Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Memutus Rantai Kemiskinan dalam Keluarga, Mindset Bisa Ubah Nasib
ilustrasi potret kemiskinan (pexels.com/Pixs Storage)
  • Kemiskinan antargenerasi berkaitan dengan pendidikan rendah, pengangguran, perilaku berisiko, dan masalah keluarga; penyebab internal perlu diidentifikasi, di samping perlunya pemerintah meningkatkan taraf hidup masyarakat.
  • Perubahan mindset ditekankan: setiap orang berhak memperbaiki nasib melalui pendidikan, keterampilan relevan, kerja keras dan cerdas, serta pemanfaatan teknologi untuk kegiatan produktif.
  • Upaya memutus siklus meliputi memilih lingkungan pendukung, menggunakan bantuan secara tepat, membatasi tanggungan tidak mandiri, merencanakan pernikahan dan anak, serta menyiapkan masa tua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Terjebak dalam kemiskinan dari generasi ke generasi adalah kehidupan yang memilukan. Seumur hidup orang tidak pernah merasakan kehidupan yang layak. Kehidupannya selalu dalam keterbatasan dan sering kali masalahnya menjadi sangat kompleks.

Kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, memakai narkoba, prostitusi, kesukaan berjudi, dan aneka kriminalitas saling berkaitan. Bukan berarti orang kaya bebas dari semua masalah di atas. Pengguna narkoba dan pelaku kejahatan serta korupsi juga tak sedikit yang secara ekonomi menengah ke atas.

Akan tetapi, memutus rantai kemiskinan dalam keluarga lebih mungkin membuat kehidupan seseorang membaik dalam segala aspek. Pemerintah harus serius meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Namun, masyarakat sendiri mesti punya kesadaran dan semangat tinggi guna keluar dari jerat kemiskinan yang seakan-akan diwariskan sehingga tak terelakkan. Berikut sepuluh langkah pentingnya.

1. Mengidentifikasi penghambat perekonomian keluarga

ilustrasi potret kemiskinan (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)

Kemiskinan memang terasa seperti jalan buntu. Namun, kalau ditarik kembali ke belakang, pasti ada sebab-sebab yang membuat kemiskinan berakar sangat kuat dalam keluarga. Seperti pendidikan yang rendah atau adanya orang dewasa yang tidak menjalankan perannya dengan baik.

Misalnya, kepala keluarga yang bukannya menafkahi istri dan anak-anak malah kabur begitu saja. Biang keladi kemiskinan dalam keluarga ini wajib diakui. Jangan terlena menyalahkan pihak-pihak luar dulu padahal persoalan utamanya ada di dalam keluarga.

2. Punya mindset siapa pun berhak dan bisa memperbaiki nasib

ilustrasi rumah sangat sederhana (pexels.com/Long Bà Mùi)

Terkadang mendapati orangtua, kakek dan nenek, bahkan paman serta bibi hidup dalam kemiskinan memudarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Seolah-olah memang begitulah takdir mereka buat selamanya. Bahkan sampai ke anak cucu kelak. Cengkeraman kepasrahan begini mesti dilawan dengan keyakinan bahwa siapa pun berhak serta dapat melakukan berbagai usaha untuk menjadi kaya.

3. Meningkatkan taraf pendidikan serta keterampilan

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Najmul Hasan Mahedi)

Faktor rendahnya tingkat pendidikan serta ketiadaan skill yang relevan dengan kebutuhan masa kini sangat memengaruhi kesejahteraan. Sekarang, dengan adanya bantuan biaya pendidikan baik dari pemerintah, swasta, maupun orang dermawan, mestinya dapat menjaga pendidikan agar tidak sampai terputus. Jangan lupa untuk terus menambah keterampilan yang akan berguna sekali di dunia kerja.

