“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010-an itu terendah di Sumatra. Jadi, itu memang cukup memprihatinkan. Jadi, saya merasa ini nih yang perlu dibantu dulu agar lebih banyak anak-anak Aceh yang diterima di kampus negeri papan atas nasional,” kata Feroz.
Kisah Teuku Feroz: Menjembatani Akses Pendidikan Tinggi Anak Aceh

- Teuku Feroz mendirikan Ekadanta Learning Center untuk membantu siswa Aceh menembus PTN favorit, meningkatkan peluang masuk ITB hingga 300 persen sejak program pertama tahun 2019.
- Selain mengembangkan Ekadanta, Feroz berkarier sebagai konsultan manajemen dan teknologi di berbagai BUMN, meraih promosi menjadi Senior Manager pada 2025 sambil tetap aktif membina pendidikan Aceh.
- Dukungan beasiswa Tanoto Foundation membentuk kemampuan kepemimpinan dan komunikasi Feroz, yang kemudian ia terapkan dalam memperluas dampak sosial Ekadanta serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Aceh.
Punya mimpi besar untuk bisa kuliah di top PTN jadi hal yang cukup menyulitkan bagi banyak anak muda di Aceh. Gak sekadar soal biaya, akses menuju perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di Indonesia juga masih menjadi tantangan besar bagi banyak siswa di daerah Barat Indonesia tersebut. Di saat nama-nama kampus seperti UI, ITB, dan UGM sudah akrab di telinga pelajar di Pulau Jawa, banyak siswa Aceh yang masih menghadapi keterbatasan informasi, pendampingan, hingga strategi dalam menghadapi seleksi masuk PTN.
Kondisi inilah yang mendorong Teuku Feroz Taufan untuk bergerak. Berangkat dari pengalamannya sebagai salah satu dari sedikit siswa Aceh yang berhasil lolos ke ITB pada 2015, ia melihat adanya kesenjangan pendidikan yang perlu dijembatani. Melalui berbagai inisiatif yang dijalankannya, Feroz berupaya membuka jalan agar semakin banyak anak-anak Aceh memiliki kesempatan yang sama untuk menembus kampus-kampus terbaik di Indonesia.
1. Lahirnya Ekadanta: gotong royong alumni untuk pendidikan Aceh

Gak ingin larut dalam kesedihan dan meratapi kesulitan, Feroz punya tekad untuk melakukan gerakan agar anak muda Aceh bisa mendapatan pendidikan di perguruan tinggi. Berangkat dari pengalamannya mencicipi beasiswa sejak SMA, ia bersama rekan sesama alumni ITB menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center, sebuah lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi siswa SMA di Aceh agar mampu menembus PTN favorit.
“Saat itu kami fokus dulu ke Banda Aceh dan inilah yang realistis, yakni mendorong anak-anak SMA atau SMK tembus kampus top,” jelasnya.
Dalam menjalankan program tersebut Feroz memilih Banda Aceh sebagai fokusnya karena anak-anak dari berbagai desa di Aceh rata-rata pergi ke kota tersebut untuk menempuh pendidikan yang lebih baik. Program ini pertama kali bergerak di akhir tahun 2019 dengan perjalanan yang pastinya gak mudah dan penuh perjuangan.
Ia harus memulainya dari mengumpulkan data, menyusun konsep program, hingga mencari dukungan dana dari para alumni Aceh di Jakarta. Program angkatan pertama yang diikuti 40 siswa terpilih di Banda Aceh berjalan gratis dan berhasil meningkatkan jumlah siswa Aceh yang lolos ke ITB hingga 300 persen. Kini setelah memasuki tahun ketujuh, Ekadanta berkembang secara mandiri dengan menerapkan sistem subsidi silang serta bekerja sama dengan sekolah untuk meningkatkan kualitas guru dan memperluas dampaknya.
2. Geluti dunia profesional sebagai konsultan

Di samping kesibukannya mengembangkan Ekadanta, Feroz juga membangun karier profesional yang gemilang. Lulusan Teknik Mesin ITB ini langsung direkrut oleh perusahaan konsultan manajemen dan teknologi setelah menyelesaikan studinya pada 2019. Selama empat tahun, ia terlibat dalam berbagai proyek transformasi untuk sejumlah BUMN besar, seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, dan RSCM.
Pada 2023, Feroz melanjutkan kariernya di perusahaan konsultan lain yang berfokus pada strategi bisnis dan transformasi teknologi di sektor logistik BUMN. Berkat kinerjanya, ia meraih promosi dari posisi Manajer menjadi Senior Manager pada 2025. Meski memiliki jadwal kerja yang padat dan sering bepergian ke berbagai kota, Feroz tetap meluangkan waktu untuk mengawasi dan mengembangkan Ekadanta di luar jam kerja.
3. Buah manis tempaan beasiswa Tanoto

Feroz mengakui, bahwa perjalanannya dalam menyeimbangkan karier profesional dan aktivitas sosial gak lepas dari dukungan Tanoto Foundation. Saat masih menjadi mahasiswa tingkat pertama di ITB, ia terpilih sebagai penerima beasiswa prestasi yang saat itu bernama National Championship Scholarship (NCS).
Menurutnya, manfaat terbesar yang ia peroleh bukan hanya bantuan pendidikan, tetapi juga berbagai program pengembangan diri dan kepemimpinan yang terstruktur. Melalui beragam kegiatan sosial dan pelatihan, Feroz mengasah kemampuan komunikasi, presentasi, negosiasi, serta kepemimpinan yang kemudian menjadi bekal penting dalam mengembangkan Ekadanta dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kemampuan seperti ini tidak saya lihat pada program beasiswa lain, yang mungkin lebih berfokus pada pemberian uangnya saja. Di Tanoto Foundation ini, programnya dibuat secara sistematis,” jelas Feroz.
4. Harapan untuk pemuda Aceh

Sebagai putra daerah yang pernah merasakan sulitnya menembus perguruan tinggi terbaik nasional, Feroz berharap semakin banyak anak muda Aceh memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan berkualitas. Menurutnya, banyak siswa daerah sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi masih terkendala akses informasi, pendampingan, dan lingkungan belajar yang mendukung.
Karena itu, melalui Ekadanta, Feroz tidak hanya ingin membantu siswa mempersiapkan diri masuk kampus impian, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas guru serta keterlibatan alumni dalam dunia pendidikan. Ia berharap semakin banyak generasi muda Aceh berani bermimpi besar, menempuh pendidikan di kampus terbaik, lalu kembali berkontribusi untuk memajukan daerahnya. Baginya, keberhasilan satu siswa dapat menjadi inspirasi dan membuka jalan bagi banyak anak Aceh lainnya.
“Kalau semakin banyak anak Aceh yang bisa masuk kampus-kampus terbaik, lalu kembali membangun daerahnya, dampaknya akan sangat besar untuk masa depan Aceh,” pungkas Feroz.



















