"Ibu seorang pakar ophthalmology yang terkemuka di Malaysia, penerima Gold Medalist in Obstetrics and Gynecology daripada Royal College of Surgeons, terpaksa meninggalkan karier semua itu dan masuk ke medan politik," ceritanya, ketika sang ayah menjadi tahanan politik. "Perhaps it's better if we don't wait for a glass cliff sebelum kita minta wanita untuk menceburi sebarang bidang pun," tegasnya.
Tantangan Kartini Masa Kini di Berbagai Bidang, Relate?

Jakarta, IDN Times - Hari Kartini tiap tahun dirayakan dengan penuh semangat. Tapi di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang lebih besar: sudahkah perjuangan Kartini benar-benar selesai? Jawabannya bisa dilihat dari tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia sampai saat ini. Saat ini mungkin berbeda bentuknya, tapi esensinya tetap sama.
Soal kesetaraan, akses, dan pengakuan. Para narasumber di acara Leadership & Liberation in Heels: Women in Focus oleh Social Quotient Indonesia bersama Happy Hearts Indonesia pada Rabu (29/4/2026) di Kuningan City Ballroom, Jakarta Selatan, menyampaikan beberapa tantangan yang masih dihadapi Kartini masa kini. Mulai dari di dunia politik, media, hingga tantangan sebagai perempuan itu sendiri.
1. Dalam dunia politik, perempuan cenderung ‘dicari’ hanya saat krisis

Ada fenomena yang dalam diskursus kepemimpinan disebut glass cliff, ini berbeda dari glass ceiling yang lebih sering dibicarakan. Kalau glass ceiling bicara soal batas tak kasat mata yang menghalangi perempuan naik, glass cliff bicara soal momen ketika perempuan baru dilibatkan justru saat situasi sudah gawat.
Nurul Izzah Anwar, Executive Chairperson, Polity Malaysia, menyebut fenomena ini sebagai 'bidang terjun'. Perempuan yang tiba-tiba diminta turun tangan di saat yang paling sulit, bukan di saat kondisi sedang baik-baik saja. Ia menggambarkan bagaimana ibunya sendiri mengalami hal tersebut secara langsung.
2. Di dunia bisnis dan investasi, hanya 2 persen perempuan yang dapat modal

Angka ini tidak berubah sejak 2010 hingga sekarang. Hanya 2 persen perempuan pendiri usaha (female founders) yang berhasil mendapatkan pendanaan dari modal ventura dan angel investment secara global. Gita Sjahrir, Director for Investor Relations, PT TBS Energi Utama, tahu betul bagaimana rasanya berjuang di industri yang belum ramah terhadap perempuan.
"Hanya 2 persen female founders mendapatkan dana modal ventura dan angel investment ever, like globally. Dan ini angka enggak berubah sejak tahun 2010 when I first started investing," katanya.
3. Dalam pendidikan pun, keluarga cenderung mendahulukan anak laki-laki

Perjuangan Kartini bermula dari pendidikan. Meski sudah lebih dari satu abad berlalu, masalah yang sama masih ada. Di keluarga-keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ketika harus memilih antara membiayai pendidikan anak laki-laki atau perempuan, pilihan seringkali jatuh pada anak laki-laki.
Yenny Wahid, Social Entrepreneur, Political Activist, dan advocate for peace and tolerance, mengingatkan bahwa semangat Kartini bukan sekadar soal kebaya atau perayaan simbolik. Esensinya adalah kesetaraan. Kesetaraan itu belum sepenuhnya terwujud selama masih ada anak perempuan yang lebih dulu dikorbankan akses pendidikannya dibanding saudara laki-lakinya.
"Perjuangan Kartini yang paling utama tentunya adalah memastikan bahwa perempuan mendapatkan kesetaraan dan keadilan dalam kiprahnya di masyarakat. Kartini fokusnya pada pendidikan, tetapi semangatnya sebetulnya adalah semangat kesetaraan," tambahnya.
4. Jejak digital dan media yang cukup 'kejam' bagi perempuan

Uni Lubis, pemimpin redaksi IDN Times, menyoroti dimensi baru dari tantangan perempuan: ruang digital. Dulu, ancaman datang dari sesama media. Sekarang, ancaman datang dari mana saja, algoritma, content creator, hingga kecerdasan buatan (AI).
Hal yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar persaingan informasi, tapi bagaimana ruang digital bisa menjadi neraka bagi korban kekerasan seksual. Doxing, victim-blaming, dan komentar yang menyalahkan cara berpakaian korban. Semuanya tersebar luas dan tidak bisa dihapus begitu saja karena digital footprint bersifat permanen.
"Di sosial media, era digital ini ada namanya digital footprint, yang kalau sekali itu enggak bisa lagi dihilangin. Itu benar-benar menjadi semacam neraka buat perempuan."
Ia pun menegaskan bahwa ini bukan perjuangan yang bisa dilakukan sendirian. Di era AI yang makin canggih, literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Perempuan perlu tahu cara melindungi diri di ruang yang belum sepenuhnya aman untuk mereka.
Perjuangan Kartini memang belum berhenti. Masih banyak tantangan dan permasalahan yang masih patut digaungkan. Tantangannya berubah bentuk, tapi semoga semangatnya masih tetap sama.


















