Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Overstimulated Bikin Hal Sepele Terasa Mengganggu?

Kenapa Overstimulated Bikin Hal Sepele Terasa Mengganggu?
ilustrasi overstimulated (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Overstimulated terjadi ketika otak menerima terlalu banyak informasi, suara, dan visual sekaligus, sehingga hal sederhana seperti notifikasi atau percakapan terasa mengusik.
  • Tumpukan pilihan, interaksi sosial, jadwal padat, dan urusan bertubi-tubi dapat menguras energi mental hingga seseorang lebih ingin diam daripada mencari hiburan.
  • Saat kapasitas mental menipis, pemicu kecil seperti internet lambat atau pesan beruntun mudah memancing emosi; jeda dari layar dan aktivitas membantu memulihkan energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hal-hal sederhana seperti notifikasi ponsel atau orang yang mengajak berbicara biasanya terasa biasa saja. Namun, ada momen ketika hal sekecil apa pun justru terasa sangat mengusik dan berisik.

Kondisi seperti ini sering disebut overstimulated yakni saat otak kita kemasukan terlalu banyak informasi, suara, atau visual secara bersamaan sampai kebingungan memprosesnya. Penasaran kenapa overstimulated bikin hal sepele terasa mengganggu? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

  1. 1. Terlalu banyak pilihan bikin makin jenuh

    ilustrasi overstimulated
    ilustrasi overstimulated (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Sepulang kerja, kita masih harus menentukan mau makan apa, mau menonton apa, mau membalas pesan siapa, atau mau membereskan bagian rumah yang mana. Hal-hal tersebut memang sepele, tetapi kalau harus dipikirkan terus dari pagi sampai malam, kita bisa sampai di titik di mana kita tidak ingin memilih apa pun lagi. Bahkan sekadar membuka aplikasi hiburan pun rasanya malas.

    Makanya, jangan heran kalau ada orang yang sepulang kerja justru malah bengong saja sambil memegang ponsel. Mau menonton film, bingung memilih judul apa, membuka media sosial malah bosan, sedangkan mau tidur terasa belum waktunya. Akhirnya, diam saja tanpa melakukan apa-apa terasa jauh lebih nyaman daripada mencari kegiatan lain.

  2. 2. Baru pulang, tapi masih diajak ngobrol

    ilustrasi ngobrol
    ilustrasi ngobrol (pexels.com/Ron Lach)

    Setelah seharian bekerja atau bertemu banyak orang, energi kita untuk berbicara biasanya sudah habis. Pertanyaan sederhana seperti “tadi bagaimana kerjaan kamu?” atau “besok masuk jam berapa?” bisa terasa menyebalkan ketika baru saja melangkah masuk ke rumah. Bukan karena pertanyaannya salah, melainkan kita hanya butuh beberapa menit tanpa harus menjawab siapa pun.

    Hal serupa sering terjadi saat sedang berkumpul dengan teman. Biasanya kita paling semangat ikut bercanda dan bercerita, tetapi kali ini rasanya hanya ingin duduk diam sambil menikmati suasana. Kalau dipaksakan harus terus mengobrol, kita malah bisa cepat kesal, padahal sedang tidak ada masalah apa pun dengan mereka.

  3. 3. Mau cari hiburan, tapi malah makin bosan

    ilustrasi scrolling media  sosial
    ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

    Saat lelah, membuka media sosial atau menonton sesuatu sering dianggap sebagai cara paling gampang untuk bersantai. Namun, ketika sedang overstimulated, melihat video pendek satu demi satu justru membuat kita makin jenuh. Baru beberapa menit menonton, kita sudah ingin menutup aplikasi dan meletakkan ponsel begitu saja.

    Hal ini juga sering menular ke hiburan yang biasanya kita sukai. Film yang sudah ditunggu-tunggu terasa membosankan, musik favorit malah terdengar bising, atau gim yang biasanya seru hanya dimainkan sebentar. Kadang kita memang sedang tidak membutuhkan hiburan, melainkan hanya ingin suasana tenang tanpa suara dan tontonan apa pun.

  4. 4. Urusan yang datang bertubi-tubi

    ilustrasi meeting
    ilustrasi meeting (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Pernah gak, seharian penuh kamu dikejar jadwal? Pagi bekerja, siang ada meeting, sore bertemu teman, dan malamnya masih harus memeriksa email atau membereskan rumah. Rasanya lelah sekali, bukan? Kamu belum sempat benar-benar beristirahat dari satu kegiatan, sudah ada urusan lain yang menanti untuk diselesaikan.

    Kalau hal seperti ini kamu lakukan berulang-ulang, kamu akan merasa sama sekali tidak punya waktu untuk sekadar beristirahat. Dampaknya, saat akhirnya punya waktu luang, isi kepalamu tidak otomatis bisa langsung santai. Mau tidur belum mengantuk, mau menonton tidak tertarik, melihat ponsel pun bikin makin bosan. Tubuhmu memang sudah rebahan, tapi pikiranmu masih melayang memikirkan apa yang tadi dilakukan dan apa yang harus dikerjakan esok hari.

  5. 5. Hal sepele bikin gampang tersulut

    ilustrasi koneksi internet
    ilustrasi koneksi internet (unsplash.com/Jonathan Kemper)

    Saat kapasitasmu sudah berada di titik terendah, masalah paling sepele pun bisa terasa besar. Kabel charger terselip, makanan datangnya lama, koneksi internet mendadak lemot, atau seseorang mengirim pesan bertubi-tubi bisa langsung membuat emosimu melejit. Padahal di hari biasa kamu bakal santai saja menghadapinya.

    Nanti setelah suasana hatimu tenang, baru deh kamu heran sendiri, “Duh, kenapa ya tadi aku harus se-emosi itu cuma gara-gara masalah begitu?” Jawabannya sederhana, kok, pemantiknya bukan masalah kecil tersebut, melainkan isi kepalamu yang memang sudah terlampau penuh sejak awal. Begitu kamu memberi diri jeda untuk diam dan benar-benar beristirahat, hal yang tadi bikin kesal biasanya akan kembali terlihat sebagai masalah biasa.

    Jika overstimulated bikin hal sepele terasa mengganggu, tarik napas dulu dan beri dirimu waktu untuk benar-benar lepas dari layar maupun tumpukan urusan. Tidak perlu merasa bersalah hanya karena kamu memilih untuk diam sejenak demi memulihkan energi yang terkuras. Jadi, apa hal paling sederhana yang mau kamu lakukan kalau sedang overstimulated?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More