"Yakinkan anak-anak bahwa mereka aman. Pertahankan rutinitas yang dapat diprediksi," jelas psikolog Karen Rogers, PhD, dikutip dari Children’s Hospital Los Angeles.
"Lindungi anak-anak yang lebih muda dari berita. Bantu remaja mengelola paparan mereka sendiri terhadap media. Izinkan mereka untuk berbicara sebanyak atau sesedikit yang mereka inginkan tentang pengalaman mereka," lanjut Rogers.
5 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Setelah Trauma

Trauma pada anak bisa datang dari berbagai pengalaman, seperti kehilangan, kekerasan, bullying, atau lingkungan yang tidak aman. Dampaknya tidak hanya pada perilaku mereka, tetapi juga pada rasa percaya diri anak yang menurun. Anak yang sebelumnya ceria bisa menjadi lebih pendiam, menyendiri, takut mencoba hal baru, bahkan merasa tidak berharga.
Kepercayaan diri yang menurun ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Anak membutuhkan dukungan yang tepat agar bisa kembali merasa aman dan percaya pada dirinya sendiri.
1. Menciptakan rasa aman sebagai fondasi utama

Langkah pertama dalam membangun kembali rasa kepercayaan diri anak adalah dengan menciptakan rasa aman. Anak yang mengalami trauma sering kali merasa dunia tidak lagi aman, sehingga mereka membutuhkan kepastian bahwa lingkungan sekitarnya bisa dipercaya.
Tentu rasa aman ini bisa dibangun melalui rutinitas yang konsisten, komunikasi yang lembut, dan kehadiran orangtua yang responsif. Ketika anak merasa aman, mereka perlahan mulai berani membuka diri dan mencoba kembali hal-hal yang sebelumnya mereka hindari.
2. Memberi validasi emosi anak

Setelah trauma, anak sering kali merasa emosinya tidak dimengerti. Mereka bisa merasa sedih, marah, atau takut tanpa tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Di sinilah pentingnya orangtua untuk memvalidasi emosi anak.
"Memvalidasi perasaan anak membantu mereka merasa dipahami. Membantu anak merasa dipahami berarti mengendalikan ego dan keinginan untuk menggurui," jelas psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D. dikutip dari Psychology Today.
"Memvalidasi perasaan anak juga berarti orangtua tidak menghakiminya. Sebaliknya, orangtua hanya mengakui perasaannya," lanjut Jeffrey Bernstein.
3. Mendorong anak mencoba hal kecil secara bertahap

Anak yang mengalami trauma cenderung takut gagal atau takut menghadapi situasi baru. Oleh karena itu, penting untuk membantu mereka membangun kepercayaan diri melalui langkah kecil yang realistis. Hal ini bisa dimulai dari rutinitas harian mereka.
"Berikan anak-anak kenyamanan rutinitas harian untuk memberi mereka struktur dan rasa aman. Seiring bertambahnya usia anak, mereka dapat mulai mengembangkan rutinitas mereka sendiri," saran psikolog Children’s Hospital Los Angeles, Stephanie Marcy, PhD,.
"Bangun sistem dukungan yang kuat, termasuk keluarga dekat dan jauh, guru, mentor, pelatih, teman sebaya, atau tokoh agama," lanjutnya.
4. Menjadi role model dalam mengelola emosi

Anak belajar banyak dari cara orangtua bersikap. Jika orangtua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru dan belajar melakukan hal yang sama. Ketika orangtua menunjukkan cara menghadapi stres dengan tenang, anak akan merasa lebih aman dan yakin bahwa mereka juga bisa mengatasi perasaan sulit.
"Salah satu cara paling ampuh yang dapat dilakukan orangtua untuk memengaruhi anak-anak mereka adalah dengan memberikan teladan. Tunjukkan kepada anak-anak melalui contoh bahwa konflik dapat diselesaikan dan kesulitan dapat diatasi," kata Rogers.
5. Memberikan dukungan tanpa tekanan berlebihan

Dalam proses pemulihan, penting untuk tidak memaksa anak cepat pulih. Tekanan justru bisa membuat anak semakin tertekan dan kehilangan rasa percaya diri. Perlu disadari bahwa proses pemulihan bisa membutuhkan beberapa minggu hingga bulan.
"Pemulihan bisa membutuhkan waktu lama. Setelah beberapa minggu atau bulan, banyak anak yang mengalami stresor atau trauma jangka pendek kembali seperti sebelum trauma," jelas Rogers.
"Jika itu tidak terjadi, mungkin bijaksana untuk mencari bantuan tambahan. Terapi individu, keluarga, atau kelompok dapat sangat efektif dalam membantu orang belajar mengatasi kesulitan," tambahnya.
Hal yang perlu dilakukan adalah dukungan yang konsisten, penuh empati, dan tanpa ada tuntutan berlebihan akan membantu anak merasa diterima apa adanya. Dari sinilah kepercayaan diri mereka bisa tumbuh kembali secara alami.
Untuk meningkatkan kepercayaan diri anak setelah trauma prosesnya memang tidak instan, harus dilakukan secara bertahap. Tapi dengan menciptakan rasa aman, memvalidasi emosi, serta memberikan dukungan yang tepat, anak bisa perlahan bangkit dari pengalaman buruk mereka.


















