevin Malik)

Menyiram tanaman termasuk bentuk interaksi sederhana dengan makhluk hidup lain yang bisa menumbuhkan rasa empati dan koneksi dengan alam. Aktivitas ini melibatkan apa yang disebut sebagai biophilia effect, yakni kecenderungan manusia untuk merasa lebih tenang saat berada di sekitar elemen hijau. Saat kamu melihat air menyerap ke tanah dan daun-daun mulai tampak lebih segar, ada rasa tanggung jawab positif yang terpenuhi. 

Coba ajak ngobrol tanamanmu sedikit, meski kedengarannya agak aneh, tapi ini sangat terapeutik untuk mengeluarkan emosi yang terpendam, lho. Kamu jadi belajar bahwa segala sesuatu butuh proses, persis seperti kesehatan mental yang butuh dirawat secara konsisten setiap harinya. Jadi, jangan lupa sapa "anak-anak hijau" kamu itu sebelum kamu sibuk memikirkan deadline yang gak ada habisnya, ya.

4. Menulis jurnal secara manual dengan pulpen

ilustrasi menulis jurnal untuk mengeluarkan unek-unek (pexels.com/Jay-r Alvarez)

Di zaman yang serba digital ini, menulis di atas kertas memberikan sensasi sensorik yang gak bisa digantikan oleh mengetik di smartphone. Proses menggerakkan tangan untuk membentuk huruf membantu otak memproses emosi dengan lebih lambat dan mendalam, yang disebut sebagai regulasi emosional. Kamu dapat mengeluarkan semua sampah pikiran, kemarahan, hingga rasa syukur tanpa takut dihakimi oleh siapapun karena jurnal itu milikmu sendiri. 

Gak perlu pusing memikirkan tata bahasa yang benar atau tulisan tangan yang harus cantik, kok. Tulis saja apa yang kamu rasakan, meski isinya cuma keluhan tentang harga kopi yang makin mahal atau bos yang menyebalkan. Terkadang, melihat masalah yang tertulis di kertas membuat masalah itu terasa lebih kecil dan lebih mudah untuk dicari solusinya, lho.


5. Jalan kaki santai tanpa melihat ponsel

ilustrasi jalan santai dengan teman (pexels.com/Keira Burton)

Jalan kaki selama 10 hingga 15 menit tanpa gangguan ponsel bisa menjadi bentuk meditasi bergerak yang paling mudah dilakukan di mana saja. Saat berjalan, tubuhmu melepaskan endorfin yang secara alami bisa memperbaiki suasana hati dan mengurangi rasa penat di kepala. Fokuslah pada langkah kakimu, hembusan angin yang menyentuh kulit, atau warna langit yang mungkin jarang kamu perhatikan belakangan ini. 

Tanpa ponsel di tangan, kamu memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari derasnya informasi yang kerap memicu rasa insecure. Cobalah untuk benar-benar hadir dan memperhatikan lingkungan sekitar, misalnya melihat tetangga yang lagi mencuci motor atau kucing yang sedang tidur. Interaksi visual yang natural seperti ini membantu kamu merasa kembali menjadi bagian dari dunia nyata yang dinamis ini, lho.

Menjaga mental health ternyata gak selalu harus lewat sesi meditasi yang membosankan bagi sebagian orang atau liburan yang banyak menghabiskan uang, kok. Terkadang, kebahagiaan dan ketenangan justru bersembunyi di balik kebiasaan mundane yang sering diabaikan begitu saja setiap harinya. Yuk, mulai hargai setiap momen kecil dalam rutinitasmu dan rasakan sendiri perubahannya bagi jiwamu yang butuh istirahat, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article