Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kesalahan Menata Kamar Kos yang Bikin Ruangan Terasa Sumpek

5 Kesalahan Menata Kamar Kos yang Bikin Ruangan Terasa Sumpek
Ilustrasi kamar berantakan (pexels.com/Alex Tyson)
Intinya Sih
  • Artikel membahas lima kesalahan umum dalam menata kamar kos yang membuat ruangan terasa sempit, mulai dari lantai penuh barang hingga dekorasi berlebihan.
  • Ditekankan pentingnya pencahayaan alami, pemilihan furnitur proporsional, serta penerapan prinsip minimalisme agar kamar terasa lebih lega dan nyaman.
  • Solusi praktis seperti sistem penyimpanan jelas, gorden tipis, dan kebiasaan menjaga lantai tetap kosong disarankan untuk menciptakan kamar kos yang rapi dan fungsional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sudah beli dekorasi baru, sudah beberes, tapi kamar kos masih terasa sumpek dan tidak nyaman? Bisa jadi bukan masalah ukuran kamarnya melainkan ada beberapa kebiasaan penataan yang tanpa sadar justru membuat ruangan terasa lebih sempit dan berat dari seharusnya.

Sebelum kamu keluar uang lebih untuk membeli dekorasi baru, coba cek dulu apakah kamu melakukan lima kesalahan menata kamar kos berikut ini!

1. Terlalu banyak menyimpan barang di lantai hingga tidak ada ruang untuk bergerak

Ilustrasi kamar berantakan
Ilustrasi barang berantakan di lantai (pexels.com/Igor Starkov)

Lantai yang penuh barang adalah musuh nomor satu kamar kos yang nyaman. Tas yang diletakkan sembarangan, tumpukan buku di pojok, sepatu berserakan di depan pintu semua ini secara visual memakan ruang dan membuat mata tidak punya tempat untuk beristirahat. Kamar yang sama dengan lantai bersih akan selalu terasa jauh lebih luas dibanding kamar dengan lantai penuh barang.

Solusinya bukan dengan membuang semua barang, melainkan dengan memindahkannya ke tempat yang lebih tepat. Gantung tas di belakang pintu, simpan sepatu di rak vertikal, dan pindahkan buku ke rak dinding. Sisihkan waktu 10 menit setiap malam untuk memastikan lantai bebas dari barang yang tidak semestinya ada di sana kebiasaan kecil ini punya dampak yang sangat besar.

2. Menutup jendela dengan gorden tebal sepanjang hari sehingga kamar gelap dan pengap

Ilustrasi kamar gelap gorden tertutup
Ilustrasi kamar gelap gorden tertutup (pexels.com/Ron Lach)

Banyak penghuni kos menutup gorden rapat-rapat sepanjang hari dengan alasan privasi atau menghindari panas. Padahal cahaya alami adalah elemen gratis paling powerful yang bisa membuat kamar terasa lebih luas, segar, dan hidup. Kamar yang gelap dan minim cahaya tidak hanya terasa sempit secara visual, tapi juga terbukti berdampak negatif pada mood dan produktivitas penghuninya.

Ganti gorden tebalmu dengan gorden tipis berbahan sheer yang tetap memberikan privasi namun tetap membiarkan cahaya masuk. Atau buka gorden sepenuhnya di siang hari dan tutup hanya saat malam. Jika privasi menjadi masalah, pasang kaca film satu arah yang memungkinkan cahaya masuk dari luar tapi menghalangi pandangan dari luar ke dalam kamarmu.

3. Meletakkan furnitur terlalu besar yang tidak proporsional dengan ukuran kamar

Ilustrasi furnitur banyak di kamar yang ukurannya kecil
Ilustrasi furnitur banyak di kamar yang ukurannya kecil (pexels.com/Zak Chapman)

Kesalahan yang sering terjadi saat pindah kos adalah membeli atau membawa furnitur dari rumah yang ukurannya tidak sesuai dengan kamar baru. Lemari besar, meja kerja lebar, atau sofa kecil yang dijejalkan ke kamar mungil justru membuat ruangan semakin terasa sesak. Dalam desain interior, prinsipnya sederhana furnitur yang terlalu besar untuk ruangan akan selalu mendominasi dan memakan ruang secara visual maupun fisik.

Evaluasi kembali furnitur yang ada di kamarmu apakah semuanya benar-benar diperlukan? Prinsip minimalisme sangat relevan untuk kamar kos: lebih sedikit furnitur dengan pemilihan yang tepat jauh lebih baik daripada banyak furnitur yang berdesakan. Pertimbangkan untuk mengganti lemari besar dengan rak gantung dinding yang lebih ringan secara visual namun tetap fungsional.

4. Menumpuk dekorasi terlalu banyak hingga kamar terasa ramai dan justru berantakan

Ilustrasi dekorasi berlebihan
Ilustrasi dekorasi berlebihan (pexels.com/Ruslan Sikunov)

Semangat mendekorasi kamar memang bagus, tapi ada titik di mana terlalu banyak dekorasi justru berbalik menjadi masalah. Ketika setiap sudut kamar penuh dengan pernak-pernik, poster, tanaman, dan aksesori yang tidak terkoordinasi, mata tidak tahu harus fokus ke mana dan ruangan justru terasa berantakan meski sebenarnya bersih. Ini yang sering disebut sebagai visual clutter.

Kunci dekorasi yang berhasil adalah konsistensi tema dan keberanian untuk membiarkan beberapa area kamar bernapas tanpa dekorasi. Pilih satu focal point utama bisa dinding di belakang tempat tidur atau sudut meja belajar dan fokuskan dekorasimu di sana. Biarkan bagian kamar lainnya lebih simpel dan bersih agar focal point tersebut benar-benar menonjol dan terlihat indah.

5. Tidak punya sistem penyimpanan yang jelas sehingga barang selalu berantakan

Ilustrasi sistem penyimpanan kamar
Ilustrasi sistem penyimpanan kamar (pexels.com/Max Vakhtbovych)

Kamar yang berantakan bukan selalu karena penghuninya malas sering kali masalahnya adalah tidak adanya sistem penyimpanan yang jelas. Kalau setiap barang tidak punya rumahnya masing-masing, maka barang-barang tersebut akan selalu berakhir di mana saja dan kamar akan terus-menerus terlihat berantakan meski sudah sering dibereskan. Ini adalah siklus yang melelahkan dan tidak perlu terjadi.

Luangkan waktu satu hari untuk membuat sistem penyimpanan yang masuk akal misalnya kotak-kotak kecil berlabel di atas meja untuk alat tulis, keranjang khusus untuk pakaian kotor, dan tempat khusus untuk charger dan kabel. Begitu setiap barang punya tempatnya sendiri, membereskan kamar jadi jauh lebih cepat dan kamar bisa tetap rapi jauh lebih lama dari biasanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us