Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kesalahan saat Mengikuti Rekomendasi Buku dari Media Sosial

5 Kesalahan saat Mengikuti Rekomendasi Buku dari Media Sosial
ilustrasi buku (unsplash.com/Christin Hume)
Intinya Sih
  • Rekomendasi buku dari media sosial sering menyesatkan karena ekspektasi tidak sesuai isi sebenarnya.

  • Buku yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.

  • Banyak orang mengikuti rekomendasi demi tren atau simbol sosial, bukan kebutuhan membaca.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Rekomendasi buku di media sosial sering terlihat meyakinkan karena dikemas secara singkat, visualnya rapi, dan terdapat opini yang terdengar tegas. Banyak orang akhirnya membeli buku hanya karena sering muncul di lini masa, bukan karena benar-benar butuh atau tertarik. Masalahnya, pengalaman membaca tidak bisa disamakan begitu saja antarorang.

Buku yang terasa membekas bagi satu orang bisa terasa hambar, bahkan melelahkan, bagi orang lain. Di titik ini, rekomendasi buku justru kerap menimbulkan ekspektasi yang keliru tanpa disadari. Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi saat mengikuti rekomendasi buku dari media sosial.

1. Beli buku karena rekomendasi tanpa melihat isi

ilustrasi membeli buku
ilustrasi membeli buku (unsplash.com/Eddie Junior)

Banyak rekomendasi buku hanya menampilkan 1 atau 2 kutipan yang terdengar keren atau menyentuh. Satu paragraf tentang kehidupan dewasa, contohnya, dipotong dan dijadikan takarir. Padahal, kutipan tersebut bisa jadi hanya bagian kecil dari ratusan halaman dengan gaya bahasa yang berbeda jauh.

Saat buku dibaca utuh, isinya justru dipenuhi penjelasan panjang yang tidak semua orang nyaman mengikutinya. Kesalahan ini membuat pembaca merasa tertipu. Ini bukan karena bukunya buruk, melainkan karena ekspektasi. Jika sebelum membeli tidak mencari gambaran isi buku, rekomendasi semacam ini mudah menyesatkan pengalaman membaca.

2. Disamakan dengan kebutuhan semua orang

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Sincerely Media)

Ada buku yang cocok dibaca saat sedang ingin bacaan ringan, ada pula yang menuntut fokus penuh. Masalah muncul ketika buku yang membutuhkan perhatian tinggi direkomendasikan tanpa konteks, misalnya seseorang yang jarang membaca buku tebal langsung membeli bacaan 500 halaman hanya karena sering disebut “buku ini wajib dibaca umur 20-an”. Alih-alih menikmati, buku itu justru berhenti dibaca di halaman awal.

Situasi ini sering membuat orang menyimpulkan dirinya tidak suka membaca. Padahal, masalahnya bukan pada minat membaca, melainkan pilihan buku yang tidak sesuai kebutuhan saat itu. Rekomendasi buku seharusnya dibaca sebagai saran, bukan standar yang harus diikuti semua orang.

3. Rekomendasi dianggap jujur tanpa kepentingan lain

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Thought Catalog)

Tidak semua rekomendasi buku muncul murni karena kecintaan pada isi bukunya. Ada yang berkaitan dengan kerja sama, seperti endorsement atau affiliate, ada pula yang didorong tren agar konten mereka tetap ramai. Meski tidak selalu salah, pembaca sering lupa bahwa sudut pandang pembuat konten tidak selalu netral.

Buku dipuji tanpa menyebut bagian isi buku yang terasa lambat, repetitif, kurang menarik, atau terlalu berbelit. Ketika pembaca menemukan bagian-bagian tersebut sendiri, rasa kecewa akhirnya muncul. Di sini, masalahnya bukan pada rekomendasi buku, melainkan pada cara pembaca menelan rekomendasi tanpa berpikir kritis.

4. Rekomendasi buku diikuti tanpa mengenali gaya bercerita penulis

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Dia Aram)

Setiap penulis punya kebiasaan sendiri dalam menyusun cerita atau gagasan. Ada yang gemar mengulang ide dengan kalimat berbeda, ada yang suka menggunakan contoh panjang sebelum masuk ke inti. Jika pembaca tidak cocok dengan gaya ini, membaca terasa seperti beban, bukan hiburan.

Kesalahan umum terjadi saat pembaca hanya mengenal judul dan tema, tetapi tidak tahu cara penulis menyampaikan isi. Akibatnya, buku terasa berat meski topiknya begitu menarik. Rekomendasi buku akan lebih masuk akal jika pembaca mengenali gaya penulis, bukan hanya karena popularitas buku.

5. Dijadikan penanda selera seseorang, bukan kebutuhan membaca

ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Teo Zac)

Buku tertentu sering dianggap “keren” untuk dimiliki karena sering muncul lewat unggahan orang lain. Tidak sedikit orang membelinya agar tidak terlihat tertinggal, lalu memajangnya di rak buku tanpa pernah benar-benar dibaca. Buku berubah fungsi menjadi simbol sosial, bukan lagi sebagai bacaan.

Kebiasaan ini membuat membaca kehilangan maknanya sebagai aktivitas personal. Rekomendasi buku seharusnya membantu orang agar tertarik membaca, tetapi justru malah membuat kecewa. Akhirnya, buku tergeletak begitu saja, lalu menyisakan rasa bangga bahwa "aku juga punya buku keren itu di rumah".

Rekomendasi buku dari media sosial tidak selalu salah, tetapi perlu disikapi dengan bijak. Membaca akan terasa lebih menyenangkan ketika pilihan buku sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti arus media sosial. Jadi, apakah rekomendasi buku masih perlu diikuti mentah-mentah atau sudah saatnya beli buku karena kamu memang mau beli dan baca?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us