Tidak akan ada sebutan kelompok mayoritas apabila tidak ada kelompok lawannya, yaitu minoritas. Begitu juga sebaliknya. Adanya kelompok yang lebih mendominasi di suatu lingkungan ialah tanda adanya keberagaman.
Miliki 5 Sikap Mental Ini saat Menjadi Minoritas, Jangan Terintimidasi

- Artikel menyoroti pentingnya memiliki lima sikap mental saat menjadi bagian dari kelompok minoritas agar tetap dihargai dan diterima di lingkungan mayoritas.
- Ditekankan untuk tidak minder atau terlalu percaya diri, memahami keheranan orang lain tanpa menoleransi perilaku buruk, serta membungkam cemoohan dengan prestasi.
- Penulis mengingatkan agar kelompok minoritas tidak bersikap eksklusif dan tetap berbaur dengan mayoritas demi menciptakan hubungan sosial yang sehat dan saling menghargai.
Hanya saja perbandingannya tidak benar-benar seimbang. Malah ketimpangannya nyata sehingga terdapat perbedaan jumlah yang besar di antara dua kelompok atau lebih. Kamu bisa menjadi minoritas di lingkungan mana pun.
Bukan hanya karena perbedaan keyakinan dan suku, melainkan dapat pula terkait dengan jenis kelamin, usia, dan sebagainya. Misalnya, di kantor sebagian besar karyawan berusia 30 tahun ke atas. Bahkan tak sedikit dari mereka berumur 50 tahun. Dirimu baru 23 tahun serta menjadi karyawan termuda. Saat kamu termasuk kelompok minoritas, miliki lima sikap mental berikut agar tetap dihargai dan diterima oleh kelompok mayoritas.
1. Jangan minder meski kalah jumlah

Dari segi jumlah, jelas kelompok minoritas kalah. Di sebuah sekolah misalnya, boleh jadi 90 persen siswa menganut agama yang sama. Hanya 10 persennya yang beragama berbeda. Pun 10 persen itu masih terpecah menjadi penganut beberapa agama.
Jika diperinci, mungkin penganut setiap agama minoritas cuma 2 sampai 3 persen dari seluruh siswa. Angka ini cenderung sulit berubah. Mustahil setahun ke depan persentasenya menjadi sebaliknya dan kelompok minoritas berubah menjadi mayoritas.
Meski begitu, selisih yang jauh antara kelompok mayoritas dan minoritas tidak perlu membuatmu minder. Anggaplah fakta tersebut sebagai hal biasa. Sebutan mayoritas dan minoritas biasanya memang tidak muncul apabila perbedaan jumlah kedua kelompok gak terlalu signifikan.
2. Namun, jangan pula terlampau percaya diri seakan-akan paling hebat

Kamu gak boleh minder, tapi juga tak perlu terlalu percaya diri. Sikap kepedean bisa menimbulkan hal-hal kurang baik. Di antaranya, kesan dirimu merasa paling hebat. Orang-orang di sekitar akan menilai kamu sombong.
Bahkan bila untuk dapat masuk ke lingkungan dengan kelompok mayoritas tersebut butuh prestasi atau latar belakang tertentu. Tetaplah bersikap rendah hati. Sebab kelompok mayoritas punya kecenderungan mudah menoleransi kesalahan sesamanya.
Sementara jika perbuatan yang sama dilakukan oleh minoritas, penghakimannya dapat jauh lebih buruk. Tentu sikap begini tidak objektif. Akan tetapi, saat kamu tak bisa mengubah setiap hal menjadi seperti seharusnya, lebih baik menjaga sikap pribadi demi kelancaran interaksi kalian setiap harinya.
3. Memahami keheranan mereka, tapi tidak menoleransi perilaku buruknya

Setiap hal yang berbeda dari kebanyakan bakal menarik perhatian. Orang-orang di sekitarmu, apalagi yang jarang mendapati kelompok minoritas sepertimu, mungkin akan terheran-heran. Banyak sekali hal yang tidak mereka pahami tentangmu dan latar belakangmu.
Contoh, dirimu minoritas dalam hal etnis. Boleh jadi teman-teman dari kelompok mayoritas awalnya punya pemikiran yang kurang baik terhadapmu. Mereka akrab dengan stereotip terkait etnismu.
Selama itu hanya berupa pemikiran atau bahasa nonverbal, kamu gak perlu bereaksi apa pun. Bersikaplah biasa saja. Lain halnya kalau ada di antara mereka yang mulai terang-terangan berkata bahkan berbuat buruk padamu.
Kamu mesti menunjukkan ketegasan sekaligus upaya untuk melindungi diri. Jika wujud keheranan mereka cuma sering bertanya soal kebiasaan-kebiasaan etnismu, jawab saja seperti mengobrol biasa. Ini justru baik buat bikin mereka lebih memahami kelompok minoritas sepertimu serta menghapus prasangka.
4. Membungkam cemoohan dengan prestasi

Tidak semua kelompok minoritas mendapat perlakuan buruk. Begitu pula banyak kelompok mayoritas yang menghargai kelompok berbeda. Bahkan mereka sadar bahwa menang jumlah berarti kudu siap melindungi kelompok minoritas.
Akan tetapi, seandainya posisi minoritas membuatmu panen cemoohan, jangan berhenti pada rasa sakit hati saja. Tentu perlakuan begitu memang menyakitkan. Seharusnya semua orang berkedudukan setara. Tidak ada yang boleh menghina atau dihina.
Akan tetapi, di dunia ini akan selalu ada orang yang bersikap buruk seperti itu. Bahkan di dalam kelompok mayoritas pun dapat saling merendahkan. Bukan kemarahanmu yang akan efektif menghentikan cemoohan tersebut. Namun, ketika dirimu memiliki segudang prestasi yang membuat mereka tidak berkutik.
5. Hindari bersikap eksklusif dengan sesama minoritas

Terkadang dari kelompok minoritas sendiri ada sikap yang kurang tepat. Berada di tengah kelompok mayoritas yang jauh lebih banyak memang bisa membuat kelompok minoritas merasa kurang aman. Pun sedikitnya anggota kelompok minoritas membuat hubungan kalian sangat erat.
Namun, jaga diri supaya kamu tidak mengembangkan pergaulan yang eksklusif hanya dengan teman sesama minoritas. Di sekolah atau kantor, misalnya, kalian tidak pernah pecah kelompok. Saat makan siang, kalian memilih satu meja khusus alih-alih berbaur dengan teman dari kelompok mayoritas.
Di kelas, kamu dan kawan minoritas selalu harus sebangku. Main pun cuma dengan mereka. Dekat dengan sesama teman minoritas boleh dan dimaklumi sebab kalian punya banyak kesamaan. Namun, ingat bahwa kamu juga memiliki tugas beradaptasi serta berbaur dengan kelompok mayoritas, dan sentimen mereka padamu menjadi lebih kuat.
Kelompok mayoritas kerap dianggap lebih enak daripada kelompok minoritas. Mereka punya privilese di suatu lingkungan. Meski begitu, tertakdir menjadi minoritas tidak perlu membuatmu ketakutan atau merasa tersisih. Belum tentu benar-benar ada orang yang mengucilkanmu.





















