Menurut Dr. Scott Lyons, psikolog berlisensi, “Ada penelitian menarik tentang bagaimana bahkan sekadar menuliskan sesuatu dapat membantu mengurangi stres karena kita mengubah sebagian energi dan kecemasan itu menjadi tindakan. Ada beberapa hal yang memang tidak bisa kamu ketik,” dikutip dari Marie Claire.
Gen Z Mulai Rajin Bawa Buku Catatan ke Kantor, Ada Apa?

- Gen Z mulai membawa notebook ke kantor sebagai jeda dari rutinitas digital, untuk mencatat agenda, to-do list, ide dadakan, dan coretan saat berpikir.
- Menulis tangan mendorong pekerja memilih informasi penting serta lebih aktif memproses arahan saat meeting atau brainstorming; Dr. Scott Lyons menyebut aktivitas ini dapat membantu mengurangi stres.
- Notebook juga menjadi bagian dari personal style melalui desain sampul, warna, stiker, dan isi yang memadukan catatan kerja dengan doodle atau brain dump.
Di tengah kebiasaan membuka laptop sejak pagi dan menyimpan hampir semua pekerjaan di aplikasi, sekarang ini ada satu benda sederhana yang mulai kembali muncul di meja kerja, notebook. Buku catatan yang biasanya sering digunakan saat zaman sekolah kini justru dipakai untuk mencatat agenda meeting, membuat to-do list, menampung ide dadakan, hingga sekadar mencoret-coret saat sedang berpikir.
Menariknya, notebook sekarang gak selalu dipilih hanya karena fungsinya saja. Bentuk, warna, sampul, sampai cara mengisinya pun ikut menjadi alasan buku tersebut dipilih untuk mengerjakan pekerjaan. Di tengah rutinitas yang hampir seluruhnya berlangsung di depan layar, menulis di atas kertas memberikan pengalaman yang lebih personal dan terasa berbeda. Beberapa anak muda pun kini mulai tertarik menggunakan notebook kembali untuk pekerjaannya.
1. Notebook menawarkan jeda dari rutinitas yang serba digital

Ilustrasi menulis (pixabay.com/StartupStockPhotos) Hampir semua aktivitas kerja sekarang bisa dilakukan lewat layar. Meeting berlangsung secara virtual, kalender tersimpan di aplikasi, sementara catatan bisa langsung masuk ke notes atau platform kerja bersama. Hal ini memang terlihat praktis, tetapi penggunaan perangkat digital secara terus-menerus bisa membuat aktivitas mencatat terasa sangat seragam.
Menggunakan Notebook untuk pekerjaan menawarkan pengalaman yang berbeda karena prosesnya yang lebih sederhana. Tinggal buka halaman, ambil pulpen, lalu tuliskan apa yang ingin diingat. Notebook bukan cuma alternatif dari aplikasi pencatat, ada pengalaman fisik ketika seseorang menulis, mencoret, memberi tanda, atau kembali membuka halaman lama. Aktivitas sederhana tersebut bisa terasa seperti jeda kecil dari rutinitas yang terus menuntut perhatian di depan layar.
2. Menulis tangan bisa membantu proses mengingat dan memahami informasi

Ilustrasi menulis (pixabay.com/kaboompics) Alasan lain mengapa notebook tetap menarik adalah proses menulis tangan yang membuat seseorang gak sekadar memindahkan informasi dari kepala ke halaman. Ketika mengetik, seseorang bisa mencatat dengan sangat cepat sehingga ada kemungkinan hanya menyalin apa yang didengar. Sementara itu, menulis tangan memaksa kita memilih informasi mana yang benar-benar penting karena kecepatannya lebih terbatas.
Prof. Kuniyoshi L. Sakai, ahli saraf dari University of Tokyo menyebutkan, “Kertas sebenarnya lebih maju dan berguna dibandingkan dokumen elektronik karena kertas memiliki lebih banyak informasi unik untuk membantu mengingat dengan lebih kuat,” dilansir dari Frontiers.
Jadi, membawa notebook ke kantor bukan cuma perkara terlihat lebih organized. Untuk aktivitas tertentu seperti meeting, brainstorming, atau mencatat arahan kerja, menulis tangan bisa membuat seseorang lebih aktif memproses apa yang sedang didengar.
3. Notebook jadi bagian dari personal style anak muda

ilustrasi buku catatan (pexels.com/Burst) Selain punya fungsi yang praktis, notebook juga mulai mendapatkan tempat sebagai bagian dari personal style. Ada yang memilih notebook polos dengan desain minimalis, ada pula yang lebih suka sampul warna-warni, penuh stiker, atau dihias dengan berbagai aksesori. Isi bukunya pun gak harus selalu serius karena bisa bercampur antara catatan kerja, doodle, brain dump, sampai daftar hal-hal yang ingin dilakukan.
Karena itu, notebook juga bisa berfungsi lebih personal daripada hanya sekadar menjadi tempat mencatat. Pilihan desain dan cara menggunakannya dapat menjadi bagian kecil dari identitas seseorang di tempat kerja, sama seperti pilihan tote bag, tumbler, atau casing laptop. Work aesthetic bukan cuma soal bagaimana meja terlihat rapi, tetapi juga benda-benda yang membuat ruang kerja terasa lebih mencerminkan pemiliknya.
Membawa notebook ke kantor sebenarnya gak berarti gen Z mulai meninggalkan teknologi. Di tengah pekerjaan yang hampir semuanya dilakukan lewat layar, buku catatan justru bisa menjadi cara sederhana untuk memberi jeda dan bekerja dengan ritme yang lebih personal. Mau dipakai untuk mencatat meeting, menuangkan ide, atau sekadar menghias meja kerja, semuanya kembali pada kebutuhan masing-masing. Kalau laptop membantu pekerjaan jadi lebih praktis, notebook mungkin membantu prosesnya terasa lebih manusiawi.





















