Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gen Z dan AI: Jangan Cuma Bisa Pakai Chatbot, Pelajari 5 Skill Ini

Gen Z dan AI: Jangan Cuma Bisa Pakai Chatbot, Pelajari 5 Skill Ini
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
Share Article

Buat banyak Gen Z, AI sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Mau mencari ide, merangkum materi, membuat CV, menyusun email, sampai membantu pekerjaan kantor, chatbot seperti ChatGPT, Claude, dan sejenisnya bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik. Kemampuan menggunakan chatbot tentu menjadi nilai tambah, tetapi sekadar tahu cara menulis prompt belum cukup untuk menghadapi dunia kerja yang semakin banyak menggunakan AI.

Justru ketika AI semakin mudah digunakan, kemampuan manusia yang berada di balik penggunaan teknologi menjadi semakin penting. Berikut ini beberapa skill yang perlu kamu pelajari di era AI.

  1. 1. Critical thinking: Jangan langsung percaya jawaban AI

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)

    Bisa mendapatkan jawaban dari chatbot dengan cepat bukan berarti jawaban tersebut selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan, tetapi tetap bisa keliru, kurang konteks, atau menggunakan sumber yang tidak relevan.

    Oleh karena itu, Gen Z perlu punya kemampuan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan membandingkan informasi sebelum menggunakannya. UNESCO melalui AI Competency Framework for Students juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis ketika manusia berinteraksi dengan AI.

    "Kembangkan pemikiran kritis mengenai hubungan dinamis antara agensi manusia dan agensi mesin: Hadapkan siswa pada kasus-kasus dunia nyata di mana AI dapat mendukung agensi manusia serta proses pengambilan keputusan manusia, dan bantu siswa memahami cara berinteraksi secara tepat dengan AI untuk meningkatkan kapasitas manusia," jelas UNESCO.

    Jadi, jangan berhenti pada kemampuan membuat prompt. Biasakan bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah sumbernya kredibel, apakah ada sudut pandang lain, dan apakah jawabannya masuk akal? Semakin sering kamu melakukan verifikasi, semakin besar kemungkinan AI menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikirmu.

  2. 2. Analytical thinking: Bisa memecahkan masalah, bukan sekadar minta jawaban

    Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
    Ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Chatbot bisa memberikan lima ide dalam beberapa detik. Namun, ketika menghadapi masalah yang sebenarnya terjadi di dunia kerja, persoalannya sering tidak sesederhana membuat prompt. Kamu perlu memahami masalah, menemukan penyebabnya, memilah informasi yang relevan, kemudian menentukan solusi yang paling masuk akal.

    Di sinilah analytical thinking menjadi penting. Menurut Future of Jobs Report 2025, 69 persen perusahaan yang disurvei menganggap analytical thinking sebagai keterampilan inti tenaga kerja. Bahkan, keterampilan ini berada di posisi pertama dalam daftar core skills yang dibutuhkan perusahaan.

    "Sebagaimana dalam dua edisi laporan sebelumnya, berpikir analitis tetap menjadi keterampilan inti utama bagi pemberi kerja, dengan tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya sebagai hal yang esensial," demikian laporannya dalam World Economic Forum.

    Misalnya, ketika penjualan sebuah produk turun, jangan langsung meminta AI membuat strategi pemasaran. Kamu perlu mencari tahu terlebih dahulu apakah masalahnya berasal dari harga, produk, kompetitor, distribusi, promosi, atau perubahan perilaku konsumen. AI bisa membantu menganalisis data, tetapi kemampuan menentukan pertanyaan yang tepat tetap membutuhkan manusia.

  3. 3. Creative thinking: Jangan biarkan AI mengambil alih ide-idemu

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

    AI sangat berguna untuk melakukan brainstorming. Kamu bisa meminta puluhan ide judul, konsep konten, strategi promosi, atau kemungkinan solusi hanya dalam beberapa detik. Namun, kalau setiap ide selalu datang dari chatbot, lama-kelamaan kamu bisa terbiasa menjadi pengguna ide daripada pencipta ide.

    Dalam World Economic Forum, creative thinking termasuk kemampuan manusia yang semakin dibutuhkan. World Economic Forum menempatkan creative thinking di posisi keempat core skills pada 2025, dengan 57 persen perusahaan menganggapnya penting. Laporan yang sama juga menyebut kemampuan berpikir kreatif diproyeksikan terus meningkat kepentingannya hingga 2030.

    Jadi, gunakan AI sebagai teman brainstorming, bukan sebagai satu-satunya sumber kreativitas. Coba mulai dengan membuat ide sendiri, kemudian gunakan AI untuk mengembangkan, mengkritik, atau mencari kemungkinan yang belum terpikirkan.

  4. 4. Communication: Bisa menjelaskan ide tanpa bersembunyi di balik AI

    Ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Photo by Arina Krasnikova)
    Ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Photo by Arina Krasnikova)

    Kemampuan komunikasi mungkin terdengar tidak terlalu berkaitan dengan AI, tetapi justru semakin penting ketika teknologi bisa menghasilkan teks secara otomatis. Membuat email, laporan, presentasi, bahkan caption kini bisa dilakukan chatbot. Namun, perusahaan tetap membutuhkan orang yang mampu menjelaskan ide, menyampaikan pendapat, bernegosiasi, dan berkomunikasi dengan manusia lain.

    Data Future of Jobs Report 2025 menunjukkan bahwa leadership and social influence menjadi core skill nomor tiga, sementara empathy and active listening juga masuk 10 besar keterampilan inti. Ini menunjukkan bahwa kemampuan bekerja dengan manusia tetap memiliki nilai tinggi meskipun teknologi semakin canggih.

    Karena itu, jangan hanya belajar membuat tulisan yang terdengar profesional dengan AI. Latih juga kemampuan presentasi, berbicara dalam rapat, memberikan feedback, mendengarkan orang lain, dan menjelaskan ide dengan bahasa sederhana. Ketika semua orang memiliki akses terhadap chatbot yang sama, kemampuanmu berkomunikasi secara jelas dan manusiawi bisa menjadi pembeda.

  5. 5. Adaptability dan lifelong learning: Jangan berhenti belajar setelah bisa satu hal

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

    Salah satu kesalahan terbesar dalam belajar AI adalah menganggap kemampuan menggunakan satu chatbot sudah cukup untuk bertahun-tahun. Padahal, teknologi berubah sangat cepat. Tool yang populer hari ini bisa mendapatkan fitur baru, digantikan platform lain, atau menjadi kurang relevan ketika kebutuhan pekerjaan berubah.

    World Economic Forum memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan utama yang dibutuhkan di dunia kerja akan berubah hingga 2030. Karena itu, resilience, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, serta curiosity and lifelong learning menjadi semakin penting.

    Jadi, jangan hanya belajar “cara memakai ChatGPT”. Belajarlah bagaimana AI bekerja secara umum, bagaimana mengevaluasi hasilnya, bagaimana menggabungkannya dengan bidang keahlianmu, dan bagaimana terus mempelajari tool baru.

    Gen Z yang paling siap menghadapi perubahan bukan necessarily orang yang menguasai semua aplikasi AI, tetapi orang yang cepat belajar ketika teknologi dan kebutuhan pekerjaan berubah. AI memang bisa membantu kamu bekerja lebih cepat. Namun, kemampuan yang membuatmu tetap bernilai bukan sekadar kemampuan membuka chatbot dan mengetik prompt.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More