Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tanda Kamu Memakai Kesibukan sebagai Pelarian dari Diri Sendiri

Tanda Kamu Memakai Kesibukan sebagai Pelarian dari Diri Sendiri
ilustrasi sibuk (pexels.com/Vitaly Gariev)
Intinya Sih
  • Banyak orang memakai kesibukan untuk menghindari keheningan dan pikiran pribadi, menciptakan aktivitas tanpa tujuan agar tidak perlu menghadapi diri sendiri.
  • Kesibukan yang dijadikan pelarian menimbulkan rasa hampa karena tidak sejalan dengan nilai hidup, membuat seseorang terus mencari aktivitas tanpa pernah merasa cukup.
  • Kebiasaan menghindari ketenangan dan mengukur nilai diri dari produktivitas membuat seseorang kehilangan kemampuan menikmati momen serta menjauh dari jati dirinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada orang yang sibuk karena memang banyak hal yang harus dikerjakan. Ada juga yang sibuk karena tidak mau berhenti sejenak dan menghadapi dirinya sendiri. Dua hal ini terlihat serupa dari luar, tapi terasa sangat berbeda dari dalam.

Kalau kamu sering merasa gelisah begitu tidak ada aktivitas, mungkin ada yang perlu dicermati lebih jauh. Coba baca sampai habis, karena bisa jadi kamu selama ini lebih sering memakai kesibukan sebagai pelarian dari diri sendiri.

1. Merasa tidak nyaman saat tidak melakukan apa-apa

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (pexels.com/Vitaly Gariev)

Banyak orang menyebut diri mereka tidak bisa diam, seolah itu adalah hal yang membanggakan. Padahal, ketidakmampuan untuk diam bisa jadi bukan tanda produktivitas, melainkan tanda ketidaknyamanan yang mendalam terhadap keheningan. Ketika tidak ada notifikasi, tidak ada deadline, dan tidak ada orang yang butuh sesuatu dari kamu, tiba-tiba muncul rasa tidak karuan yang sulit dijelaskan.

Rasa tidak nyaman itu tidak datang dari luar. Ia datang dari dalam diri sendiri, dari pikiran-pikiran yang selama ini berhasil kamu tunda kemunculannya dengan cara terus bergerak. Begitu kamu berhenti, pikiran-pikiran itu muncul ke permukaan, dan itu terasa mengancam. Tanpa disadari, kamu mulai menciptakan kesibukan baru hanya agar pikiran itu tidak muncul. Scrolling tanpa tujuan, mencari-cari pekerjaan tambahan, atau mengisi waktu dengan aktivitas yang sebenarnya tidak terlalu penting menjadi pilihan yang terasa lebih aman daripada duduk diam dengan diri sendiri.

2. Jadwalmu selalu penuh, tapi kamu tidak merasa puas

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (pexels.com/RDNE Stock project)

Dari luar, hidupmu terlihat sibuk dan produktif. Kamu punya banyak hal yang sedang dikerjakan, banyak tanggung jawab yang sedang dijalankan, dan hampir tidak ada waktu kosong di kalendermu. Tapi anehnya, di balik semua itu, ada rasa hampa yang tidak bisa dijelaskan. Kamu lelah, tapi bukan karena kelelahan yang memuaskan seperti setelah menyelesaikan sesuatu yang benar-benar berarti.

Ini karena kesibukan yang dipakai sebagai pelarian tidak pernah benar-benar mengisi kekosongan yang ada. Kesibukan itu menutupi, bukan mengisi. Setiap kali satu aktivitas selesai, kamu langsung mencari aktivitas berikutnya. Kepuasan sejati biasanya datang ketika kamu melakukan sesuatu yang sejalan dengan nilai dan tujuan hidupmu. Tapi kalau kesibukan itu lebih banyak berfungsi sebagai pengalih, kamu tidak akan pernah sampai pada rasa cukup itu, tidak peduli seberapa banyak hal yang sudah kamu selesaikan.

