ilustrasi kritik (pexels.com/Yan Krukau)
Ada ironi jarang disadari, yakni semakin keras seseorang dikritik ketika salah, semakin kecil kemungkinan dia mau mengakui perubahan ke depannya. Bukan soal karakter mereka yang buruk, tapi dia sudah belajar dari pengalaman bahwa mengakui kesalahan hampir selalu berakhir tidak menyenangkan. Mereka bisa saja berubah pikiran, namun mereka berhenti menunjukkan perubahan itu.
Kondisi ini justru kerap terjadi di lingkungan yang mengaku paling terbuka terhadap perbedaan pendapat. Di keluarga, di kantor, atau di kolom komentar media sosial, seseorang yang berani secara terang-terangan berubah pikiran sering mendapat reaksi tidak cukup baik. Selama judgement itu tidak berubah, mengubah pendapat akan terus terasa butuh keberanian ekstra.
Mengubah pendapat masih sering dipandang negatif berakar dari cara masyarakat berdiskusi, cara seseorang mengingat, dan cara menilai orang lain. Dari kelima hal di atas, mana yang paling sering kamu rasakan sendiri?