Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Langkah Harmoni Mewujudkan Lingkungan Ramah Disabilitas

ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya sih...
  • Kemudahan akses di lingkungan sekolah dan kampus
  • Berwisata dengan riang gembira
  • Fasilitas jalan dan transportasi umum yang aman
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kita semua sebagai manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Disabilitas, mereka istimewa dengan segala anugerah yang diterima. Berpijak di tanah air Indonesia, sejatinya kita semua mempunyai hak yang sama tanpa memandang strata.

Lingkungan aman dan nyaman milik seluruh warga negara Indonesia, termasuk mereka yang mempunyai kondisi istimewa. Undang-Undang (UU) Disabilitas No. 8 tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 70 Tahun 2019 sebagai payung hukum untuk memastikan semua hak disabilitas terpenuhi. Di dalam PP No. 70 Tahun 2019 juga memuat tujuh Rencana Induk Penyandang Disabilitas (RIPD) yang strategis, salah satunya lingkungan yang ramah disabilitas.

Penyandang disabilitas juga mempunyai hak untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera. Berkarya dan berusaha menjalani hidup dengan tenang. Nah, pembangunan lingkungan yang ramah disabilitas membantu mereka beraktivitas. Langkah konkretnya bisa simak penjelasan di bawah.

1. Kemudahan akses di lingkungan sekolah dan kampus

ilustrasi tuna netra belajar (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi tuna netra belajar (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sumber daya manusia dapat ditingkatkan dengan memperbaiki taraf pendidikannya. Kaum disabilitas juga memerlukan pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tentunya, mereka ingin lingkungan sekolah yang mengerti 'kebutuhannya'. Fasilitas sekolah yang mudah diakses (toilet, tangga, desain kelas), kurikulum yang fleksibel, para pendidik yang kompeten, serta lingkungan pertemanan yang mendukung.

Di sekolah inklusi, fasilitas pendidikan anak berkebutuhan khusus belum memadai di sejumlah daerah. Di perguruan tinggi negeri belum sepenuhnya mengusung pendidikan inklusi. Studi dalam Jurnal Pekerjaan Sosial menyebutkan tantangan implementasi pendidikan inklusi antara lain:

  • Perbedaan sikap dan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan inklusi;

  • Keterbatasan pengetahuan dan kompetensi guru dalam layanan akademik, khususnya kepada penyandang disabilitas;

  • Sarana dan prasarana lingkungan sekolah belum ramah disabilitas;

  • Minimnya regulasi pendukung.

2. Berwisata dengan riang gembira

ilustrasi museum (pexels.com/Eddy Powito)
ilustrasi museum (pexels.com/Eddy Powito)

Tempat wisata ramah penyandang disabilitas sudah diterapkan di kota-kota tertentu. Tujuannya mereka tetap memperoleh pengalaman menyenangkan, meskipun memiliki keterbatasan. Tempat wisata yang mengadopsi konsep ramah disabilitas antara lain:

  • Monumen nasional;

  • Museum angkut;

  • Museum Nasional Indonesia;

  • Taman Pintar Yogyakarta;

  • Kebun Raya Bogor

  • Babakan Siliwangi.

Kemudahan akses di dalam lingkungan wisata sangat membantu disabilitas fisik. Tempat wisata inklusi juga menyediakan kursi roda untuk disabilitas fisik. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora menjelaskan fasilitas fisik yang ideal untuk penyandang disabilitas yaitu:

  1. Susuran tangan bertujuan untuk meningkatkan keamanan disabilitas. Biasanya, susunan tangan dipasang di tangga, balik, lokasi landai, serta kamar mandi.

  2. Ram adalah daratan khusus dengan kemiringan dan lebar yang spesifik. Kondisi ram tidak licin, bertekstur kasar, dilengkapi rambu dan guilding block yang mudah dipahami. Jika di dalam ruangan, sudut kemiringan ram sebesar 60 derajat atau 1 banding 10. Apabila di luar ruangan, ram mempunyai kemirinhan 50 derajat atau 1 banding 12.

  3. Terdapat tempat parkir khusus kursi roda.

  4. Lebar pintu minimal 90 sentimeter

  5. Toilet sesuai ukuran kursi roda

3. Fasilitas jalan dan transportasi umum yang aman

ilustrasi trotoar luas (pexels.com/RDNE Stock Project)
ilustrasi trotoar luas (pexels.com/RDNE Stock Project)

Infrastruktur publik seharusnya didesain untuk kenyamanan seluruh pihak, tak terkecuali penyandang disabilitas. Fasilitas ramah disabilitas meningkatkan kemandirian, mengurangi risiko kecelakaan, serta kemudahan beraktifitas di luar ruangan. Jika kamu menemui trotoar untuk berjualan, sejatinya itulah penyalahgunaan fasilitas umum dan tentu merugikan kaum disabilitas.

Banyak jalanan, transportasi umum, taman terbuka yang belum mendukung pengguna disabilitas. Desain fasilitas umum yang ramah disabilitas meliputi:

  • Tersedia guilding block dengan penempatan yang konsisten;

  • Tersedia lift dan ram di pemberhentian transportasi publik;

  • Trotoar luas dan bebas hambatan;

  • Ukuran pintu bisa dilalui kursi roda;

  • Penambahan peta taktil dan signage audio di fasilitas umum;

  • Staf khusus yang membantu penyandang difabel di titik penting.

4. Rumah ibadah yang nyaman

ilustrasi tempat beribadah (pexels.com/Vija Rindo Pratama)
ilustrasi tempat beribadah (pexels.com/Vija Rindo Pratama)

Penyandang disabilitas merasakan tantangan tersendiri ketika beribadah. Bukan hanya perkara stigma masyarakat, tetapi sebagian besar rumah ibadah belum didesain khusus dengan para disabilitas. Rumah ibadah ramah disabilitas menjadi angin segar untuk pemenuhan hak spiritual. Sebuah studi dalam Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial meneliti infrastruktur di sebuah tempat ibadah di Kabupaten Belitung.

Namun, Masjid Agung Al Mabrur perlu berbenah untuk masuk kategori rumah ibadah yang ramah bagi disabilitas. Hal yang perlu dievaluasi antara lain:

  • Fasilitas di dalam masjid belum disesuaikan dengan penyandang disabilitas. Misalnya, materi khutbah tidak ada bentuk teks atau bahasa isyarat;

  • Diskusi diperlukan untuk memperoleh solusi supaya standar bangunan ramah bagi difabel;

  • Aksesibilitas masjid perlu dievaluasi. Contohnya, tempat parkir, jalur pemandu, ramp/bidang miring, tangga, tepi pengaman, tempat wudhu, toilet khusus, rambu, serta sistem informasi.

Harmoni sosial dan lingkungan bukan perkara yang mudah diselenggarakan. Semuanya memerlukan proses yang tidak instan. Apalagi kondisi Indonesia dengan beragam kebudayaan. Langkah perubahan diperlukan untuk menyelaraskan keadilan, terutama bagi minoritas dengan kondisi yang kadang terabaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Merry Wulan
EditorMerry Wulan
Follow Us