ilustrasi tidur siang (unsplash.com/Katya Ross)
Ada beberapa alasan mengapa mengambil cuti atau libur sehari belum tentu membuat burnout hilang sepenuhnya:
1. Beban kerja tetap sama
Ketika kembali bekerja, seseorang mungkin langsung berhadapan dengan pekerjaan yang sama seperti sebelumnya. Jika sumber stres tidak berubah, rasa lelah pun berpotensi muncul kembali.
2. Batasan belum berubah
Hari libur tidak otomatis membuat seseorang belajar mengatakan "tidak", membatasi pekerjaan di luar jam kerja, atau berhenti merasa harus selalu tersedia. Tanpa perubahan tersebut, kebiasaan lama dapat kembali berulang.
3. Pikiran masih sulit benar-benar lepas dari pekerjaan
Secara fisik seseorang mungkin sedang berada di rumah, tetapi pikirannya masih memikirkan deadline, pekerjaan yang belum selesai, atau masalah di kantor. Akibatnya, waktu libur tidak sepenuhnya menjadi waktu pemulihan.
4. Ada masalah mendasar yang belum diselesaikan
Burnout juga dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya yang dimiliki seseorang. Misalnya, tanggung jawab terlalu besar, dukungan dari lingkungan kerja minim, atau pekerjaan sudah tidak lagi sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan pribadi.
5. Tekanan untuk terus produktif masih ada
Budaya kerja yang menganggap selalu sibuk sebagai tanda keberhasilan juga dapat membuat seseorang sulit benar-benar beristirahat. Bahkan saat libur, muncul rasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang dianggap produktif.