"Kami menemukan dua konteks utama dari perilaku allogrooming: mempererat ikatan sosial dan merespons ketegangan," tulis tim peneliti dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science.
Jangan Salah Paham! Kucing yang Saling Menjilat Belum Tentu Akur

Kalau kamu memelihara lebih dari satu kucing, pasti pernah melihat satu kucing sibuk menjilati temannya. Pemandangan ini memang menghangatkan hati. Rasanya seperti melihat dua sahabat yang saling menyayangi. Tapi, bagaimana kalau ternyata arti di balik kebiasaan itu tidak sesederhana yang kita bayangkan?
Penelitian terbaru justru menemukan bahwa jilatan antar-kucing bukan selalu bahasa kasih sayang. Dalam situasi tertentu, kebiasaan ini bisa menjadi "kode" untuk menunjukkan dominasi, meredakan ketegangan, bahkan meminta kucing lain minggir tanpa harus memulai pertengkaran.
Menariknya lagi, semua itu dilakukan dengan cara yang begitu halus hingga sering luput dari perhatian manusia. Jadi, selama ini kita benar-benar paham bahasa tubuh kucing?
1. Menjilat bisa jadi bentuk kasih sayang dan rasa nyaman

Bagi kucing, kedekatan tidak selalu ditunjukkan lewat pelukan atau tidur berdampingan. Menurut penelitian dari Ghent University, Belgia, salah satu cara mereka membangun hubungan adalah lewat allogrooming atau saling menjilati. Momen ini paling sering terjadi ketika dua kucing sama-sama sedang santai, lalu tanpa aba-aba salah satunya mulai membersihkan kepala atau telinga temannya.
Yang menarik, peneliti menemukan bahwa kucing yang saling meniru posisi tubuh (misalnya sama-sama rebahan atau sama-sama duduk) lebih sering menunjukkan interaksi yang hangat. Dari situ terlihat bahwa jilatan bukan sekadar kebiasaan membersihkan bulu, tetapi juga bentuk rasa percaya yang sudah terbangun.
2. Perilaku yang sama bisa menjadi cara halus mengusir

Di sisi lain, penelitian ini juga menunjukkan bahwa menjilat bisa menjadi strategi yang jauh lebih kompleks. Beberapa kucing menggunakan perilaku tersebut untuk "mengusir" kucing lain dari tempat yang mereka inginkan, misalnya spot favorit yang hangat terkena sinar matahari.
Alih-alih langsung mencakar atau menggigit, mereka memilih mendekat, menjilat sebentar, lalu memberikan tekanan melalui bahasa tubuh. Kucing yang menerima jilatan biasanya menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, seperti telinga yang menunduk, menggelengkan kepala, menjilat bibir, menguap, hingga akhirnya membalas dengan mencakar atau menggigit.
3. Kucing ternyata jauh lebih pintar dari yang kita kira

Temuan ini menjadi pengingat bahwa perilaku hewan tidak selalu bisa dimaknai dari sudut pandang manusia. Apa yang terlihat manis belum tentu bermakna sayang dan apa yang tampak sepele bisa jadi merupakan cara mereka berkomunikasi satu sama lain.
"Mereka sebenarnya bisa langsung memukul kucing lain untuk merebut selimut yang ditempati. Namun, mereka memilih menjilatnya terlebih dahulu. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa kucing sangat cerdas dan fleksibel dalam menyelesaikan konflik," kata dokter hewan Morgane Van Belle, dikutip dari The Times.
Jadi, lain kali saat melihat dua kucing saling menjilat coba perhatikan lebih lama. Bisa jadi mereka sedang menunjukkan kasih sayang, tapi bisa juga sedang melakukan "diplomasi" versi dunia kucing yang selama ini tidak pernah kita sadari.





















