Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gen Z dan Milenial Andalkan Diversifikasi Pendapatan di Tengah Tekanan

Gen Z dan Milenial Andalkan Diversifikasi Pendapatan di Tengah Tekanan
IMGR 2027 Cover
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Generasi Z dan milenial kini mengandalkan diversifikasi pendapatan sebagai strategi sadar untuk menjaga kemandirian finansial di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.
  • Sebanyak 75,63 persen responden survei memilih pekerjaan sampingan karena kenaikan biaya hidup, stagnasi upah, dan tanggungan keluarga yang memperkuat fenomena generasi sandwich.
  • Laporan IMGR 2027 menunjukkan gen Z lebih adaptif memonetisasi hobi lewat platform digital, sementara milenial fokus pada stabilitas pendapatan melalui berbagai sumber penghasilan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Diversifikasi pendapatan di kalangan gen Z dan milenial dinilai bukan hanya mencerminkan rendahnya literasi keuangan, melainkan strategi sadar untuk menjaga kemandirian finansial di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran perilaku kerja, di mana loyalitas terhadap satu pemberi kerja tidak lagi dianggap cukup untuk menjamin stabilitas pendapatan.

Temuan tersebut terungkap dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027. Laporan tersebut menunjukkan berbagai bentuk adaptasi finansial yang dilakukan milenial dan gen Z bukan lagi sekadar pilihan pribadi, melainkan respons rasional terhadap kondisi ekonomi yang menuntut fleksibilitas, ketahanan, dan kendali yang lebih besar atas sumber daya yang mereka miliki.

1. Anak muda tak lagi bergantung pada kantor, pilih kendalikan penghasilan sendiri

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)

Generasi muda kini cenderung memilih untuk memiliki kontrol lebih besar atas sumber penghasilan dan peluang kerja mereka.

Laporan IMGR 2025 mencatat, dorongan utama pergeseran ini adalah kebutuhan finansial serta fleksibilitas dalam memperoleh pendapatan. Perubahan ini juga dinilai lebih dipicu faktor struktural ketimbang sekadar preferensi gaya hidup.

2. Sebanyak 75,63 persen responden memilih cari pekerjaan sampingan

Ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Sejalan dengan itu, survei GoodStats (2026) menemukan, 75,63 persen responden mengambil pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.

Data tersebut diperkuat oleh IMGR 2025 yang menunjukkan 66 persen milenial dan gen Z menghadapi tekanan kenaikan biaya hidup, sementara 45 persen milenial menilai pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan, dan 41 persen gen Z kesulitan menabung.

Kondisi ini tercermin pada kasus pekerja seperti Hendi (30), asal Wonosobo, yang menjalani tiga pekerjaan sekaligus, terdiri dari satu pekerjaan utama dan dua pekerjaan lepas berbasis proyek. Dia mengatakan, satu sumber pendapatan tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks.

Dalam laporan yang sama, fenomena generasi sandwich di Indonesia disebut semakin memperkuat kebutuhan diversifikasi pendapatan, terutama akibat stagnasi upah dan keterbatasan perlindungan sosial. Sebanyak 35 persen biaya kesehatan bahkan masih ditanggung langsung oleh individu.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik menunjukkan kesenjangan literasi keuangan berdasarkan status pekerjaan. Kelompok wirausaha mencatat literasi tertinggi sebesar 73,60 perssn, sementara kelompok lain berada di kisaran 49–60 persen.

3. Tak cukup satu gaji, generasi muda kini andalkan banyak sumber cuan

ilustrasi Anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi Anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Ekonom Bhima Yudhistira dari Celios, menilai transisi ekonomi saat ini justru memperbesar risiko generasi sandwich, yang membuat masyarakat semakin terdorong memiliki lebih dari satu sumber pendapatan.

Meski demikian, pekerjaan sampingan tidak selalu lahir dari minat. Data GoodStats menunjukkan hanya 6,72 persen responden yang memulai usaha dari hobi, sementara sebagian besar terdorong oleh kebutuhan ekonomi. Namun, IMGR 2025 mencatat gen Z lebih adaptif dalam memonetisasi hobi melalui platform digital.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa 34 persen gen Z aktif mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, sementara 32 persen terlibat dalam penjualan online. Di sisi lain, milenial cenderung mengandalkan pekerjaan sampingan untuk menjaga stabilitas pendapatan.

Di tengah tren tersebut, inklusi keuangan kelompok wirausaha tercatat paling tinggi mencapai 88,66 persen berdasarkan SNLIK 2025, menunjukkan keterkaitan antara multi-sumber pendapatan dan akses ke layanan keuangan formal.

Pada akhirnya, diversifikasi pendapatan dipandang bukan sekadar strategi bertahan hidup, tetapi juga bentuk adaptasi terhadap perubahan lanskap ekonomi. Generasi muda kini cenderung menggabungkan stabilitas dan fleksibilitas sebagai satu strategi finansial yang saling melengkapi.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More