Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Keputusan Hidup yang Kelihatannya Benar Tapi Bisa Disesali

4 min read
5 Keputusan Hidup yang Kelihatannya Benar Tapi Bisa Disesali
ilustrasi menyesal (pexels.com/ Timur Weber)
  • Pekerjaan bergaji tinggi perlu dinilai bersama jam kerja, biaya perjalanan, beban pekerjaan, dan waktu istirahat agar tambahan penghasilan sepadan dengan pengorbanan.
  • Mengikuti harapan keluarga atau menikah karena tekanan waktu dapat memicu penyesalan jika minat pribadi, kesiapan pasangan, keuangan, tanggung jawab, dan tujuan hidup terabaikan.
  • Menunggu kesiapan sempurna serta terlalu mengutamakan tabungan bisa menunda keinginan bertahun-tahun; persiapan dan keuangan perlu diimbangi langkah bertahap serta ruang menikmati hasil kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada keputusan yang terasa paling masuk akal saat diambil. Semua keputusan sebenarnya punya alasan yang bisa dipahami, apalagi kalau keputusan tersebut diambil dengan harapan hidup akan menjadi lebih baik.

Namun, sesuatu yang terlihat benar belum tentu cocok untuk dijalani dalam jangka panjang. Kadang, akibatnya baru terasa setelah kita kehilangan waktu, kesempatan, atau terlalu lama mengabaikan keinginan sendiri. Sebelum meyakini untuk melakoninya, ketahui beberapa keputusan hidup yang kelihatannya benar tapi bisa disesali.

  1. 1. Memilih pekerjaan hanya karena gajinya lebih besar

    ilustrasi pekerjaan
    ilustrasi pekerjaan (unsplash.com/Jonas Morgner)

    Mendapat tawaran gaji yang lebih tinggi tentu sulit ditolak, terutama kalau kita sedang punya banyak kebutuhan. Kenaikan penghasilan bisa membantu membayar cicilan, menambah tabungan, atau memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, angka di slip gaji bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah pekerjaan tersebut cocok untuk dijalani.

    Gaji yang lebih besar bisa terasa kurang sepadan kalau jam kerja jauh lebih panjang, perjalanan ke kantor menghabiskan waktu, atau beban pekerjaannya membuat kita terus kelelahan. Sebelum menerima tawaran, coba hitung juga biaya transportasi, waktu yang dibutuhkan untuk bekerja, dan kesempatan beristirahat. Bukan berarti harus menolak pekerjaan bergaji tinggi, tetapi pastikan tambahan penghasilan itu memang sepadan dengan hal-hal yang perlu dikorbankan.

  2. 2. Selalu mengikuti keinginan keluarga agar gak mengecewakan mereka

    ilustrasi keluarga
    ilustrasi keluarga (pexels.com/Askar Abayev)

    Mempertimbangkan pendapat keluarga merupakan hal yang wajar, terutama ketika keputusan yang diambil juga berdampak pada mereka. Kita mungkin memilih jurusan kuliah yang disarankan orangtua, menerima pekerjaan yang dianggap menjanjikan, atau bertahan dalam keadaan tertentu karena gak ingin membuat keluarga kecewa. Awalnya, keputusan tersebut bisa terasa sebagai bentuk tanggung jawab.

    Namun, menjalani pilihan yang sebenarnya gak kita inginkan dalam waktu lama bisa menimbulkan penyesalan. Misalnya, seseorang sudah bertahun-tahun bekerja di bidang yang gak disukai hanya karena takut dianggap menyia-nyiakan harapan orangtua. Menghargai keluarga gak harus berarti menyerahkan semua keputusan hidup kepada mereka. Pendapat mereka tetap bisa didengarkan sambil mempertimbangkan kemampuan, minat, dan kehidupan yang ingin kita jalani sendiri.

