Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Masa Mistagogi Katolik, Tahap Penting dalam Perjalanan Iman

Ilustrasi umat Katolik (pexels.com/Photo by eduardo199o9)
Ilustrasi umat Katolik (pexels.com/Photo by eduardo199o9)

Masa mistagogi merupakan salah satu tahap penting dalam perjalanan iman Katolik, khususnya setelah seseorang menerima sakramen inisiasi. Pada masa ini, umat diajak untuk tidak berhenti pada perayaan sakramen semata, tetapi mulai masuk lebih dalam ke makna iman yang telah diterima.

Mistagogi menjadi waktu untuk merenungkan pengalaman rohani dan melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi gereja Katolik, masa mistagogi membantu umat untuk semakin memahami ekaristi, doa, dan kehidupan menggereja.

1. Apa itu mistagogi?

Ilustrasi berdoa (pexels.com/Photo by MART PRODUCTION)
Ilustrasi berdoa (pexels.com/Photo by MART PRODUCTION)

Mengutip laman Gereja Kristus Raja Paroki Ungaran, masa mistagogi adalah masa memasuki kedalaman misteri iman Katolik. Dalam kehidupan iman Katolik, ada satu istilah yang mungkin belum banyak dikenal, tetapi memiliki arti yang sangat dalam, yaitu mistagogi. Istilah ini berasal dari kata Yunani "mystagogia" yang dapat dimaknai sebagai pendampingan untuk memasuki misteri iman.

Senada seperti dikutip dari laman Paroki Pinang Gereja Santa Bernadet Keuskupan Agung Jakarta, masa mistagogi adalah masa sesudah menerima sakramen-sakramen inisiasi, Mistagogi juga disebut sebagai masa pemantapan iman. Dengan memasuki masa mistagogi, para baptisan baru menerima pengajaran, bimbingan, dan pendampingan agar semakin dalam masuk ke dalam misteri Kristus, dengan lebih memahami makna sakramen-sakramen dan menghayatinya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai orang Katolik.

2. Makna mistagogi bagi Katolik

Ilustrasi Katolik (pexels.com/Photo by Sacrum Foto & Filme)
Ilustrasi Katolik (pexels.com/Photo by Sacrum Foto & Filme)

Meski terdengar sederhana, mistagogi memegang peran dan makna penting dalam membantu umat memahami dan menghidupi iman secara lebih mendalam. Mistagogi tidak berhenti pada penjelasan ajaran atau aturan gereja semata. Proses ini mengajak umat untuk mengalami sendiri misteri iman yang dirayakan dalam liturgi.

Melalui mistagogi, umat diajak menyadari bahwa sakramen bukan hanya sebuah ritus, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus yang hadir dan berkarya dalam hidup sehari-hari. Sebagai contoh, setelah seseorang menerima Sakramen Ekaristi, pendamping akan membantu menjelaskan makna di balik roti dan anggur yang menjadi Tubuh dan Darah Kristus, serta hubungannya dengan pengorbanan Yesus.

Di sinilah mistagogi berperan, yaitu menolong umat memahami simbol, ritus, dan doa dalam liturgi. Lalu mengaitkannya dengan iman dan pengalaman hidup, sehingga perayaan iman tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati secara nyata.

3. Tujuan utama dari mistagogi

Ilustrasi umat Katolik (pexels.com/Photo by eduardo199o9)
Ilustrasi umat Katolik (pexels.com/Photo by eduardo199o9)

Tujuan utama dari mistagogi adalah menolong umat beriman menyadari kehadiran Tuhan melalui tanda-tanda sakramen. Dalam proses ini, umat diajak untuk tidak berhenti pada hal-hal yang tampak secara lahiriah, seperti air dalam baptisan atau roti dan anggur dalam ekaristi, tetapi masuk lebih dalam ke makna ilahi yang terkandung di dalamnya.

Mistagogi menjadi sarana pembinaan rohani yang mendorong umat beralih dari sekadar mengikuti perayaan iman menjadi pribadi yang terlibat secara sadar dan menghargai anugerah keselamatan dari Allah. Dalam gereja Katolik, masa mistagogi setelah seseorang menerima sakramen Inisiasi, yakni baptis, krisma, dan ekaristi.

Pada tahap ini, para mereka didampingi untuk merefleksikan pengalaman sakramental yang telah mereka terima. Lalu memahami pengaruhnya bagi kehidupan rohani, serta menghidupi iman dalam keseharian.

Meski demikian, mistagogi bukan hanya untuk umat yang baru dibaptis. Setiap kali umat merayakan sakramen atau mengambil bagian dalam liturgi, proses pendalaman iman ini terus berlangsung sepanjang hidup.

Masa mistagogi mengingatkan bahwa perjalanan iman tidak berhenti setelah menerima sakramen, melainkan justru dimulai dengan langkah yang lebih sadar dan mendalam. Melalui pendalaman makna iman, umat diajak untuk menghidupi apa yang telah dirayakan, bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Contoh CV Fresh Graduate SMK, Memudahkan Cari Kerja

17 Feb 2026, 16:00 WIBLife