Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Mengubah Pendapat Masih Sering Dipandang Negatif?

Mengapa Mengubah Pendapat Masih Sering Dipandang Negatif?
ilustrasi berubah pendapat (pexels.com/Vitaly Gariev)
Intinya Sih
  • Stigma negatif terhadap perubahan pendapat muncul karena masyarakat lebih menghargai konsistensi dibanding proses berpikir ulang, sehingga orang yang berubah dianggap tidak punya prinsip.
  • Mengakui perubahan pandangan sering terasa seperti kekalahan dalam debat, membuat banyak orang memilih diam agar tidak terlihat lemah atau salah di depan publik.
  • Jejak digital dan budaya kritik berlebihan memperkuat ketakutan untuk terbuka soal perubahan pendapat, sebab setiap pernyataan lama bisa dijadikan bahan serangan atau ejekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah gak sih kamu berubah pikiran soal sesuatu lalu tiba-tiba merasa perlu membela diri? Padahal tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Mengubah pendapat justru tanda seseorang mau berpikir lebih jauh, bukan tanda lemah atau tidak punya pendirian.

Tapi sayangnya, stigma itu susah sekali lepas dari siapa pun yang berani mengakuinya. Berikut beberapa penyebab seseorang yang mengubah pendapat masih sering dipandang negatif sampai sekarang.

1. Orang teguh pendirian dianggap omongannya lebih bisa dipegang

ilustrasi ngobrol
ilustrasi ngobrol (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sejak kecil, orang dengan pendirian teguh sering dipuji. Penilaian itu lama-lama membentuk cara kita melihat orang lain: siapa yang konsisten dianggap bijak, siapa yang berubah dianggap tidak bisa dipegang. Masalahnya, standar itu tidak membedakan antara berubah karena ada alasan baru dan berubah karena ikut-ikutan, sebab keduanya terlihat sama. Akibatnya, orang yang sedang berkembang dan mau merevisi pendapatnya kena cap yang sama dengan orang yang memang tidak punya prinsip.

Standar ini pun tidak berlaku merata. Orang dengan jabatan lebih mudah lepas dari tuduhan ini karena perubahan pendapatnya bisa dikemas jadi "bahan evaluasi" atau "penyesuaian kebijakan". Sementara bila orang biasa yang melakukan hal serupa, langsung dicap tidak konsisten. Artinya, bukan perubahannya yang jadi masalah, tapi siapa yang melakukannya.

2. Mengakui berubah pikiran terasa seperti mengakui kekalahan

ilustrasi ngobrol
ilustrasi ngobrol (pexels.com/Artem Podrez)

Banyak diskusi tanpa sadar dilakukan layaknya sebuah kompetisi, bukan seperti percakapan. Tujuannya bukan mencari tahu mana yang benar, tapi membuktikan diri sendiri tidak salah. Ketika seseorang akhirnya bilang "oke, kamu benar", pihak lawan bicara merasa seperti mengalami kemenangan. Situasi itu membuat mengubah pendapat terasa seperti kekalahan.

Tidak ada nyali yang cukup untuk mengakui perubahan pendapat secara terbuka, karena yang didapat hampir tidak pernah setimpal dengan harga yang harus dibayar. Orang bilang menghargai kejujuran, tapi ketika kejujuran itu datang dalam bentuk pengakuan kesalahan, reaksinya sering tidak sebaik itu. Lama-lama orang belajar bahwa lebih baik untuk diam dan pura-pura tidak berubah pikiran.

3. Pendapat lama sudah terlanjur melekat

ilustrasi ngobrol
ilustrasi ngobrol (pexels.com/SHVETS production)

Akan ada momen dalam hidup di mana seseorang bertahun-tahun vokal soal sesuatu, lalu tiba-tiba berubah pendapat. Misalnya, tokoh publik berbalik posisi soal isu besar, sampai teman yang selama ini dikenal anti satu hal lalu tiba-tiba tidak lagi. Perubahan mereka terasa mengusik bukan karena salah, tapi karena tidak sesuai ekspektasi kita.

Bagi mereka yang mengubah pendapat juga tak mudah. Mengubah pendapat artinya mengakui bahwa diri sendiri yang dulu membela habis-habisan mungkin kurang informasi atau belum cukup matang. Semakin besar energi yang pernah dikeluarkan untuk mempertahankan sebuah pendapat, semakin susah melepasnya, meskipun alasan untuk berubah sudah sangat jelas.

4. Menggali masa lalu dan dijadikan bahan serangan

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)

Sebelum media sosial eksis, pernyataan seseorang tidak bisa terekam lewat jejak digital. Seseorang yang dulu bilang A lalu berubah pikiran, bisa berlalu begitu saja tanpa banyak orang ingat. Namun, sekarang tidak lagi. Setiap tulisan, komentar, dan status bisa dicari kapan saja oleh siapa saja. Satu perubahan pendapat bisa langsung dipotong, disebarkan, dan dikomentari ramai-ramai tanpa ada konteks prosesnya sama sekali.

Tidak semua orang berniat jahat ketika menggali jejak digital seseorang. Kadang hanya jadi bahan obrolan atau bercanda. Lama-lama orang belajar bahwa lebih aman tidak kelihatan berubah daripada menjadi bahan gosip orang lain.

5. Lingkungan yang gemar mengkritik kesalahan justru membuat orang makin tertutup

ilustrasi kritik
ilustrasi kritik (pexels.com/Yan Krukau)

Ada ironi jarang disadari, yakni semakin keras seseorang dikritik ketika salah, semakin kecil kemungkinan dia mau mengakui perubahan ke depannya. Bukan soal karakter mereka yang buruk, tapi dia sudah belajar dari pengalaman bahwa mengakui kesalahan hampir selalu berakhir tidak menyenangkan. Mereka bisa saja berubah pikiran, namun mereka berhenti menunjukkan perubahan itu.

Kondisi ini justru kerap terjadi di lingkungan yang mengaku paling terbuka terhadap perbedaan pendapat. Di keluarga, di kantor, atau di kolom komentar media sosial, seseorang yang berani secara terang-terangan berubah pikiran sering mendapat reaksi tidak cukup baik. Selama judgement itu tidak berubah, mengubah pendapat akan terus terasa butuh keberanian ekstra.

Mengubah pendapat masih sering dipandang negatif berakar dari cara masyarakat berdiskusi, cara seseorang mengingat, dan cara menilai orang lain. Dari kelima hal di atas, mana yang paling sering kamu rasakan sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More