  3. 3. Terus menunda keinginan sampai merasa benar-benar siap

    ilustrasi menunda istriahat
    ilustrasi menunda istriahat (pexels.com/cottonbro studio)

    Menunggu waktu yang tepat sering terdengar seperti keputusan bijak. Kita ingin punya tabungan lebih banyak sebelum bepergian, menunggu lebih percaya diri sebelum melamar pekerjaan baru, atau merasa perlu menguasai banyak hal sebelum memulai usaha. Persiapan memang penting, terutama kalau keputusan tersebut melibatkan uang dengan nominal yang tak sedikit disertai risiko yang besar.

    Masalahnya, ukuran siap terkadang terus berubah. Setelah tabungan terkumpul, muncul kebutuhan lain yang harus didahulukan. Ketika kemampuan sudah bertambah, kita kembali merasa belum cukup bagus untuk mencoba. Akibatnya, keinginan yang sebenarnya bisa mulai diwujudkan secara bertahap justru tertunda bertahun-tahun. Daripada menunggu semuanya sempurna, tentukan apa yang memang perlu disiapkan dan langkah kecil apa yang sudah bisa dilakukan sekarang.

  4. 4. Memutuskan menikah hanya karena merasa sudah waktunya

    ilustrasi menikah
    ilustrasi menikah (pexels.com/ Photography Maghradze)

    Melihat teman-teman mulai menikah, mendapat pertanyaan dari keluarga, atau sudah lama berpacaran bisa membuat seseorang merasa dirinya juga harus segera menikah. Apalagi kalau hubungan sudah berjalan bertahun-tahun, keputusan untuk melangkah ke jenjang pernikahan sering dianggap sebagai kelanjutan yang wajar. Padahal, lama berpacaran dan kesiapan menikah merupakan dua hal yang berbeda.

    Pernikahan bukan cuma soal menyayangi pasangan atau ingin segera punya keluarga sendiri. Ada urusan keuangan, pembagian tanggung jawab, tempat tinggal, sampai cara menyelesaikan masalah yang perlu dibicarakan sebelum menikah. Kalau keputusan diambil hanya karena takut tertinggal dari teman sebaya atau merasa hubungan sudah terlalu lama untuk diakhiri, persoalan penting bisa terlewat. Gak harus menunggu semua keadaan sempurna, tetapi pastikan kamu dan pasangan memang ingin membangun kehidupan bersama, bukan sekadar memenuhi tuntutan orang lain.

  5. 5. Mengutamakan tabungan sampai gak pernah menikmati hasil kerja sendiri

    ilustrasi tabungan
    ilustrasi tabungan (pexels.com/ www.kaboompics.com)

    Menabung untuk masa depan merupakan kebiasaan yang baik. Kita perlu mempersiapkan dana darurat, biaya tempat tinggal, kebutuhan keluarga, dan berbagai pengeluaran yang mungkin muncul nanti. Karena itu, menahan diri dari belanja yang gak perlu memang bisa membantu menjaga kondisi keuangan.

    Namun, terlalu takut mengeluarkan uang juga bisa membuat kita terus menunda hal-hal yang sebenarnya mampu kita nikmati. Kita selalu merasa belum cukup kaya untuk mengambil cuti, bertemu teman, atau membeli sesuatu yang memang dibutuhkan. Akibatnya, penghasilan terus disimpan, tetapi kita jarang memberi ruang untuk menikmati hasil kerja sendiri. Menabung tetap penting, tetapi anggarannya bisa dibagi atau disesuaikan agar kebutuhan masa depan tetap terjaga tanpa membuat seseorang seumur hidup berada di fase survival mode tanpa pernah menikmatinya.

    Gak semua keputusan yang berakhir dengan penyesalan berarti salah sejak awal. Bisa jadi, keputusan hidup yang kelihatannya benar tapi bisa disesali berawal dari informasi dan keadaan saat itu. Kemudian, kebutuhan kita berubah seiring waktu. Sebaiknya jangan sampai hanya karena sebuah pilihan terlihat aman atau disukai orang lain, kita berhenti mengevaluasi apakah pilihan tersebut masih sesuai dengan kehidupan yang ingin kita jalani.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More