IDN Times Xplore (Tim DaSi_SMK Negeri 1 Banyumas)
Berada di era digital saat ini, fenomena remaja yang mengikuti tren seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. Mulai dari FOMO Buying, soft saving, spot hunting, doom scrooling, flexing and overspending, serta investasi dini di berbagai platform digital, terus bergerak begitu cepat. Bahkan, disadari atau tidak, fenomena-fenomena tersebut bisa mempengaruhi keputusan finansial remaja.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan kelompok usia 15-17 tahun mencapai 56,04% sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 89,13%. Artinya, remaja usia tersebut sangat mudah mengakses layanan keuangan, seperti dompet digital, rekening tabungan pelajar, atau layanan pembayaran resmi lainnya. Namun, tingkat literasi remaja dalam mengelola atau memanfaatkan akses tersebut masih rendah.
Maka, tak heran jika uang saku mereka, baik di dalam dompet maupun di e-wallet seolah merupakan arena pertandingan antara rasionalitas ekonomi dan dorongan psikologis. Lalu, bagaimana literasi finansial mereka dalam menyikapi fenomena itu?
Berdasarkan data survei di lapangan terhadap 107 responden remaja di SMK Negeri 1 Banyumas, fakta literasi keuangan mereka menunjukkan adanya dinamika yang kompleks antara kesadaran pengetahuan yang matang dan dinamika kecemasan sosial di era algoritma media sosial ini. Secara teoretis, para remaja memahami bahwa kemampuan mengatur uang saku adalah hal penting. Bahkan, sebagian besar dari mereka mengklaim telah terbiasa membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan sekunder sebelum melakukan transaksi. Hal ini menafsirkan bahwa secara konseptual, fondasi penalaran ekonomi remaja telah terbentuk dengan baik.
Namun, gejala inkonsistensi mulai terlihat saat teori tersebut diimplementasikan dalam kehidupan remaja secara nyata. Ada kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktik. Dalam temuan survei, sebanyak 61,68% respondens secara terang-terangan mengakui bahwa mereka (remaja) pernah melalukan pembelian impulsif yang dilatarbelakangi oleh pengaruh teman sebaya, media sosial, dan adanya perasaan takut tertinggal dari orang lain atau dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Melalui algoritma For You Page (FYP) dan strategi pemasaran yang konsisten, fenomena FOMO ini mampu menggeser keputusan remaja dari prioritas menjadi keinginan. Hal ini disebabkan, kecemasan disisihkan dari kelompok masih mendominasi. Pengakuan, validasi, dan rasa memiliki dalam kelompok sebaya seolah menjadi tiket sosial untuk masuk di kelompok/kehidupan remaja tersebut.
Untuk menyeimbangkan pemahaman dan praktik remaja dalam mengelola keuangannya serta menyikapi fenomena FOMO, kini remaja Saatnya Atur Dompet Agar Rasional (SADAR). Langkah pertama, buatlah anggaran uang saku. Remaja dapat mencatat jumlah uang yang diterima, memperkirakan pengeluaran rutin, dan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung sesuai kemampuan. Bangun kedisiplinan kontrol diri. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan kepada diri sendiri. “Apakah barang ini atau itu benar-benar dibutuhkan? Apakah harganya sesuai anggaran? Apakah aku tetap ingin membelinya jika barang tersebut tidak sedang tren?”
Langkah berikutnya adalah membiasakan diri menunda pembelian. Perketat skala prioritas. Ketika tertarik pada suatu produk, berikan waktu untuk mempertimbangkan manfaatnya, membandingkan harga, dan menilai skala prioritasnya. Remaja juga dapat mengurangi paparan konten media sosial yang mendorong pembelian atau pembelajaran secara impulsif. Hindari kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain. Sadari bahwa setiap orang memiliki keuangan dan prioritas berbeda. Tidak semua tren harus diikuti untuk sebuah pengakuan dari lingkungan. Tanamkan dalam diri sendiri bahwa menjadi identitas yang berbeda dari kebanyakaan orang adalah sebuah keunikan atau keistimewaan dan bukanlah suatu hal yang aneh.
Pertentangan antara FOMO dan Prioritas bukanlah sebuah jalan buntu, melainkan menjadi sebuah ruang pembelajaran atau navigasi bagi remaja dalam berliterasi finansial. Sebagai tempat edukasi formal dalam upaya memperkuat literasi finansial di kalangan remaja, SMK Negeri 1 Banyumas menghadirkan salah satu program edukasi finansial untuk membantu murid-muridnya agar memahami sekaligus mempraktikkan pentingnya mengelola uang dengan bijak. Dengan membentuk satu komunitas literasi keuangan yang bekerja sama dengan OJK, yaitu Komunitas SCENA, murid-murid di SMK Negeri 1 Banyumas bisa mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan secara bijak, baik melalui kegiatan sosialisasi, panduan, dan poster-poster informatif hingga membangun kebiasaan menabung di bank mini sekolah (Bank Arta Smart).
Dengan adanya berbagai kegiatan tersebut, murid mulai membangun kebiasaan mengatur uang saku atau menyusun rencana anggaran bulanan, menyisihkan uang untuk ditabung, hingga belajar mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab. Remaja yang melek finansial mampu membedakan kebutuhan, seperti makanan, transportasi, dan perlengkapan sekolah, dengan keinginan, seperti membeli barang hanya karena sedang viral. Dengan pemahaman tersebut, penggunaan uang dapat disesuaikan dengan kepentingan dan kondisi keuangan, bukan semata-mata mengikuti pengaruh lingkungan.
Simpulan
FOMO merupakan tantangan yang dapat memengaruhi cara remaja mengelola uang di tengah derasnya arus informasi dan tren digital. Data SNLIK 2026 memperkuat pentingnya meningkatkan literasi finansial pada kelompok usia 15–17 tahun. Melalui kebiasaan membuat anggaran, menabung, menunda pembelian, dan membedakan kebutuhan dari keinginan, remaja dapat belajar mengendalikan keputusan keuangannya.
Edukasi finansial modern harus mampu mengintegrasikan kesadaran kritis atas dampak psikologis dari media sosial. Dengan membebaskan diri dari bayang-bayang FOMO dan berani menentukan kebutuhan secara rasional, remaja era digital akan mampu mengubah uang saku dari sekadar alat pemuas tren sesaat menjadi batu pijakan menuju kemandirian masa depan.