Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Kian Anjlok, Ini Pentingnya Side Hustle buat Anak Muda

Rupiah Kian Anjlok, Ini Pentingnya Side Hustle buat Anak Muda
Ilustrasi side hustle (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Kenaikan signifikan nilai tukar Dollar AS (USD) terhadap rupiah belakangan menjadi sorotan tajam. Tentunya, nilai tukar USD yang semakin naik ini punya dampak nyata bagi perekenomian Indonesia, tak terkecuali bagi anak muda seperti Gen Z.

Kenaikan Dollar adalah alarm yang memaksa mereka untuk memutar otak lebih keras demi menjaga keuangan tetap stabil. Fenomena side hustle atau mencari pekerjaan sampingan kini bukan lagi sekadar tren untuk mencari uang jajan tambahan, melainkan sebuah strategi bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Lalu, seberapa penting sih punya side hustle di tengah dollar yang semakin meroket ini? Simak penjelasannya berikut ini, yuk!

1. Dampak kenaikan dollar buat anak muda

Iluatrasi uang dollar
Iluatrasi uang dollar (pexels.com/jonathan borba)

Kenaikan Dollar sangat berdampak pada dompet anak muda. Mengapa? Berikut adalah 5 poin penjelasannya.

1. Inflasi barang impor

Pada kenyataannya, Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari gandum untuk mi instan hingga komponen elektronik. Saat Dollar naik, harga produksi meningkat, yang ujung-ujungnya dibebankan kepada konsumen.

Harga gadget, skincare, hingga makanan favorit pun ikut merangkak naik. Tentunya uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan juga ikut meningkat.

2. Kenaikan biaya gaya hidup era digital

Banyak layanan yang digunakan anak muda berbasis di luar negeri. Biaya langganan platform streaming film dan musik, iklan media sosial (ads), hingga software pendukung kerja kreatif dibayar menggunakan kurs Dollar. Kenaikan kurs berarti biaya langganan bulanan terasa lebih mencekik.

3. Penurunan daya beli

Dengan gaji yang cenderung stagnan namun harga barang terus naik (akibat pelemahan Rupiah), daya beli anak muda menurun. Uang Rp50 ribu yang tahun lalu bisa membeli makan siang lengkap dan kopi, kini mungkin hanya cukup untuk makan siangnya saja.

4. Suku bunga dan cicilan yang memberat

Untuk meredam kenaikan Dollar, Bank Sentral biasanya menaikkan suku bunga. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan bunga cicilan kendaraan atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Impian memiliki hunian pun terasa semakin jauh bagi anak muda.

5. Ketidakpastian lapangan kerja

Perusahaan yang memiliki utang dalam Dollar atau bergantung pada bahan baku luar negeri akan melakukan efisiensi besar-besaran. Risiko layoff (PHK) meningkat, membuat anak muda tidak bisa lagi merasa aman hanya dengan satu sumber penghasilan.

2. Mengapa harus kerja lebih ekstra?

Ilustrasi multitasking
Ilustrasi multitasking (pexels.com/karola g)

Kondisi ekonomi saat ini menciptakan fenomena yang disebut sebagai "The Great Squeeze" atau himpitan besar. Di satu sisi, ekspektasi standar hidup meningkat, namun di sisi lain, realitas ekonomi menjadi semakin sulit.

Generasi sekarang harus bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya karena kenaikan upah riil tidak sebanding dengan kenaikan harga aset (rumah, kendaraan, emas) dan biaya hidup dasar. Akibatnya, memiliki satu pekerjaan dianggap tidak lagi cukup.

Munculah era side hustle, di mana setelah jam kantor selesai, anak muda berubah menjadi freelancer desain grafis, content creator, pengemudi ojek online, hingga jualan online. Oleh karena itu, Gen Z sekarang dituntut untuk bisa:

1. Multitasking secara finansial, yakni mengelola pekerjaan utama sambil membangun bisnis atau jasa sampingan.

2. Melek Kurs dengan mencari peluang side hustle yang dibayar dengan mata uang asing (seperti freelance desainer atau penulis di platform global) agar justru diuntungkan saat Dollar naik.

3. Up-skilling mandiri dengan cara mempelajari AI dan teknologi baru agar proses side hustle bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.

3. Bukan lagi soal satu pekerjaan, tapi portofolio karier

Ilustrasi portofolio kerja
Ilustrasi portofolio kerja (pexels.com/pavel danilyuk)

Kondisi ekonomi yang serba nggak pasti ini ternyata melahirkan tren kerja baru. Menurut Bryan Robinson, seorang pakar di bidang psikologi organisasi, kita nggak bisa lagi pakai cara lama yang cuma setia pada satu tangga karier.

Dalam prediksinya di Forbes, Robinson menyebut bahwa di tahun 2026, side hustle bakal jadi jaring pengaman (safety net) paling utama bagi para pekerja.

"Masa depan dunia kerja bukan lagi tentang satu tangga karier, melainkan tentang portofolio sumber pendapatan. Pada tahun 2026, pekerjaan sampingan akan menjadi jaring pengaman utama bagi pekerja yang menghadapi volatilitas ekonomi. Ini adalah pergeseran dari 'keseimbangan kerja-hidup' menjadi 'integrasi kerja-hidup' di mana banyak sumber pendapatan memberikan keamanan kerja yang sesungguhnya." ungkapnya.

4. Bukan lagi work harder tapi work smarter

Ilustrasi kerja remote
Ilustrasi kerja remote (pexels.com/pavel danilyuk)

Memang terdengar melelahkan kalau harus kerja lebih keras dari generasi orangtua kita dulu. Tapi, anak muda zaman sekarang punya senjata yang nggak dimiliki generasi sebelumnya, yaitu internet.

Saat Dollar naik, ini sebenarnya peluang buat kamu yang punya skill digital. Jadi freelancer buat klien luar negeri dan dibayar pakai Dollar bisa jadi cara paling ampuh buat "balas dendam" ke kenaikan kurs. Alih-alih cuma jadi korban inflasi, kita bisa memanfaatkan kenaikan mata uang asing itu sebagai keuntungan.

5. Adaptasi adalah kunci

Ilustrasi side hustle
Ilustrasi side hustle (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Apakah kamu kerap overthinking saat membaca berita akhir-akhir ini? Kenaikan Dollar adalah faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, respons kita terhadapnya adalah kunci.

Era side hustle menuntut anak muda untuk terus meng-upgrade skill agar tetap relevan di pasar global. Meskipun harus bekerja lebih ekstra, generasi saat ini juga memiliki keuntungan berupa teknologi digital yang memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan dalam mata uang asing melalui platform freelance internasional.

Seperti dua mata pisau, kenaikan ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang, bukan sekadar ancaman. Intinya, di era ekonomi yang tak menentu ini, diversifikasi penghasilan adalah bentuk "asuransi" terbaik bagi masa depan. Tetap semangat ya untuk kita semua.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

9 Kebiasaan Buruk saat Makan yang Perlu Dihilangkan, Nikmat Berkurang

19 Mei 2026, 12:38 WIBLife