Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Seseorang Memilih Barang Branded Second atau Reject?

4 min read
Kenapa Seseorang Memilih Barang Branded Second atau Reject?
ilustrasi memilih pakaian (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Barang branded second atau reject tetap diminati karena material premium, jahitan kuat, model tahan waktu, serta cacat yang umumnya tidak mengganggu fungsi.
  • Nama besar merek membangun kepercayaan konsumen; pembeli dengan dana terbatas mencari barang bekas atau reject demi memakai brand yang diinginkan.
  • Harga yang dekat dengan produk baru nonmerek, dorongan gengsi, dan reputasi penjual yang jujur menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau kamu pernah jalan-jalan ke lapak barang branded bekas atau reject, baik offline maupun online, mungkin akan terkejut. Ternyata peminatnya banyak. Mereka tampak antusias membelinya dan memberikan ulasan positif sebagai tanda kepuasan berbelanja.

Padahal, barang bekas atau reject tentu kondisinya agak berbeda dengan barang baru. Produk yang belum pernah dipakai orang dan lolos quality control terlihat sangat sempurna. Sementara itu, produk bekas dan reject sekalipun mereknya terkenal, mungkin buatmu tampak kurang menarik.

Kenapa sebagian masyarakat tetap memilih barang branded second atau reject? Jika mereka tidak bisa membeli versi terbarunya, mereka cukup puas dengan versi bekas atau reject. Ternyata rasa gengsi dan FOMO bukan satu-satunya alasan.

  1. 1. Kualitas produk yang tinggi meski bukan baru atau sedikit cacat

    melihat belanjaan
    ilustrasi melihat belanjaan (pexels.com/kaboompics.com)

    Popularitas sebuah merek tidak begitu saja tercipta. Ada perjalanan panjang sebuah perusahaan dalam upayanya menciptakan produk terbaik. Produk yang tidak terkenal bukannya kurang bagus. Akan tetapi, kualitas barang branded biasanya tak diragukan lagi.

    Material yang digunakan premium sehingga lebih nyaman saat dipakai dibandingkan produk bermerek tak terkenal. Potongannya pas, jahitannya sangat kuat, dan modelnya tidak lekang oleh waktu. Bahkan barang versi second atau reject-nya saja masih berkualitas baik.

    Orang merasa gak bakal rugi membelinya. Memang masa pakainya sudah berkurang bila dibandingkan dengan barang bermerek yang masih baru. Namun, produk dipercaya akan tetap lebih awet ketimbang produk yang mereknya belum teruji.

    Kecacatan pada barang branded yang membuatnya tak lolos quality control juga gak terlalu parah. Sisi minusnya tidak akan terlihat oleh orang awam. Fungsinya sama sekali tak terpengaruh.

  2. 2. Kepercayaan pada nama besar

    memilih sepatu
    ilustrasi memilih sepatu (pexels.com/RDNE Stock project)

    Di dunia ini ada begitu banyak merek dagang untuk beragam produk. Namun, sangat sedikit merek yang dapat berdiri di daftar atas merek ternama di kancah nasional maupun internasional. Artinya, tidak mudah bagi suatu brand untuk mendapatkan perhatian besar dari masyarakat.

    Wajar apabila setelah sebuah merek mendunia, konsumen tidak lagi meragukan kualitas produk tersebut. Bahkan apa pun produk baru yang diluncurkannya sering langsung menjadi rebutan para pesohor. Lantas, bagaimana nasib konsumen yang kantongnya lebih tipis, tapi juga ingin menggunakan produk yang sama?

    Mereka mencari barang bekas atau yang tidak lolos quality control. Bahkan model atau serinya bukan lagi hal utama dalam pertimbangan. Mereka lebih fokus pada mereknya.

  3. 3. Gengsi terdongkrak begitu barang dipakai

    memeriksa belanjaan
    ilustrasi memeriksa belanjaan (pexels.com/Ivan S)

    Gengsi masih menjadi salah satu faktor orang bela-belain tetap memburu barang branded. Kalau mereka tidak bisa membeli versi barunya, second atau reject pun tidak apa-apa. Terpenting, ketika produk dipakai, orang-orang di sekitar masih mengenali mereknya.

    Itu yang paling diinginkan mereka. Beberapa orang meletakkan sebagian identitas diri mereka pada barang-barang yang digunakan. Dengan memakai barang branded, mereka merasa tampil lebih menarik, bahkan naik kelas.

    Apalagi jika mereka berada dalam lingkungan pergaulan yang sangat memperhatikan setiap merek produk. Produk lain sekalipun baru tidak bisa mendongkrak gengsi mereka sampai setinggi itu. Adanya barang branded second atau reject di pasaran memudahkan akses mereka ke produk yang harga versi baru dan sempurnanya tak terjangkau.

  4. 4. Harga gak beda jauh dari barang serupa bermerek tak terkenal

    membuka belanjaan
    ilustrasi membuka belanjaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Ada dua cara pandang berbeda yang menentukan apakah seseorang memilih membeli barang branded tapi bekas/cacat atau produk baru dengan merek tidak terkenal. Misalnya, ada pakaian baru bermerek tak ternama seharga 200 ribu rupiah dan pakaian serupa branded tapi bekas atau reject dibanderol 250 ribu rupiah. Selisih keduanya cuma 50 ribu rupiah.

    Bagi orang yang perhatian utamanya bukan merek tentu mending beli baru sekalian. Tak masalah mereknya kurang populer, yang penting belum pernah dipakai orang lain atau ada kecacatannya. Akan tetapi, cara pandang konsumen yang memang tertarik pada barang-barang mewah berbeda lagi.

    Tipisnya perbedaan itu justru makin mendorongnya untuk membeli produk branded second atau reject sekalipun sedikit lebih mahal. Lain dengan apabila barang branded bekas atau cacat dihargai berkali-kali lipat dari barang baru tanpa merek terkenal. Baru mereka merasa agak sayang.

  5. 5. Kepercayaan pada penjualnya

    memilih pakaian
    ilustrasi memilih pakaian (pexels.com/Arina Krasnikova)

    Barang branded memang menarik bagi mereka yang menggemarinya. Baik kondisinya baru, bekas, atau kurang sempurna. Namun, semua tetap kembali pada kepercayaan konsumen terhadap penjual.

    Apalagi barang branded bekas atau reject biasanya gak dijual langsung oleh produsennya. Ada pihak lain yang menjualnya. Agar orang tetap mau membeli produk tersebut, rekam jejak penjual sangat penting.

    Pemain lama dalam jual beli barang mewah second atau reject akan lebih cepat menarik hati konsumen baru sekalipun. Sementara para pelanggan juga tetap setia. Reputasi penjual yang tidak pernah berbohong tentang merek serta kondisi barang membuatnya selalu menjadi incaran.

    Memilih barang branded second atau reject tidak salah, selama tidak memaksakan kemampuan. Produk bermerek terkenal memang memiliki sejumlah keunggulan. Adanya pilihan barang branded bekas atau reject memberi kesempatan kepada masyarakat yang lebih luas untuk memilikinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More