4. Siap bekerja keras dan cerdas

ilustrasi mencuci piring (pexels.com/Suraphat Nuea-on)

Buang jauh rasa malas kalau hidup saja masih susah. Walau tampaknya bekerja jungkir-balik tidak kunjung bikin kaya, tetaplah melakukannya. Pantang untuk berpangku tangan. Kerjakan apa yang dapat dikerjakan saat ini sembari terus berinovasi. Itu bakal membuat apa pun yang dikerjakan menjadi lebih bernilai dan melebihi hasil kerja orang lain.

5. Mengubah kebiasaan konsumtif dan sia-sia menjadi produktif

ilustrasi bermain smartphone (pexels.com/John Joshua Mejia Jose)

Sekarang hampir semua orang punya smartphone. Tak terkecuali orang dari keluarga kurang mampu. Namun, perangkat tersebut digunakan untuk apa saja?

Bila gadget cuma dipakai buat mencari hiburan, bahkan menonton pornografi atau main judol, tentu nasib bukannya membaik, malah memburuk. Padahal, perangkat yang sama dapat digunakan buat cari duit. Sesimpel jadi kreator konten, afiliator, ngojol, dan sebagainya.

6. Ganti circle serta merantau bila perlu

ilustrasi lingkungan kumuh (pexels.com/Tom Fisk)

Berada di lingkungan yang tidak mendukung kemajuan juga menghambat seseorang untuk keluar dari jebakan kemiskinan. Keberanian mengganti lingkungan pergaulan penting supaya energi yang didapatkan lebih positif serta memperoleh banyak informasi berharga guna memajukan hidup. Kalau perlu pergi merantau apabila di daerah asal minim kesempatan untuk berkembang.

7. Menolak menjadi tulang punggung untuk begitu banyak orang

ilustrasi keluarga prasejahtera (pexels.com/Maksim Romashkin)

Kemiskinan berlarut-larut yang mengimpit keluarga besar kerap kali disebabkan malfungsi. Banyak orang dewasa tidak berperan selayaknya orang dewasa. Seperti tak bekerja dan hanya mengandalkan orangtua, anak, atau saudara. Siapa pun yang berada dalam situasi ini mesti bersikap tegas. Tolak tugas menjadi tulang punggung buat terlalu banyak orang yang seharusnya dapat hidup mandiri.

8. Bijak memanfaatkan setiap bantuan dan kesempatan yang diberikan

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Austin Garcia)

Hidup dalam kemiskinan tentu jauh dari kata nyaman. Namun, sering kali masih ada bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak meski belum merata. Jika ada bantuan, pastikan digunakan secara tepat. Misalnya, sudah ada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lalu datang lagi bantuan guna modal usaha. Bantuan ini jangan sampai tidak dipakai buat bikin usaha, tapi justru buat hal-hal konsumtif. Begitu pula, bantuan biaya pendidikan harus digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak. Bukan bayar utang dan sebagainya.

9. Mengatur usia pernikahan serta jumlah anak

ilustrasi banyak anak (pexels.com/Long Bà Mùi)

Kemiskinan juga erat kaitannya dengan menikah di usia yang sangat muda serta memiliki banyak anak. Bukannya tidak suka diberi rezeki berupa keturunan. Akan tetapi, lebih utama untuk memastikan kesejahteraannya di kemudian hari. Hindari menikah sebelum siap secara mental dan finansial, plus harus ikut program keluarga berencana.

10. Mempersiapkan masa tua dengan baik

ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Janntul Hasan)

Seseorang yang berhasil lepas dari kemiskinan keluarga di masa dewasa muda belum tentu selamanya sejahtera. Ada masa tua yang masih menjadi PR. Bila masa ini tidak dipersiapkan dengan baik sejak sekarang, boleh jadi siklus kemiskinan kembali terulang. Tabungan tidak ada padahal seseorang sudah gak bekerja. Lalu ia menjadi beban penuh bagi anak yang belum mapan.

Memang memutus rantai kemiskinan dalam keluarga turun-temurun gak segampang berkata-kata, namun jangan pernah kehilangan asa. Orang yang tinggal di kota, pinggiran, maupun desa semuanya berhak dan seharusnya bisa hidup sejahtera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article