Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Jebakan Mindfulness dan Stoikisme yang Bisa Mengikis Empati

4 min read
4 Jebakan Mindfulness dan Stoikisme yang Bisa Mengikis Empati
Ilustrasi seseorang sedang rileks (pexels.com/Lea Audrey Whitley)
  • Stoikisme tidak seharusnya menjadi alasan untuk lepas dari tanggung jawab kolektif; bersuara, belajar, dan membangun solidaritas tetap berada dalam kendali pribadi.
  • Mindfulness yang mengejar ketenangan palsu berisiko menekan kemarahan wajar terhadap ketidakadilan, sehingga mengurangi empati dan sensitivitas kepada korban.
  • Privilese, ketahanan mental, dan ketenangan batin perlu diarahkan menjadi bantuan serta aksi nyata bagi kelompok terdampak, bukan sikap pasif atau apatis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Coba kamu buka timeline media sosial hari ini, isinya pasti penuh dengan rentetan berita krisis sosial, ketidakadilan, atau tragedi yang kadang bikin dada ikutan sesak. Di tengah riuhnya simpati dan kemarahan publik, kadangkala muncul segelintir orang yang tiba-tiba menyuruh kamu untuk tetap tenang atau sekadar kembali fokus ke diri sendiri. Respons macam inilah yang akhirnya menjawab kenapa mindfulness dan stoikisme sering terkesan 'nir-empati' saat krisis sosial sedang memanas di tengah masyarakat.

Kalau kamu terus-terusan memendam perasaan validmu hanya demi terlihat 'stoik' dan kebal, ujung-ujungnya mentalmu sendiri yang bakal meledak karena terjebak toxic positivity, lho. Kamu mungkin mulai merasa bersalah saat marah melihat ketidakadilan, padahal kemarahan itu adalah insting empati yang sangat manusiawi dan wajar banget, kok. Inilah fakta mindfulness dan stoikisme yang sering dinilai nir-empati!


  1. 1. Pahami batas dikotomi kendali

    ilustrasi mindfulness
    ilustrasi mindfulness (pexels.com/Natali Smirnova)

    Inti dari stoikisme sebenarnya terletak pada konsep dikotomi kendali, yakni kemampuan memisahkan mana yang bisa diubah dan mana yang gak. Masalahnya, saat terjadi krisis sosial, banyak orang salah menafsirkan konsep ini sebagai alasan instan untuk cuci tangan dari tanggung jawab kolektif. Mereka berpikir bahwa karena kebijakan pemerintah atau tragedi dunia berada di luar kendali pribadi, maka lebih baik diam saja dan asyik sarapan cantik di kafe. 

    Padahal, bersuara, mengedukasi diri, dan membangun solidaritas bersama justru merupakan hal-hal yang sepenuhnya masih berada dalam ranah kendali kamu, lho. Guys, kamu gak perlu memaksakan diri menjadi pahlawan super yang sanggup menyelesaikan semua masalah dunia dalam satu malam, kok. Yang perlu diingat, jadikan prinsip kendali ini sebagai pelindung agar kamu gak gampang burnout saat berjuang menyuarakan kebenaran, bukan sebagai tameng untuk bersikap apatis atau egois, ya.


  2. 2. Hindari jebakan ketenangan palsu

    ilustrasi mindfulness
    ilustrasi mindfulness (pexels.com/Amie Roussel)

    Praktik mindfulness sering disalahpahami sebagai upaya paksa untuk membuat pikiran kamu selalu merasa tenang dan damai dalam segala situasi. Di tengah krisis yang menuntut respons empati, orang yang sedang terjebak ketenangan palsu ini malah sibuk bermeditasi dan seolah menutup telinga dari jeritan orang lain. Mereka menganggap bahwa kemarahan adalah emosi negatif beracun yang mutlak harus dihindari demi menjaga vibes positif di dalam diri mereka. 

