Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Orang Mulai Muak dengan Konten Cara Jadi Sukses?
ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ron Lach)
  • Konten sukses terasa melelahkan karena sering tidak mengungkap modal, dukungan keluarga, tabungan, maupun kondisi finansial yang memengaruhi keberanian seseorang mengambil risiko.

  • Media sosial kerap menyamakan sukses dengan aset, jabatan, penghasilan tinggi, dan pensiun muda, padahal kebutuhan hidup tiap orang berbeda serta tidak selalu cocok dijadikan konten.

  • Nasihat produktivitas yang berulang dan cerita berfokus pada hasil akhir, membuat penonton beralih ke kisah keseharian, seperti mengatur gaji, menabung, atau mencari kerja setelah PHK.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dulu, melihat orang membagikan cerita soal kesuksesan bisa terasa menyenangkan. Ada rasa penasaran ketika seseorang menceritakan bagaimana ia mendapatkan pekerjaan impian, membangun usaha sendiri, atau akhirnya bisa membeli sesuatu dari hasil kerja kerasnya.

Sekarang, konten seperti itu justru bisa bikin malas lanjut menonton. Bukan karena kita tidak mau hidup lebih baik, tetapi karena cerita yang muncul sering terasa begitu mirip satu sama lain. Lalu, apa yang sebenarnya membuat konten “cara jadi sukses” mulai terasa melelahkan?

1. Kita tidak pernah tahu cerita lengkap di baliknya

ilustrasi sukses (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)

Di media sosial, kita biasanya hanya melihat sesuatu yang memang mau dibagikan orang lain. Seseorang bisa bercerita berhasil membuka bisnis di usia muda, tetapi belum tentu ikut menceritakan berapa modal yang dimiliki sejak awal. Begitu juga dengan orang yang memutuskan keluar dari pekerjaan untuk mengejar usaha sendiri, sementara kebutuhan hidupnya mungkin masih bisa ditanggung pasangan atau keluarganya.

Hal-hal seperti ini sering luput dari cerita sukses. Padahal, punya tabungan, tinggal bersama orangtua, mendapat bantuan keluarga, atau tidak punya cicilan besar bisa membuat seseorang jauh lebih berani mengambil keputusan. Kondisi seperti itu tentu berbeda dengan orang yang setiap bulan harus menghitung sisa gaji untuk membayar kos, transportasi, makan, dan kebutuhan lain.

2. Sukses di media sosial sering terlihat sama

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Swello)

Coba lihat lagi konten sukses yang sering lewat di beranda. Rumah bagus, mobil baru, bisnis sendiri, jabatan tinggi, penghasilan puluhan juta, kerja sambil bepergian, sampai pensiun di usia muda seolah menjadi paket lengkap kehidupan yang berhasil. Masalahnya, hidup tidak sesederhana itu.

Ada orang yang tidak mengejar rumah besar atau ingin berhenti bekerja di usia 40 tahun. Bisa pulang kerja tepat waktu, tinggal dekat orangtua, punya tabungan, dan tidak pusing setiap kali tagihan datang mungkin sudah cukup bagi sebagian orang. Sayangnya, kehidupan seperti itu memang lebih sulit dijadikan konten yang mengundang banyak penonton.

3. Kita terus diberi nasihat yang kurang lebih sama

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Anna Shvets)

Awalnya, tips soal produktivitas, bisnis, atau mencari penghasilan tambahan mungkin masih menarik. Namun, setelah beberapa kali menonton konten serupa, kita mulai bisa menebak apa yang akan dibicarakan berikutnya. Bangun lebih pagi, jangan malas, atur waktu, belajar keterampilan baru, mulai investasi, lalu cari pemasukan tambahan.

Masalahnya bukan pada nasihat tersebut. Beberapa memang masuk akal dan bisa dicoba. Hanya saja, ketika kalimat yang hampir sama terus muncul dari banyak kreator, lama-lama rasanya seperti mendengar satu nasihat yang diulang tanpa henti. Kita membuka media sosial untuk mencari hiburan, tetapi yang muncul lagi-lagi orang yang menyuruh kita memperbaiki hidup.

4. Cerita sukses sering dimulai dari hasil akhir

ilustrasi sukses (pexels.com/Yan Krukau)

Bagian paling menarik dari cerita sukses biasanya memang hasilnya. Bisnis yang awalnya kecil sudah punya banyak pelanggan, gaji yang dulu pas-pasan sekarang mencapai puluhan juta, atau seseorang yang dulu bekerja kantoran kini punya usaha sendiri. Sayangnya, masa ketika semuanya masih serba sulit justru jarang ikut diceritakan.

Bisa saja ia pernah rugi, salah memilih usaha, kehilangan pekerjaan, mendapat bantuan keluarga, atau punya kesempatan yang kebetulan datang pada waktu yang tepat. Hal-hal seperti ini membuat cerita sukses seseorang sebenarnya tidak sesederhana yang terlihat di media sosial. Kalau yang diceritakan hanya hasil akhirnya, perjalanan menuju sukses pun terlihat lebih mudah dari yang sebenarnya.

5. Cerita orang biasa mulai terasa lebih relatable

ilustrasi konten kreator (pexels.com/RDNE Stock project)

Sekarang, cerita tentang kehidupan sehari-hari juga banyak dicari karena terasa lebih relatable. Misalnya, orang yang membagikan cara mengatur gaji sampai akhir bulan, menabung untuk membeli laptop, atau mencari pekerjaan setelah terkena PHK. Cerita seperti ini tidak menawarkan jalan cepat untuk menjadi kaya, tetapi masalah yang dibahas memang sering dialami banyak orang.

Isinya juga tidak harus berupa pencapaian besar. Tidak ada bisnis yang tiba-tiba menghasilkan puluhan juta atau rumah yang berhasil dibeli dalam waktu singkat. Justru cerita tentang gaji yang pas-pasan, kebutuhan yang terus bertambah, dan usaha mencari pekerjaan baru terasa lebih masuk akal bagi penonton. Mereka tidak sedang diberi tahu bahwa hidup akan berubah kalau mengikuti langkah tertentu.

Kita tetap ingin sukses, tetapi bukan berarti harus terus melihat konten yang menyuruh kita mengejar hal yang sama. Kadang, setelah melihat terlalu banyak cerita sukses, kita justru lebih tertarik pada cerita orang yang hidupnya tidak jauh berbeda dari kita. Cerita seperti itu terasa lebih dekat karena masalah dan kebutuhannya memang kita temui sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article