"Meskipun demikian, budaya kerja keras menuntutmu untuk terus berjuang, terlepas dari apakah kamu sudah mencapai titik kelelahan," kata Lea Lis, MD, psikiater dewasa dan anak dikutip dari Psychology Today.
Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Pengen ‘Kabur’?

- Banyak anak muda merasa lelah menghadapi tekanan kerja, biaya hidup tinggi, dan ekspektasi sosial yang terus meningkat hingga memicu burnout dan keinginan untuk menjauh sejenak.
- Media sosial memperkuat perasaan tidak cukup baik karena perbandingan pencapaian dengan orang lain, membuat banyak generasi muda merasa gagal meski sudah berjuang keras.
- Keinginan ‘kabur’ mencerminkan kebutuhan anak muda untuk bernapas dari tekanan karier, keluarga, dan sosial, sekaligus kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan hidup modern.
Belakangan ini, istilah “pengen kabur” sering muncul di media sosial. Bukan sekadar ingin liburan atau rehat sebentar, banyak yang menggunakan kata itu untuk menggambarkan rasa lelah menghadapi hidup sehari-hari. Mulai dari tekanan kerja, biaya hidup yang makin tinggi, sampai tuntutan sosial yang terasa tidak ada habisnya, membuat banyak anak muda merasa ingin menjauh.
Fenomena ini bukan berarti generasi sekarang lemah atau tidak mau berjuang. Justru banyak anak muda merasa terlalu lama menahan stres, kecemasan, dan ekspektasi dari berbagai arah.
1. Tekanan karier membuat banyak anak muda cepat lelah

Dunia kerja bisa terasa begitu kompetitif. Banyak anak muda merasa harus terus produktif, punya banyak skill, aktif membangun personal branding, hingga selalu siap menghadapi perubahan tren kerja. Bahkan setelah mendapat pekerjaan tetap, rasa aman finansial tetap belum benar-benar terasa.
Situasi ini membuat banyak orang merasa hidupnya hanya berputar antara kerja, stres, dan mengulang rutinitas yang sama setiap hari. Tidak sedikit yang akhirnya mengalami burnout karena tekanan untuk terus bertahan di tengah biaya hidup yang semakin mahal.
2. Media sosial membuat hidup terasa seperti kompetisi

Media sosial membuat anak muda terus melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada yang sudah punya rumah, karier mapan, bisnis sukses, menikah, atau hidup terlihat sempurna di usia muda. Meski sadar bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan seseorang, perasaan tertinggal tetap sulit dihindari.
"Media sosial bisa mengisolasi banyak dari kita karena kita terus-menerus dibanjiri dengan momen 'terbaik dan terhebat' orang lain dan membandingkan diri kita dengan mereka," kata Lea.
Akibatnya, banyak anak muda merasa hidup mereka tidak cukup baik. Mereka mulai membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain tanpa henti. Tekanan sosial ini perlahan membuat seseorang merasa gagal, meski sebenarnya mereka sedang berjuang sesuai kemampuan masing-masing.
3. Ekspektasi keluarga kadang terasa berat

Banyak anak muda tumbuh dengan harapan besar dari keluarga. Mereka diharapkan sukses, punya pekerjaan stabil, membanggakan orangtua, bahkan membantu kondisi ekonomi keluarga. Harapan tersebut memang sering muncul dari rasa sayang dan keinginan melihat anak hidup lebih baik.
Namun di sisi lain, tekanan ini juga bisa membuat anak muda merasa tidak punya ruang untuk gagal. Mereka takut mengecewakan keluarga ketika karier belum sesuai harapan atau hidup belum stabil secara finansial.
"Tekanan untuk sukses berkontribusi pada krisis kesehatan mental di kalangan anak muda," demikian isi laporan studi Harvard Graduate School of Education dikutip dari American Psychological Association.
4. Banyak anak muda merasa kehilangan arah hidup

Tidak sedikit anak muda yang merasa bingung dengan arah hidup mereka sendiri. Ada yang bekerja di bidang yang tidak disukai, merasa hidup berjalan terlalu cepat, atau kehilangan motivasi karena merasa semua dilakukan hanya demi bertahan hidup.
Situasi ini membuat banyak orang merasa kosong meski secara teknis hidup mereka terlihat baik-baik saja. Kebingungan ini juga dipengaruhi perubahan dunia yang sangat cepat. Standar kesuksesan terus berubah, tren pekerjaan terus berganti, dan masa depan terasa semakin sulit diprediksi.
5. 'Kabur' sering kali bukan tentang pergi, tapi tentang ingin 'bernapas'

Ketika banyak anak muda berkata ingin kabur, sering kali yang mereka maksud bukan benar-benar ingin meninggalkan semuanya. Banyak dari mereka sebenarnya hanya ingin istirahat dari tekanan hidup yang terasa terlalu penuh. Mereka ingin punya ruang untuk bernapas tanpa terus diburu target, tuntutan, dan rasa takut tertinggal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin banyak generasi muda yang sadar akan pentingnya kesehatan mental. Mereka mulai mempertanyakan budaya yang menganggap lelah adalah hal normal dan terus memaksa diri demi memenuhi ekspektasi sosial. Keinginan untuk berhenti sejenak sering kali muncul karena tubuh dan pikiran sudah terlalu penuh menahan tekanan.
"Hubungan kamu dengan orang lain dan kesehatan mentalmu berada dalam daftar prioritas ketika kamu mengesampingkan pekerjaan," Lea mengingatkan.
"Pastikan kamu 'bernapas'. Tambahkan olahraga, interaksi sosial, tertawa, menangis, dan kreativitas ke dalam hidup kamu," tambahnya.
Fenomena banyak anak muda yang merasa ingin ‘kabur’ bukan sekadar tren media sosial atau bentuk kemalasan. Di balik itu, ada rasa lelah, cemas, dan tekanan yang nyata dirasakan oleh banyak generasi saat ini. Mereka hidup di masa ketika tuntutan terasa semakin besar, sementara rasa aman hidup justru semakin sulit didapatkan.












![[QUIZ] Kalau Tinggal di Upin Ipin Universe, Kamu Tipe Logis atau Kreatif?](https://image.idntimes.com/post/20251223/upload_f4f1df8e3817abc303ecdd901de1d6c9_94dacbd7-dba1-4234-89f1-4739513d52bd.png)






