Makna Emosional di Balik Kurban Pertama bagi Pekerja Muda

- Berkurban bagi pekerja muda mencerminkan kemandirian finansial dan kedewasaan, karena mampu menyisihkan penghasilan sendiri untuk ibadah meski masih banyak keinginan pribadi.
- Pengelolaan uang yang bijak, termasuk memanfaatkan pemberian orangtua untuk tujuan ibadah, menunjukkan kemampuan mengatur keuangan serta tanggung jawab sosial yang mulai tumbuh.
- Menahan keinginan demi membeli hewan kurban menjadi simbol kontrol diri dan kepedulian terhadap sesama, sekaligus bukti pemikiran jangka panjang tentang makna spiritual dan kematangan hidup.
Apakah berkurban saat Idul Adha harus menunggu usia tua? Tentu saja tidak meski kebanyakan pekurban tampak sudah lanjut usia. Malah makin muda kamu bisa ikut berkurban pada 10 Dzulhijah nanti makin baik.
Membeli hewan kurban pertama untuk diri sendiri tentu akan memberikan rasa yang luar biasa. Ini bukan hal mudah apalagi buat anak muda sepertimu yang masih punya banyak keinginan. Selama dirimu sudah memiliki uang sendiri dalam jumlah yang cukup sebaiknya memang tak menunda sampai tahun depan buat ikut berkurban.
Ini bukan momen penyembelihan hewan biasa. Ada nilai ibadah yang sangat besar baik di sisi Allah SWT maupun dari kemanfaatannya untuk masyarakat. Ada alasan kenapa membeli kambing atau sapi untuk pertama kali bakal berkurban adalah simbol kedewasaan pekerja muda sepertimu. Salut!
1. Untuk bisa berkurban perlu bekerja agar punya pendapatan

Saat kamu siap berkurban kemungkinan besar telah bekerja. Kalau dirimu gak bekerja, dari mana bisa mendapatkan uang jutaan rupiah hanya untuk membeli hewan ternak bakal Idul Adha? Pun lebih dari asal bekerja, kamu juga sudah masuk kategori mandiri finansial.
Mungkin dirimu belum kaya raya. Akan tetapi, kamu telah berhasil mencukup berbagai kebutuhan dasar plus beberapa keinginan. Bahkan dirimu masih bisa menabung untuk berkurban segala.
Itu bukan hal yang mudah. Kamu telah memenangkan dua hal sekaligus. Yaitu, semangat bekerja serta tekad ikut berkurban. Walau tak sedikit teman sepantar yang belum tergerak buat berkuban saat Idul Adha.
2. Bisa pakai uang dari orangtua, tapi pengelolaan tetap kudu baik

Soal sumber uang untuk berkurban sebenarnya memang bisa dari mana saja. Tidak harus dari hasil keringat sendiri seperti gaji. Kamu yang sudah bekerja pun boleh jadi masih kerap diberi uang oleh orangtua.
Apalagi kondisi ekonomi mereka baik. Pemberian uang saku dimaksudkan supaya dirimu lebih tenang dalam bekerja. Kamu tidak perlu khawatir gajimu tak cukup. Uang dari orangtua juga dapat mempertebal tabungan.
Bagus sekali apabila kamu dengan bijaksana memakai uang pemberian orangtua tak cuma buat kebutuhan pribadi. Namun, dirimu juga menggunakannya untuk membeli hewan kurban. Maknanya, kamu berhasil mengatur penghasilan dengan baik. Uang saku dari orangtua utuh sehingga bisa menjadi anggaran kurban.
3. Demi berkurban, ada keinginan yang mesti ditahan

Sebelum pekerja muda sepertimu dapat membeli hewan kurban pasti kamu telah melalui proses panjang menahan keinginan. Kalau tidak begitu, berapa pun uang yang diperoleh dari pekerjaan plus dikasih orangtua bakal habis juga. Dirimu telah berani memprioritaskan hewan kurban dari hal-hal lain.
Tahun-tahun sebelumnya misalnya, kamu masih asyik belanja pakaian dan alas kaki terus. Namun, ketika keinginan kuat buat ikut berkurban telah muncul, berbagai produk cuma mengendap di keranjang marketplace. Ini tentu gak mudah sebab dirimu sebenarnya sudah memiliki uangnya.
Kamu juga berhak memakainya buat apa saja. Butuh kontrol diri yang sangat kuat untuk menjaga fokusmu tetap ke ikhtiar membeli hewan kurban pertama. Hanya pribadi dewasa yang mampu melakukan ini secara konsisten sampai target benar-benar tercapai.
4. Tanda tumbuhnya kepedulian serta tanggung jawab pada sesama

Usiamu boleh muda. Kamu juga belum terlalu lama bekerja. Mungkin baru 1 atau 2 tahun ini. Namun, ketika dirimu mampu berkurban tahun ini bukan sekadar soal ada uang atau tidak.
Kemampuan untuk ikut berkurban juga dipengaruhi oleh telah tumbuhnya rasa peduli serta tanggung jawab pada sesama. Kamu gak lagi hidup hanya untuk diri sendiri. Dirimu mau menyisihkan uang jutaan rupiah guna menyembelih hewan kurban.
Dagingnya dibagikan ke banyak orang secara merata. Kamu merasakan kebahagiaan yang mendalam saat melihat semua orang bisa makan daging kambing atau sapi setidaknya sekali dalam setahun. Jika daging kurban dikalengkan, itu pun dapat menjadi bantuan pangan untuk masyarakat di pelosok atau ketika terjadi bencana.
5. Ikut berkurban mengindikasikan pemikiran jangka panjang

Kamu bisa memikirkan masa depan seperti apa yang ingin diwujudkan dalam 5 atau 10 tahun mendatang. Itu juga bentuk pemikiran jangka panjang. Namun, ada pemikiran yang jauh lebih panjang dan telah berhasil dimiliki olehmu dengan tahun ini ikut berkurban.
Ketika kamu membeli hewan kurban pertama kali niscaya juga memikirkan manfaatnya untuk timbangan amalmu di hari akhir nanti. Itu memang terasa jauh dari kehidupanmu sekarang yang masih diliputi kesehatan serta energi muda. Maka banyak anak muda yang belum benar-benar mampu memikirkannya.
Dirimu lebih dewasa dari mereka. Cara pandangmu bukan hanya tentang hari ini dan di sini. Namun, menjangkau sampai alam setelah kematian serta benar-benar menghayatinya. Selagi sebagian orang yang lebih berumur daripada kamu kadang sebatas tahu, tapi masih mengabaikan praktiknya.
Mampu dan mau membeli hewan kurban pertama ialah sebuah langkah besar dalam hidupmu. Selain tanda ketaatanmu pada perintah agama, secara psikis kamu pun makin dewasa. Semoga di tahun-tahun berikutnya dirimu bisa terus ikut berkurban.



















