Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Kecoa sampai Ketinggalan Kereta, Kenapa Hal Kecil Bisa Rusak Mood?
Ilustrasi mood berantakan (pexels.com/Maxim Titov)
  • Gangguan kecil sehari-hari dapat terasa besar saat pikiran sudah penuh atau terjadi berturut-turut; efek kumulatifnya berpotensi mengganggu kesejahteraan emosional dan memicu konflik.
  • Emosi negatif dari satu kejadian membuat seseorang lebih sensitif terhadap gangguan berikutnya, terutama ketika lelah, kurang tidur, menghadapi tekanan, atau memiliki beban pikiran.
  • Untuk memulihkan mood, kenali pemicu, beri jeda sebelum bereaksi, lakukan relaksasi, fokus pada langkah yang bisa dikendalikan, serta terima situasi yang tak dapat diubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah mengalami pagi yang sebenarnya berjalan biasa saja, tetapi tiba-tiba suasana hati langsung berantakan gara-gara melihat kecoa di kamar mandi? Atau, sudah bersiap berangkat kerja dengan penuh semangat, tetapi justru ketinggalan kereta karena terlambat beberapa menit? Hal-hal kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tapi terkadang cukup membuat kita merasa kesal sepanjang hari.

Menariknya, suasana hati yang buruk akibat kejadian sederhana tidak selalu berkaitan dengan besarnya masalah. Lantas, mengapa hal sederhana bisa merusak mood seharian dan bagaimana cara mengatasinya?

1. Hal kecil bisa terasa besar ketika pikiran sudah penuh

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/Photo by cottonbro studio)

Bayangkan kamu sedang terburu-buru berangkat kerja, tetapi tiba-tiba menemukan kecoa di kamar. Setelah berhasil mengusirnya, kamu justru menumpahkan kopi ke pakaian. Belum selesai membersihkan diri, kamu menyadari bahwa kereta yang biasa dinaiki sudah berangkat. Satu per satu kejadian tersebut mungkin sebenarnya bisa diatasi, tetapi ketika terjadi berdekatan, semuanya terasa seperti masalah besar.

Dalam psikologi, kejadian-kejadian kecil yang mengganggu aktivitas sehari-hari dikenal sebagai daily hassles. Contohnya seperti menghadapi kemacetan, kehilangan barang, menghadapi rekan kerja yang menyebalkan, hingga terlambat menghadiri janji.

"Kekhawatiran dan hal-hal yang menjengkelkan sehari-hari memainkan peran besar dalam kesejahteraan emosional. Dampak langsung dari masalah-masalah kecil ini mungkin tidak terlalu terlihat, namun efek kumulatifnya seiring waktu bisa sangat signifikan. Sebagai contoh, daily hassles ini telah dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi dan dapat memicu konflik dalam hubungan," kata psikolog Seth J. Gillihan, Ph.D. dalam Psychology Today.

2. Ketika satu masalah kecil memicu kekesalan lainnya

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/cottonbro studio)

Pernah merasa kesal karena hal sederhana, kemudian tanpa sadar menjadi lebih sensitif terhadap kejadian berikutnya? Padahal, jika salah satu kejadian tersebut terjadi pada hari yang berbeda, mungkin kamu tidak akan terlalu mempermasalahkannya.

Fenomena ini dapat terjadi karena emosi negatif dari satu kejadian memengaruhi cara seseorang merespons kejadian berikutnya. Ketika sedang kesal, seseorang mungkin lebih mudah memperhatikan hal-hal yang mengganggu dan lebih sulit mengabaikan situasi yang tidak sesuai harapan. Akibatnya, masalah baru yang sebenarnya ringan, dapat terasa semakin berat karena suasana hati sudah telanjur buruk.

"Munculnya gangguan sehari-hari (daily hassles) dikaitkan dengan peningkatan tingkat afek negatif yang menyusul kemudian. Sebanyak 70 partisipan (usia 18–30 tahun) menyelesaikan studi ecological momentary assessment (EMA) berbasis ponsel pintar selama 4 minggu; mereka melaporkan kejadian dan tingkat tekanan yang dirasakan akibat gangguan sehari-hari serta afek negatif mereka pada lima waktu sinyal semi-acak antara pukul 09.00 pagi hingga 20.00 malam," dikutip dari jurnal Stress and Health berjudul Increases of negative affect following daily hassles are not moderated by neuroticism: An ecological momentary assessment study dalam laman Wiley Online Library.

 

3. Kelelahan membuat kita lebih sulit menghadapi gangguan kecil

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/Photo by Maria Orlova)

Hal kecil yang biasanya tidak mengganggu bisa terasa sangat menjengkelkan ketika tubuh dan pikiran sedang lelah. Misalnya, suara kendaraan yang bising mungkin tidak menjadi masalah saat kamu sedang berlibur. Namun, ketika baru pulang bekerja setelah menjalani hari yang melelahkan, suara yang sama bisa membuatmu semakin kesal.