    Guys, kalau dibiarkan kamu jadi gagal memberikan empati dasar yang seharusnya ditunjukkan kepada pihak-pihak yang sedang menjadi korban ketidakadilan. Padahal, punya emosi dan merasa marah saat melihat hal buruk terjadi adalah tanda bahwa kamu masih punya hati nurani yang berfungsi dengan sangat baik. Jangan biarkan obsesimu terhadap zen lifestyle malah bikin kamu bertingkah kayak robot canggih yang kehilangan sensitivitas terhadap lingkungan sekitarmu, ya.


  3. 3. Gunakan privilese dengan bijak

    ilustrasi membantu orang yang membutuhkan melalui lembaga donasi kemanusiaan
    ilustrasi membantu orang yang membutuhkan melalui lembaga donasi kemanusiaan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Salah satu kritik terbesar terhadap tren mindfulness dan stoikisme modern adalah kenyataan bahwa keduanya sering kali terasa sangat eksklusif bagi kalangan menengah ke atas saja. Sangat mudah untuk bersikap tenang dan menyuruh orang lain let it go kalau kebutuhan finansial kamu sudah aman dan hidupmu sangat terjamin. Buat mereka yang tiap hari harus berdesakan di KRL demi sesuap nasi dan terjebak kemiskinan struktural, konsep "menerima keadaan" bisa terdengar seperti ejekan yang menyakitkan. 

    Kalau kebetulan kamu punya privilese lebih berupa waktu luang, uang, atau akses pendidikan yang memadai, gunakanlah hal itu untuk merangkul dan membantu mereka yang sedang kesulitan. Jangan cuma privilese itu dipakai buat pamer ikut retreat yoga mahal di Bali atau ngopi cantik di coffee shop mewah sambil menutup mata dari isu ketimpangan yang ada tepat di depan mata. Ingat ya, empati yang sesungguhnya itu lahir dari kemauan untuk turun ke bawah dan melihat masalah langsung dari kacamata orang yang paling terdampak. 


  4. 4. Fokus pada aksi nyata

    ilustrasi membantu teman (pexels.com/Andres Ayrton)
    ilustrasi membantu teman (pexels.com/Andres Ayrton)

    Tujuan akhir dari stoikisme dan mindfulness sebenarnya bukanlah menciptakan individu pasif yang sekadar menerima nasib tanpa perlawanan atau usaha apa pun. Kedua filosofi ini mestinya membuatmu bermental baja agar kamu bisa mengambil tindakan yang terukur dan efektif saat krisis sosial berskala besar melanda. Ketangguhan mental yang dibentuk seharusnya menjadi bahan bakar utama untuk menciptakan perubahan positif, bukan malah membuatmu berdiam diri di zona nyaman masing-masing. 

    Ketika kamu gagal menerjemahkan ketenangan batin tersebut menjadi sebuah aksi nyata, di situlah empatimu mulai dipertanyakan dan dikritik habis-habisan oleh masyarakat luas. Coba bayangkan kamu sedang melihat rumah tetanggamu kebakaran besar dan butuh bantuan air secepatnya dari warga sekitar. Kalau kamu cuma duduk tenang bersila, mengatur napas pelan-pelan, dan merenungkan fana-nya dunia, ya, tetanggamu pasti bakal ngamuk dan nyiram kamu pakai air got. 

    Kamu gak perlu membuang ajaran filsafat ini sepenuhnya, kok. Namun, kamu wajib peka dan paham kenapa mindfulness dan stoikisme sering terkesan 'nir-empati' saat krisis sosial, ya. Jadikanlah ketenangan batinmu sebagai fondasi kuat untuk membantu sesama, bukan sebagai alasan egois untuk memalingkan muka dari penderitaan mereka yang butuh suaramu. Tetaplah merawat kewarasan dan kedamaian pikiranmu di dunia yang serba kacau ini, tapi jangan pernah biarkan rasa kemanusiaanmu padam begitu saja, sepakat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More