Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Siapakah Buruh Itu? Apakah Pegawai Negeri Termasuk Buruh?

Siapakah Buruh Itu? Apakah Pegawai Negeri Termasuk Buruh?
ilustrasi buruh (unsplash.com/Arno Senoner)
Intinya Sih
  • Istilah buruh mencakup siapa pun yang bekerja untuk pihak lain dan menerima upah, tanpa membedakan jenis pekerjaan atau tingkat keahlian.
  • Perbedaan antara buruh dan karyawan lebih bersifat konteks sosial dan kebiasaan bahasa, bukan perbedaan fungsi atau dasar hukum.
  • Dalam sudut pandang hubungan kerja, pegawai negeri juga dapat dianggap sebagai buruh karena sama-sama bekerja dan menerima gaji dari pemberi kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Istilah buruh masih sering dipahami setengah-setengah, padahal perannya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menyentuh banyak jenis pekerjaan. Di satu sisi, kata ini kerap dilekatkan pada pekerjaan fisik. Sedangkan di sisi lain aturan hukum justru memberi makna yang lebih luas. Kebingungan makin terasa saat membandingkan buruh dengan karyawan atau pegawai negeri.

Pemahaman yang kurang tepat sering membuat posisi buruh terlihat lebih rendah, padahal secara fungsi tidak sesederhana itu. Lantas, siapakah buruh itu? Supaya tidak keliru melihatnya, penjelasan berikut bisa membantu memahami posisi buruh secara lebih utuh.

1. Buruh dipahami sebagai pekerja yang menerima upah dari pemberi kerja

ilustrasi buruh
ilustrasi buruh (unsplash.com/Glenov Brankovic)

Buruh pada dasarnya adalah orang yang bekerja kepada pihak lain dan menerima imbalan, baik harian, mingguan, maupun berdasarkan hasil kerja. Definisi ini tidak membatasi jenis pekerjaan, sehingga tidak selalu identik dengan pekerjaan kasar. Dalam praktiknya, buruh bisa ditemukan di proyek bangunan, pabrik, hingga sektor jasa yang berbasis keahlian. Cara pembayaran juga beragam, ada yang dibayar per hari, per proyek, atau berdasarkan jumlah hasil kerja.

Di Indonesia, pemahaman ini diperkuat oleh aturan ketenagakerjaan yang tidak membedakan secara tajam antara buruh, pekerja, dan karyawan. Perbedaan lebih banyak muncul dari kebiasaan bahasa, bukan dari dasar hukum. Karena itu, seorang operator mesin, admin gudang, atau bahkan staf teknis tetap bisa masuk dalam kategori buruh. Hal yang sering terlewat adalah posisi mereka yang sama-sama menjual tenaga atau kemampuan untuk mendapatkan penghasilan.

2. Perbedaan buruh dan karyawan lebih terasa pada konteks, bukan fungsi

ilustrasi buruh
ilustrasi buruh (unsplash.com/EqualStock)

Dalam percakapan sehari-hari, karyawan sering dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan buruh, padahal keduanya sama-sama bekerja dan menerima gaji. Karyawan biasanya diasosiasikan dengan pekerjaan kantor, kontrak kerja yang jelas, serta fasilitas seperti tunjangan. Sementara buruh lebih sering dikaitkan dengan pekerjaan lapangan atau sistem upah harian. Padahal, perbedaan ini tidak selalu berlaku di semua sektor.

Contoh konkretnya bisa dilihat di pabrik besar, di mana pekerja administrasi dan operator produksi sama-sama terikat kontrak dan menerima gaji bulanan. Secara fungsi, keduanya tidak berbeda jauh karena sama-sama bekerja untuk perusahaan. Hanya saja, penyebutan karyawan lebih sering diberikan pada pekerjaan yang dianggap lebih rapi atau formal. Persepsi inilah yang membuat kata buruh terasa lebih rendah, meski secara struktur kerja tidak demikian.