Ketika sedang beristirahat dengan cukup dan tidak memiliki banyak beban pikiran, seseorang mungkin lebih mudah menerima kejadian yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, saat menghadapi tekanan pekerjaan, kurang tidur, atau masalah pribadi, kemampuan untuk mengelola emosi bisa terasa lebih terbatas. Akibatnya, gangguan sederhana dapat memicu reaksi yang lebih besar.

Psikolog Shoba Sreenivasan, Ph.D., dan Linda E. Weinberger, Ph.D., dalam artikel mereka di Psychology Today, menjelaskan bahwa gangguan kecil yang terus-menerus dapat menguras kemampuan seseorang dalam menghadapi stres. Mereka juga mengingatkan bahwa mengabaikan akumulasi gangguan tersebut dapat berdampak pada kesehatan emosional dan fisik.

"Meskipun kita memiliki sumber daya psikologis yang lebih dari cukup untuk menghadapi satu pemicu stres kecil saja, gangguan-gangguan kecil ini jika terakumulasi dapat membuat kita kewalahan secara emosional dan melumpuhkan kemampuan kita untuk bertindak. Gangguan sehari-hari memang dapat menyebabkan stres. Gangguan sehari-hari dapat berdampak negatif terhadap kesehatan emosional," jelasnya.

4. Terlalu memikirkan kejadian kecil bisa memperpanjang mood buruk

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by CRYSTALWEED cannabis)

Terkadang, kejadian yang membuat kesal sebenarnya sudah selesai, tetapi pikiran kita masih terus mengulanginya. Contohnya, setelah tertinggal kereta, kamu mungkin terus memikirkan betapa cerobohnya diri sendiri karena terlambat bangun. Bahkan, kamu bisa membayangkan berbagai kemungkinan yang seharusnya dilakukan agar kejadian tersebut tidak terjadi.

Tanpa disadari, kejadian yang hanya berlangsung beberapa menit justru terus memenuhi pikiran hingga berjam-jam. Kebiasaan memikirkan kembali kejadian yang tidak menyenangkan secara berulang, dikenal sebagai rumination atau perenungan berlebihan. Ketika seseorang terus memikirkan hal yang membuatnya kesal, emosi negatif bisa bertahan lebih lama.

Akibatnya, perhatian menjadi sulit dialihkan ke aktivitas lain dan kejadian sederhana terasa semakin mengganggu. Padahal, tidak semua masalah membutuhkan pemikiran yang panjang, terutama jika situasinya sudah tidak dapat diubah.

"Mengurangi fokus negatif terhadap pemicu stres melalui pembingkaian ulang kognitif (cognitive reframing), yaitu dengan sengaja mengalihkan pandangan ke sisi positif, dapat meredakan tekanan batin yang sering menyertai peristiwa-peristiwa kecil yang menjengkelkan," saran Shoba dan Linda.

"Menyadari sejak awal bahwa gangguan tersebut sebenarnya sepele dan mampu menetralkan masalah kecil itu adalah jalan keluar agar kita tidak lumpuh akibat ribuan kejengkelan kecil sehari-hari," tambahnya.

5. Cara mengembalikan mood setelah mengalami hari yang menyebalkan

Ilustrasi mood berantakan (pexels.com/Maxim Titov)

Ketika suasana hati sudah terlanjur buruk, memaksakan diri untuk langsung merasa positif bukanlah satu-satunya solusi. Kamu bisa mulai dengan mengenali apa yang sebenarnya membuatmu kesal. Mengenali pemicunya dapat membantu menentukan langkah yang sesuai untuk memperbaiki suasana hati.

Selanjutnya, berikan jeda sebelum bereaksi terhadap situasi yang menjengkelkan. Kamu bisa mengambil napas perlahan, berjalan sebentar, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang membuat tubuh lebih rileks.

Jika masalahnya memang bisa diselesaikan, cobalah fokus pada satu langkah kecil yang dapat dilakukan. Namun, jika situasinya berada di luar kendali, tidak ada salahnya menerima bahwa beberapa hal memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

"Dalam beberapa situasi, kamu bisa meredakan stres dengan mengubah cara berpikir. Cermati pikiranmu untuk melihat apakah ada hal yang terlewat atau justru ini hanya dibesar-besarkan. Lalu bertindak untuk mengubah perilaku kamu, karena beberapa gangguan sehari-hari dapat dihindari dengan kesadaran dan perencanaan yang lebih baik," tips dari Seth J. Gillihan.

"Terakhir, cobalah untuk berdamai dengan pengalaman-pengalaman yang sulit. Alih-alih melawan apa yang sedang terjadi, kamu bisa mencoba untuk menerimanya secara terbuka. Maksud saya bukan berpura-pura tidak masalah dengan hal-hal yang menjengkelkan, melainkan membiarkan hal-hal tersebut menjadi bagian dari kehidupanmu," tambah Gillihan.

 

Kecoa yang tiba-tiba muncul di kamar, kopi yang tumpah, hingga ketinggalan kereta memang bukan masalah besar jika dilihat satu per satu. Namun, ketika terjadi saat tubuh lelah, pikiran penuh, atau berbagai gangguan datang berturut-turut, kejadian sederhana tersebut bisa memengaruhi suasana hati sepanjang hari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article