3. Menghindari me time dengan cara yang tidak kamu sadari

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (pexels.com/RDNE Stock project)

Me time tidak selalu berarti duduk di kamar tanpa melakukan apa-apa. Bisa jadi kamu memang sendirian secara fisik, tapi selalu ada sesuatu yang menemanimu, entah itu podcast, musik, video, atau obrolan di media sosial. Tidak ada momen di mana kamu benar-benar hanya bersama dirimu sendiri.

Kamu yang terbiasa lari dari diri sendiri akan selalu mencari kebisingan sebagai penyeimbang. Keheningan terasa mengancam karena di situlah bisikan-bisikan mulai terdengar lebih keras, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang belum terjawab, perasaan yang belum diproses, atau keputusan yang terus ditunda. Mengisi setiap celah waktu dengan konten atau aktivitas adalah cara yang sangat halus untuk menghindari semua itu. Semakin terbiasa kamu dengan kebisingan itu, semakin asing rasanya ketika harus menghadapi ketenangan.

4. Sulit hadir sepenuhnya dalam percakapan atau momen

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Kamu sedang makan bersama orang-orang yang kamu sayangi, tapi pikiranmu sudah melompat ke tugas yang belum selesai besok. Kamu sedang berbicara dengan seseorang, tapi ada bagian dari dirimu yang sudah memikirkan hal berikutnya yang harus dikerjakan. Ini bukan semata-mata soal multitasking atau kebiasaan yang susah dihilangkan. Ini bisa jadi tanda bahwa kamu tidak benar-benar nyaman berada di momen itu.

Ketika seseorang memakai kesibukan sebagai pelarian, pikirannya cenderung selalu bergerak ke depan karena berhenti di momen sekarang terasa terlalu berat. Ada kemungkinan momen sekarang memunculkan perasaan yang belum siap kamu hadapi, seperti kesendirian, kekosongan, atau pertanyaan tentang apakah hidupmu sedang berjalan ke arah yang benar. Pikiran yang terus melompat-lompat adalah cara tubuh dan otak untuk menjaga dirimu tetap sibuk, bahkan ketika situasinya tidak membutuhkan itu. Lama-lama, kamu kehilangan kemampuan untuk benar-benar menikmati momen yang ada.

5. Mengukur nilai dirimu dari seberapa sibuk kamu

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Ada narasi yang tanpa sadar banyak orang telan secara mentah-mentah. Mereka meyakini bahwa semakin sibuk seseorang, semakin berharga hidupnya. Kalau kamu tidak bisa menjawab pertanyaan "apa kabar?" tanpa menyebut betapa sibuknya kamu, maka hal tersebut patut dicermati. Kesibukan menjadi semacam identitas yang kamu pegang erat, karena tanpa itu, kamu tidak tahu harus mendefinisikan dirimu sebagai apa.

Ketika nilai dirimu sepenuhnya bergantung pada produktivitas dan output, berhenti melakukan itu semua akan terasa seperti kehilangan identitas. Kamu takut kalau tidak sibuk, orang lain akan menganggapmu tidak berguna, atau lebih buruk lagi, kamu sendiri akan mulai meragukan apakah kamu memang cukup berharga. Rasa takut itu yang kemudian mendorongmu untuk terus mengisi waktu, terus menambah tanggung jawab, dan terus membuktikan sesuatu, meski kamu sendiri tidak selalu tahu membuktikan apa dan untuk siapa. Nilai diri yang sehat tidak bergantung pada seberapa penuh jadwalmu, sebab kamu tetap berharga bahkan ketika kamu tidak melakukan apa-apa.

Memakai kesibukan sebagai pelarian dari diri sendiri tidak akan pernah membawamu ke mana-mana. Karena tujuan awal kamu bukan untuk maju, melainkan untuk menghindari. Semakin lama kamu lari, semakin besar jarak antara kamu dan dirimu sendiri. Lantas, satu-satunya cara untuk menutup jarak itu adalah dengan berani berhenti, meski hanya sebentar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More