3. Klasifikasi buruh mencakup pekerjaan otot hingga pekerjaan berbasis keahlian

ilustrasi buruh
ilustrasi buruh (unsplash.com/Mario Spencer)

Buruh tidak hanya terbagi berdasarkan tempat kerja, tetapi juga berdasarkan jenis kemampuan yang digunakan. Ada buruh yang mengandalkan tenaga fisik, seperti pekerja bangunan atau buruh angkut. Ada juga yang mengandalkan keterampilan teknis, seperti operator mesin, teknisi, atau pekerja produksi dengan standar tertentu. Pembagian ini sering disebut sebagai kerah biru dan kerah putih, meski dalam praktiknya tidak selalu kaku.

Di lapangan, batas ini bisa saling tumpang tindih, terutama di industri modern. Seorang operator pabrik, misalnya, tetap membutuhkan pemahaman mesin meski pekerjaannya terlihat teknis. Begitu juga pekerja proyek yang sudah berpengalaman, nilainya bisa lebih tinggi karena keahlian yang dimiliki. Artinya, buruh tidak bisa disederhanakan hanya sebagai pekerjaan kasar, karena banyak yang membutuhkan kemampuan khusus.

4. Sistem kerja fleksibel membuat status buruh semakin beragam

ilustrasi buruh
ilustrasi buruh (unsplash.com/Catgirlmutant)

Perubahan sistem kerja membuat bentuk buruh semakin luas, tidak lagi terbatas pada pekerjaan tetap. Saat ini ada buruh harian lepas, pekerja kontrak, hingga tenaga outsourcing yang bekerja berdasarkan kebutuhan perusahaan. Sistem ini muncul karena perusahaan perlu menyesuaikan biaya dan kondisi pasar yang berubah cepat. Di sisi lain, pemerintah juga melihatnya sebagai cara untuk membuka lapangan kerja.

Contoh yang mudah ditemukan adalah pekerja gudang yang dipanggil saat volume barang meningkat, atau tenaga kebersihan yang dikelola pihak ketiga. Ada juga pekerja lepas di bidang kreatif yang dibayar per proyek tanpa ikatan jangka panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa status buruh tidak selalu identik dengan pekerjaan tetap. Justru, fleksibilitas ini membuat batas antara buruh dan profesi lain semakin tipis.

5. Pegawai negeri bisa dilihat sebagai buruh dalam sudut pandang tertentu

ilustrasi pegawai negeri
ilustrasi pegawai negeri (unsplash.com/SMKN 1 Gantar)

Pegawai negeri sering diposisikan sebagai abdi negara, tetapi jika dilihat dari definisi dasar, mereka tetap bekerja dan menerima gaji. Negara berperan sebagai pemberi kerja, sementara pegawai menjalankan tugas sesuai aturan yang ditetapkan. Dari sudut pandang ini, pegawai negeri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan buruh pada umumnya. Perbedaannya terletak pada sistem kerja, bukan pada prinsip dasar hubungan kerja.

Pandangan ini sering memicu perdebatan karena ada faktor status sosial yang melekat pada pegawai negeri. Banyak yang melihat posisi tersebut lebih stabil dan memiliki prestise tertentu. Namun, jika ditarik ke definisi sederhana, selama seseorang bekerja untuk pihak lain dan menerima upah, maka ia berada dalam posisi yang serupa. Cara pandang ini membantu melihat pekerjaan secara lebih netral tanpa memberi label yang berlebihan.

Memahami buruh tidak cukup hanya dari kebiasaan penyebutan, tetapi perlu melihat bagaimana sistem kerja berjalan di baliknya. Banyak peran yang selama ini dianggap berbeda ternyata memiliki dasar yang sama, yaitu bekerja dan menerima imbalan. Dengan sudut pandang yang lebih luas, posisi buruh tidak lagi sempit atau identik dengan pekerjaan tertentu. Lalu, setelah melihat penjelasan siapakah buruh, masihkah kata buruh terasa sesempit yang sering dibayangkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More